RUMAH dalam keadaan sepi, seperti biasa, tanpa penjaga rumah ini yang sehari lalu pulang kampung menjenguk anaknya yang sakit keras. Kini tinggallah aku seorang diri. Tiada seorang pun peduli apakah aku hidup di sini. Orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing, tak terkecuali semua yang kukenal. Pembaca, aku sedang tidak ingin bermelodrama lagi dengan segala hal rumit yang tengah berkelebatan di kehidupanku. Jangankan memikirkan kejadian beberapa menit lalu, bayang-bayang Helenina saja tak kuasa menghindariku. Sekiranya ia tak lagi datang lantaran mati di dalam mimpiku, alih-alih ia seakan memberiku kejelasan bahwa ia masih hidup dan sedang berbahagia dengan orang-orang terkasih. Jika boleh memilih, barangkali aku mau hidup sebagai Helenina saja di masa lalu. Tampaknya, ia sudah mene

