Dua Puluh Empat Jam

5334 Words

“KENAPA muka kamu memberengut?” Gracia bertanya dengan intonasi rendah. Ia menelisikku lebih dalam dengan kedua matanya. Aku menghela napas panjang usai meletakkan cangkir kopi ke atas leper. “Saya baru memecat karyawan yang nggak becus.” Bukan hanya perdebatan panasku dengan Henri yang baru saja kupecat yang mengantarku pada Gracia hari ini. Bibir Gracia tercebik. “Selain itu?” “Deja vu itu datang lagi. “Datang lagi?” Pandangannya beralih menuju langit-langit rumahnya. Tungkainya tersilang. Barangkali ia menyibukkan pikirannya dengan segala asumsi dan persepsi yang belum pernah ada dalam kasus kliennya. “Ini kasus yang aneh,” katanya. Kami tak lagi berbicara. Ia disibukkan dengan perkaraku, sedang aku sendiri sibuk dengan pikiran lain, sesekali melirik ponsel. “Aku perhatikan, ka

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD