Cahaya matahari hari ini masuk ke celah-celah jendela dengan sangat terang—membuat salah satu di antara dua insan yang tengah tertidur berpelukan itu menggeliat dari tidurnya.
"Eungh.....," lenguh Anna yang mulai terbangun dari tidurnya. Bola matanya nampak bergerak-gerak—seakan mencoba untuk membuka mata indahnya yang sejak malam tadi tertutup. Dan setelah ia membuka sempurna matanya, yang pertama kali Anna lihat adalah wajah Alex yang tertidur dengan lelap sambil memeluk pinggangnya.
Sebuah senyum tipis terukir jelas di wajah cantik Anna yang alami. Dengan perlahan, Anna mulai melepaskan lengan Alex yang memeluk pinggangnya. Gadis itu kemudian turun dari ranjang king size itu dan melihat ke arah jam.
"Masih pukul 6.15 rupanya, tapi kenapa seperti sangat siang?" gumam Anna saat melihat ke arah jam dan 'mencocokkannya' dengan keadaan sekitar.
Tanpa mau memikirkan hal itu lebih dalam, Anna pun berjalan menuju toilet. Ia membersihkan wajahnya dan sedikit membenahi rambutnya yang terlihat berantakan. Setelah selesai, Anna kemudian keluar dan kembali memakai pakaian pelayannya.
Ya, walaupun Alex akan memarahinya nanti tapi, Anna tidak punya pilihan lain bukan?
Tidak mungkin juga 'kan dia keluar dari kamar sang majikan dengan hanya mengenakan kaos putih polos dan celana training milik Alex yang ia pinjam semalam?
Setelah selesai mengenakan pakaiannya, Anna pun berjalan mendekati Alex—bermaksud untuk membangunkan pria itu.
"Tu-... Alex bangunlah ini sudah pagi," ujar Anna yang masih sangat canggung memanggil nama majikannya, tentu saja!
Tidak ada yang bisa berubah total hanya dalam semalam dan itu juga berlaku bagi gadis biasa seperti Anna.
Lama Anna mencoba membangunkan Alex yang masih tertidur pulas dengan hanya menggunakan kalimat namun tak diberi respons, gadis itu pun memutuskan untuk membangunkan Alex dengan cara lain. Dengan sedikit keberanian yang ia kumpulkan di dalam hatinya, Anna pun mengulurkan tangan—menepuk pelan bahu kekar pria yang semalam telah melamarnya.
"Emm... Alex bangun," ujar Anna dengan ragu sambil menggucang pelan tubuh kekar Alex yang memiliki bobot dua kali lipat tubuhnya. Alex yang nampak terganggu dengan suara Anna akhirnya sedikit menggeliatkan tubuh. Tapi bukannya bangun, setelah itu Alex malah tengkurap—memeluk erat bantal empuknya dan kembali masuk ke alam mimpi.
"Ish! Dia benar-benar!" gerutu Anna yang mulai kesal dengan sikap Alex yang tidur seperti mumi. Dan tanpa berpikir dua kali, Anna langsung berjalan ke arah jendela besar yang ada tepat di samping ranjang Alex dan-....
Srekkk!!!!
Anna membuka gorden yang menjuntai indah ke lantai itu hingga membaut cahaya matahari pagi yang sudah bertengger dengan sangat terang masuk ke dalam kamar. Anna yang berada tepat di depan jendela pun segera mengangkat tangannya hingga sebatas mata demi menghindari kilauan cahaya matahari yang menyilaukan.
"Oh s**t! Siapa yang membuka gorden sialan itu?!" gerutu Alex yang terlihat begitu terganggu meski netranya masih nampak terpejam. Anna yang mendengarnya pun langsung berbalik—menatap Alex dengan sedikit kesal.
"Aku yang membukanya! Jadi kau harus bangun sekarang!" sahut Anna. Untuk beberapa saat, Alex membuka matanya saat mendengar sahutan gadis itu. Namun selang beberapa menit, dia kembali memejamkan matanya.
Dan itu benar-benar membuat Anna kesal!
"Jika kau tidak bangun sekarang juga, maka aku akan membatalkan pernikahan itu dan berhenti bekerja dari sini, Tuan McKenzie!" ancam Anna dengan kekesalan yang luar biasa. Dan benar saja, setelah Anna mengucapkan ancaman itu, Alex pun dengan sigap bangun dari tidurnya dan segera berjalan mendekati Anna dengan sedikit sempoyongan. Begitu ia sampai di depan Anna, Alex pun tersenyum.
"Lihat! Aku sudah bangunkan? Jadi jangan dibatalkan ya?" rengek Alex dengan nada yang persis seperti anak kecil. Melihat sikap Alex, Anna hanya bisa menahan tawanya.
Bisa- bisanya pria ini berubah menjadi lelaki manja dalam kurun waktu kurang dari 24 jam!
"Baiklah. Sekarang kau bersihkan dirimu Alex," ujar Anna seakan memerintah pria yang masih berstatus sebagai majikannya. Mendengar itu, Alex pun memajukan bibirnya—seakan tidak setuju dengan perintah calon isterinya.
"Tapi ini masih jam enam Anna," gumam Alex dengan nada yang menunjukkan ketidaksukaannya.
"Lalu kenapa?" tanya Anna dengan wajah yang begitu polos hingga membuat Alex yang melihatnya merasa gemas dan mengulum senyuman hangat.
"Airnya dingin, aku tidak suka! Aku akan mandi jam tujuh saja ya? Lagipula 'kan setiap hari aku mandinya di jam seperti itu," ujar Alex dengan ekspresi yang sangat lucu.
Mendengar itu, Anna hanya bisa diam sebelum akhirnya ia berbalik—berjalan menuju pintu. Alex yang melihatnya sontak mencekal tangan Anna.
"Apa kau marah? Baiklah aku akan mandi," ujar Alex lalu melepaskan cekalan tangan Anna dan mulai berjalan menuju kamar mandi. Anna hanya bisa mengernyitkan heran dahinya saat ia mendengar perkataan Alex.
Siapa juga yang marah?
"Jika kau tidak mau mandi sekarang tidak apa-apa, aku tidak marah," sahut Anna dengan lembut hingga membuat Alex menghentikan langkahnya dan kembali berbalik menatap Anna.
"Kau serius?" tanya Alex dan Anna pun menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, kalau begitu aku mau menyiapkan sarapan dulu ya," ujar Anna lalu kembali membalikkan badan, bersiap untuk pergi. Tapi baru saja Anna akan memutar knop pintu, Alex lagi-lagi mencekal tangannya.
"Allianna!" teriak Alex hingga membuat Anna memejamkan mata merasa sedikit kesal.
"Huh... Aku rasa dia memang memiliki hobi menghentikan kegiatan seseorang dengan mencekal tangannya!" gerutu batin Anna sebelum akhirnya ia berbalik—menatap Alex dengan senyuman yang dipaksakan.
"Ada apa lagi?" tanya Anna.
"Kenapa kau ingin menyiapkan sarapan? Bukankah di sini sudah ada banyak pelayan yang menyiapkan sarapan? Dan lagi kenapa kau memakai pakaian ini Allianna?" tanya Alex bertubi-tubi dengan tatapan mata yang menyiratkan ketidaksukaannya pada pakaian pelayan yang Anna kenakan.
Anna hanya bisa menghembuskan napas kasar ketika Alex menanyakan hal-hal yang menurut Anna benar-benar sepele.
"Alex, statusku di sini masih pelayan dan akan sangat mengherankan jika aku tidak membantu pelayan yang lain menyiapkan sarapan untukmu. Lagi pula, jika pun aku nanti sudah menikah, aku akan tetap melakukan hal ini karena tugas seorang isteri adalah melayani suaminya dan bukan hanya berpangku tangan!" jelas Anna hingga membuat Alex semakin kesal.
Tanpa aba-aba, Alex langsung menarik tangan Anna dan keluar dari kamar itu.
"Alex apa yang kau lakukan? Kau mau membawaku ke mana? Hey!" teriak Anna namun tak digubris oleh Alex. Alex terus menyeret tangan Anna hingga mereka berdua pun sampai ke lantai dasar.
"SEMUANYA CEPAT KE SINI!" teriak Alex dengan sangat kencang hingga membuat semua pekerja di mansionnya segera berlari ke arah ruang tamu—tempat di mana Alex berada.
"Ada apa ya?" bisik para pelayan.
Anna yang menyaksikannya pun hanya bisa terdiam merasa heran dengan apa yang akan dilakukan oleh pria ini. Setelah semua orang berkumpul, Alex mulai melangkah dengan masih memegang tangan Anna.
Beberapa pelayan nampak berbisik-bisik melihat keanehan yang terjadi pada Tuan McKenzie itu. Apalagi dengan keadaan Alex yang memegang tangan Anna—yang notabennya adalah seorang pelayan di mansion ini. Dan hal itu membuat para pelayan yang lainnya dilanda rasa keingintahuan yang tinggi.
"Aku akan mengumumkan sesuatu pada kalian semua hari ini," ujar Alex dengan lantang. Semua pelayan hanya menunduk menatap ke arah lantai keramik.
"Mulai detik ini, Allianna Estelle adalah calon isteriku!"
Deg!
Anna langsung menatap Alex dengan begitu terkejut. Tak hanya Anna, semua pelayan yang ada di sana pun langsung membulatkan mata—merasa tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.
Bagaimana bisa Tuan mereka yang-....
"Dan bagi siapa pun yang membiarkan dia bekerja di dapur atau pun di kebun dan tempat lainnya, maka dapat aku pastikan kalian akan mendapat hukuman saat itu juga! Apa kalian mengerti?!" ujar Alex dengan lantang hingga membuat semua orang bergidik ngeri mendengarnya.
"Baik Tuan," ujar mereka dengan serempak.
"Kalian boleh bubar sekarang!" perintah Alex. Semua pelayan pun bubar dengan perasaan diliputi rasa penasaran. Beberapa di antara mereka bahkan menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi.
Sedangkan Anna yang dari tadi hanya diam kini melepaskan tangannya dari Alex dan pergi meninggalkan Alex sendirian di sana. Alex yang melihat itu segera mengejar Anna yang kini tengah berjalan menuju kamarnya. Sesampainya di kamar Alex, Anna segera membereskan tempat tidur—seolah melampiaskan kekesalannya kepada Alex yang melakukan semuanya secara tiba-tiba.
Tidak bisakah pria itu memberinya waktu untuk beradaptasi dengan semua ketiba-tibaan ini?!
"Allianna hentikan! Itu bukan tugasmu lagi!" teriak Alex yang ada di ambang pintu. Anna pun segera menghentikan gerakkannya. Namun bukannya berhenti total, Anna malah berjalan menuju ke arah lemari dan menyiapkan pakaian Alex dengan diam.
"Allianna segera hentikan itu!" desis Alex yang mulai geram dengan tingkah Anna yang pembangkang. Anna pun menghentikan gerakkannya. Ia menatap Alex sejenak sebelum akhirnya ia menghembuskan napas pelan dan memutuskan untuk keluar dari kamar itu.
Hati Alex mencelos ketika Anna mengabaikannya. Alex sangat bingung dengan dirinya sendiri saat ini, dia baru mengenal Anna bahkan baru satu minggu yang lalu dan mengetahui namanya kemarin, tapi efek yang diberikan olehnya benar-benar mempengaruhi Alex.
Alex tidak suka jika gadis itu mengabaikannya!
Alex tidak suka jika Anna menampilkan wajah marahnya!
Intinya Alex tidak suka jika melihat Anna marah atau pun berdiam diri tanpa mengatakan apa-apa padanya!
Alex yang masih mematung di ambang pintu pun kini berniat mengejar Anna.Tapi gadis itu sudah tidak terlihat lagi di manapun. Alex segera turun ke bawah—mencari-cari sosok Anna, namun nihi!
Dia tidak menemukan Anna di mana pun!
Sial!
"Tuan apa Anda membutuhkan sesuatu?" tanya Bibi Sarah yang kebetulan melihat Alex ada di lantai bawah.
"Apa kau barusan melihat Allianna?" tanya Alex dengan tatapan dinginnya.
"Ya. dia ada di tempat para maid," ujar Bibi Sarah sambil menganggukkan kepala. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Alex langsung melenggangkan kakinya menuju tempat tinggal para pelayan yang terpisah dari rumahnya.
Bibi Sarah yang melihatnya pun menjadi heran,sebenarnya apa yang terjadi antara Alex dan Anna, kenapa Alex yang notabennya memiliki penyimpangan seksual ingin menikah dengan Anna?
__________________________
Begitu Alex sampai di kawasan para pelayan, Alex segera masuk dan memeriksa satu persatu ruangan yang ada di sana. Beruntung tempat para maid itu sedang sepi karena di jam seperti ini memang semuanya kembali bekerja di mansion Alex. Dan hal itu semakin memudahkan Alex menemukan Anna tanpa harus membuat pelayan yang lain mengetahuinya.
Lama Alex mencari ke setiap ruangan yang ada, hingga ia menemukan siluet Anna yang sedang memasukkan pakaiannya ke dalam sebuah koper. Alex mengetatkan rahangnya melihat apa yang sedang dilakukan gadis itu.
Anna yang menyadari jika ada seseorang yang membelakanginya pun segara membalikkan badan. Dan betapa terkejutnya Anna ketika melihat sosok Alex telah berdiri tegap dengan aura dan ekspresi yang menyeramkan.
"Oh kau, a-apa yang kau lakukan di sini?" tanya Anna dengan gugup karena takut melihat tatapan tajam Alex yang begitu mengintimidasinya saat ini. Alex pun berjalan perlahan-lahan ke arah Anna.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu. Apa yang mau kau lakukan dengan baju-baju yang ada di kopermu itu?" ujar Alex dengan dingin sama seperti biasanya.
"Emm.....A-aku ingin membereskan baju-bajuku saat ini, karena mulai saat aku tidak akan-..."
"Kau tidak akan bisa keluar selangkah pun dari mansion ini, karena kau adalah calon isteriku. Jadi batalkan saja niatmu yang ingin meninggalkanku, Allianna," desis Alex yang segera memotong ucapan Anna sebelum gadis itu sempat menyelesaikan perkataannya. Sedangakan Anna hanya bisa mengernyitkan heran keningnya mendengar ucapan Alex.
"Memangnya siapa yang akan meninggalkanmu? Aku membereskan semua baju ini karena kau memintaku untuk tinggal bersamamu. Tidak mungkin 'kan aku akan mengenakan pakaian ini setiap hari? Jadi jangan berpikir yang tidak-tidak, karena aku tidak akan melarikan diri atau berbuat hal semacamnya," jelas Anna sambil terkekeh pelan.
Alex yang mendengarnya seketika itu juga mengerjapkan matanya, hatinya langsung menghangat ketika mendengar Anna tidak akan meninggalkannya.
"Benarkah?" tanya Alex dengan nada senang yang bercampur malu. Anna pun terkekeh dan menganggukkan kepala.
"Hm."
Tanpa bisa dicegah, Alex langsung tersenyum lebar dan memeluk tubuh Anna dengan erat.
Anna hanya bisa terdiam kaku saat ia merasakan d**a bidang Alex mendekap tubuhnya. Jantungnya berdegub dengan kencang seiring dengan napasnya yang tertahan.
Ah, lagi-lagi ini gerakan spontan!
"Lalu kenapa kau diam saja tadi?" Pertanyaan itu langsung membuat Anna kembali ke alam sadarnya. Gadis itu berusaha untuk menromalkan kembali dirinya sendiri.
"I-itu karena aku merasa sedikit kesal dengan sikapmu yang seenaknya menarik tanganku hingga memerah seperti ini," ujar Anna sambil menunjukkan pergelangan tangannya yang memerah.
"Dan setelah itu aku ke sini untuk membereskan pakaianku, agar aku bisa pindah ke mansionmu seperti yang kau katakan."
Alex tersenyum mendengar penjelasan Anna.
"Seharusnya kau bilang sedari tadi Anna. Jika saja kau bilang lebih awal, aku tidak akan mencarimu ke sana ke mari di dalam mansion. Dan untuk pergelangan tanganmu, aku minta maaf ya," rengek Alex seperti bocah berusia lima tahun. Anna mengangguk.
"It's okay, tapi Alex, kumohon jangan halangi aku untuk tetap bekerja di mansionmu," ujar Anna dan hal itu langsung memudarkan senyuman Alex. Alex kemudian melepaskan pelukannya dan menatap Anna dengan dalam.
"Tidak!" tegas Alex yang masih keukeuh dengan pendiriannya. Dan pada akhirnya Anna hanya bisa menghembuskan napas kasar—menyetujui keputusan itu mau tidak mau.
"Baiklah aku tidak akan memaksa," ujar Anna pada akhirnya. Alex kembali tersenyum mendengar ucapan Anna yang tidak lagi membatahnya.
"Ayo! Sekarang kau bersiap dan tinggalkan saja baju-bajumu itu di sini. Aku akan memerintah seseorang untuk mengambilnya nanti," ujar Alex sambil menarik pelan tangan Anna. Sedangkan Anna hanya mengikuti perkataan Alex dan menuruti kemauannya.
Sesampainya di dalam kamar, Alex pun segera membersihkan diri. Anna yang ada di kamar lain juga tengah membersihkan tubuhnya. Bedanya, jika Alex keluar kamar mandi, ia akan langsung mengenakan pakaian formalnya, maka lain halnya dengan Anna yang harus mengenakan gaun yang telah disiapkan oleh Alex dan di make up oleh beberapa orang wanita yang sudah menunggunya di meja rias.
__________________________
"Kau sudah menyiapkan pers 'kan Baby?" tanya Alex kepada seseorang dibalik ponselnya.
"Tentu Honey, semuanya sudah beres. Kau tinggal datang dan mengumumkannya," ujar pria yang tak lain dan tak bukan adalah kekasih Alex—Matthew Linfrod Hamilton.
"Baiklah, tunggu aku sebentar lagi Honey. I love you," ujar Alex.
"Hm, love you too."
Dan Alex langsung menutup sambungan teleponnya.
Tak lama setelah itu Anna pun keluar dari dalam kamar dengan mengenakan gaun putih yang sedikit terbuka hingga memperlihatkan bahu mulusnya, tak lupa juga dengan kalung permata yang melingkar indah di leher jenjang Anna dan senada dengan anting yang dipakai. Alex tersenyum melihat penampilan Anna yang sangat berbeda.
"Kau cantik sekali," puji Alex hingga membuat Anna tersipu malu mendengarnya.
"Ayo berangkat!" ujar Alex sambil mengulurkan tangannya. Anna pun menggapai tangan Alex dan keduanya masuk ke dalam mobil limusin hitam.
__________________________
Kilatan blitz kamera menyambut Alex dan Anna begitu mereka keluar dari mobil mewah itu. Anna yang tidak terbiasa pun berusaha menghindari kilatan-kilatan itu. Alex dengan sigap membawa bahu Anna ke dalam rangkulannya dan berjalan memasuki hotel bintang lima yang akan menjadi tempat diumumkannya peresmian Anna sebagai calon isteri.
Para body guard yang mengawal keduanya pun senantiasa menjaga Alex dan Anna dari para wartawan yang mencoba mengambil gambar dari jarak dekat.
Setelah Anna dan Alex memasuki hotel yang merupakan milik keluarga McKenzie, mereka segera berjalan menuju ballroom yang memang sudah ia atur sedemikian rupa untuk mengumukan Anna sebagai calon isterinya.
Begitu pintu dibuka, lagi-lagi kilatan blitz itu menerpa keduanya. Meski kilatan itu tidak sebanyak yang ada di luar, tapi itu sudah cukup untuk menyilaukan mata seorang gadis biasa yang tidak pernah dikerumuni oleh lensa dan flash kamera sebanyak ini.
Alex menarik sebuah kursi untuk Anna, setelah itu ia pun duduk di sampingnya.
"Kau tidak usah menjelaskan apa pun, cukup tersenyum dan biarkan aku yang menjawab pertanyaan dari mereka," bisik Alex di telinga Anna. Anna pun hanya menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, hari ini saya mengumpulkan kalian di sini karena saya ingin mengumumkan sesuatu hal yang penting demi untuk menghindari spekulasi-spekulasi yang tidak diinginkan nantinya," ujar Alex memulai konferensi persnya dengan tenang karena ia memang sudah terbiasa dengan para awak media yang selalu kehausan berita seperti ini.
"Wanita yang ada di samping saya saat ini, yaitu Allianna Estelle. Dia adalah calon isteri saya dan kami akan segera melangsungkan pernikahan minggu depan," ujar Alex dengan lugas. Para wartawan pun sibuk mencatat hal yang akan menjadi perbincangan hangat tahun ini.
"Tuan bagaimana awal pertemuan kalian?" tanya salah satu seorang wartawan.
"Kami bertemu di California satu tahun yang lalu di sebuah acara bisnis, dan mulai saat itulah kami mulai dekat dan akhirnya menjalin hubungan," jawab Alex dengan santai sedangkan Anna hanya melirik sekilas ke arah Alex.
"Dia benar-benar pintar mengarang sebuah cerita," batin Anna.
"Lalu siapakah nona Alliana Estelle ini sebenarnya?Apa dia anak dari salah satu kolega bisnis Anda?" tanya wartawan yang lain lagi.
"Bukan, Allianna bukanlah orang yang berasal dari kalangan atas, dia hanya orang biasa," jawab Alex.
"Apa yang membuat Anda memilih nona Allianna sebagai calon isteri dibandingkan para wanita yang sering dikabarkan dekat dengan Anda?" lagi, ada yang menimpali.
"Dia seorang gadis cantik, polos, lugu dan sederhana. Dan hal itu yang membuatku jatuh cinta kepadanya," ujar Alex yang membuat pipi Anna merona.
Seperti itulah pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh para wartawan yang ada di dalam ruangan konfrensi pers itu. Sebenarnya masih ada banyak pertanyaan yang akan dilontarkan oleh para awak media kepada pasangan yang akan menjadi bahan hangat perbincangan di seluruh dunia tahun ini.
Sedangkan Matthew yang berada tidak jauh dari Alex dan Anna hanya tersenyum senang mengingat rencanya dan Alex akan segera tercapai dan jika saat itu terjadi maka mereka berdua bisa hidup bahagia.
"Sedikit lagi..."