PADAHAL aku sudah terburu-buru masuk kantor karena ada rapat redaksi. Beberapa menit lalu rapat dibatalkan dengan alasan yang tak semudah itu kuterima. Kepala redaksi mendadak memiliki kepentingan lain dan meminta jadwal ulang untuk pengganti hari ini.
Bersama kawan redaksiku, Elsa, kami sepakat membicarakan topik yang mungkin bisa diajukan ke rapat redaksi. Pembicaraan pekerjaan terjadi di antara hiruk-pikuk pengunjung kafe. Meski obrolan pekerjaan menyelimuti kami berdua yang duduk saling berhadapan, pikiranku tiba-tiba melalang buana teringat pada mimpi semalam. Tatapanku kosong. Fokus yang telah kubangun serentak tercecer, berlarian menjauhi meja kami, sembunyi tak tahu rimbanya.
“Woy!”
Barulah aku mengedip kaget saat kudengar suara entakan tangan Elsa di meja. Ia lalu melambai, seperti hendak membangunkanku dari dunia imajinasi. Ditatapnya aku, menilai melalui kontak lensa kelabunya. Ia mengernyit.
“Eh, lo pernah nggak mimpi sesuatu yang lo rasa kayak beneran?” tanyaku, melenceng dari topik pembicaraan kami.
“Ya sering lah. Dicium Robert Pattinson, diajak kencan Andrew Garfield, diajak nonton Theo James. Wih, kayak beneran!”
“Ye… emang lo aja yang suka ngayal.” Kuputar bola mata. “Semalam gue mimpi aneh, kayak nyata banget. Gue kayak nyelam ke dalam sejarah di awal-awal abad 20, jadi Noni gitu deh. Nyokap gue Jawa asli, bokap gue Belanda yang punya pabrik dan kebun di banyak kota—”
“Ya elah, Ras.” Suara tepukan telapak tangan Elsa pada lapisan aluminium meja membuatku berkedip cepat. “Bapak lo kan emang Belanda, mak lo juga orang Surabaya. Itu mah mimpi biasa.”
“Nggak, Sa. Ini beda. Gue sadar gue lagi bermimpi, tapi sadar juga kalo gue itu orang lain di sana. Gue seperti punya kehidupan lain selain jadi diri gue sendiri. Di dalam mimpi itu, gue jadi Helenina Bregsma. Gue sadar itu mimpi, tapi di sisi lain juga sadar kalo waktu itu gue jalanin peran sebagai orang lain.”
“Lucid dream kali.” Elsa mulai meraih cangkirnya dan menyeruput sebentar. “Kalau lucid dream itu udah biasa. Lagian itu cuma bunga tidur, Larasitaku sayang.”
“Kalau entar malam mimpi gue masih kayak gitu gimana?”
“Bagus tuh. Kali aja lo ketemu cowok ganteng di sana dan nggak ngejones lagi.” Tawa Elsa meledak, menyita perhatian beberapa pengunjung. Aku melotot kesal.
“Tapi, Sa. Pas kereta kuda yang bawa gue—eh, Helenina—ke tempat ibunya yang simpenan Belanda itu berhenti di depan kerumunan, gue ngerasa ada ikatan aneh sama lelaki pribumi.” Kembali kudalami pikiranku yang mengambang ini. Mengingat bagaimana rupa pemuda yang menarik perhatianku sebagai Helenina Bregsma, sampai kereta kuda dilajukan kusir lagi. “Pas gue jadi Helenina, gue malah nggak paham sama bahasa-bahasa di sana. Padahal secara pribadi, gue fasih kok berbahasa Jawa.”
Sekarang kurasakan pandangan lekat Elsa yang seperti menusuk kedua mataku. Seolah kami tengah terlibat perbincangan serius, setara dengan membicarakan seberapa berartinya hidup di dunia ini.
“Cowoknya ganteng nggak?”
Praktis kulayangkan map di tanganku memukul lengannya, sampai membuat ia memekik pelan.
“Yang nggak bisa gue lupain itu ya tatapannya. Sayang, gue nggak sempet ngobrol sama dia.” Aku mengambil jeda dengan seruputan pertama pada minuman di depanku. “Ah, udahlah. Lupain aja.”
“Pasti kebawa buku cerita yang lo baca tuh.”
Sebetulnya aku pun berpikir demikian. Siapa tahu aku terlalu mendalami karakter Anna Nyrud yang mengalami kesadaran mimpi atau lucid dream. Di mana ia seperti memiliki kehidupan lain sebagai cicitnya, Nova, dalam keadaan sadar pula. Lama aku menyelami pikiranku sendiri, hingga tak sadar waktu. Bahkan tiap kata yang keluar dari mulut Elsa seperti menampik akal sehatku. Aku terlalu diperdayai oleh mimpi semalam.
*****
Dan mimpiku rupanya berlanjut malam berikutnya. Kudalami lagi peranku sebagai Helenina yang hari itu memakai gaun putih seperti biasa, mencium aroma mawar warna-warni yang ditanam mengitari rumah besar. Akan kubawa kau pada mimpi kali ini, di mana aku bukan lagi Larasita yang tidur di dalam kamarnya dan menjelma menjadi Helenina Bregsma yang asing....
*
Ah, mawar-mawar di sini sungguh elok. Tak setangkai pun buruk rupa. Merah, kuning, merah muda, oranye yang mungkin disebabkan oleh penyerbukan, dan sebagainya. Tak kujumpai tanaman semerbak dan semekar ini di rumah Tante Roos. Tante benci bunga, apalagi mawar berduri. Rumahnya nyaris sepi tanpa keberadaan tanaman apa pun kecuali rumput yang dipelihara dan dirawat, serta tanaman ivy yang merambati pagar.
Kupetik setangkai mawar merah, menghirupnya sambil memejamkan mata. Angin sore membikin helaian rambutku lolos dari pita yang kukenakan, menggeliat lembut di sekitar wajahku. Begitu berbalik badan, aku menjerit kecil dihadapkan oleh seorang lelaki yang sudah berdiri sambil menahan tawa melihat reaksiku.
“Helen!” pekiknya.
Kepalaku terteleng ke satu sisi, menaksir siapa kiranya lelaki di depanku ini. Ia seorang peranakan berkulit putih namun bermata pribumi. Aku menduga inilah Jasper Bregsma, abang tiriku dari Mama Rukmini.
“Ah, kau ini mengagetkan saja!” teriakku dalam Belanda. “Satu-satunya anak lelaki di sini. Sudah pasti kau ini Jasper. Abang tiriku, anak Mama Rukmini.” Telunjukku teracung di depan mukanya. Bibirku yang tadinya mengerucut bagaikan kuncup bunga mawar kian lama kian merekah menjadi seringai. Kupeluk ia dan menggoyang-goyangkan badannya.
“Adikku yang cantik.”
“Dari mana sajakah kau ini? Mamaku bilang kau jarang di rumah. Kerjanya main saja. Pulang pun kalau lapar, seperti anak kucing.”
Jasper menggumam dalam bahasa lain. Kupikir, aku harus secepatnya mengenali beragam bahasa di sini kalau tak ingin menjadi satu-satunya Indische[1] bodoh yang tak tahu-menahu soal tempat kelahiranku.
Jasper mengajakku meninggalkan mawar-mawar itu; mereka seolah berteriak dalam suara kecil memanggil namaku dan merayuku memetik mereka lagi. Namun aku lebih memilih mengikuti Jasper yang bercerita di sebelahku, mulai dari kehidupan Mama, Mama Rukmini, Papa, hingga dirinya yang bersekolah di HBS[2] bersama Totok[3], Indische, dan pribumi lainnya.
Rupanya di belakang rumah ini terdapat ladang luas lengkap dengan para pekerjanya. Orang-orang pribumi dalam pakaian seadanya saling berbisik kala menatapku. Sebagian lagi menyambut ramah dengan senyuman dan sapaan. Karena aku tak mengerti bahasa mereka, abang tiriku yang bersedia menjadi menerjemah. Kiranya, ia menjelaskan para pekerja itu siapa diriku. Sebab kemudian, wajah mereka berseri-seri dan tak henti-hentinya menyebut namaku.
“Noni Helen, Noni Helen!”
Jasper mengatakan padaku mereka begitu senang aku kembali dari Nederland setelah sekian lama berlayar pergi meninggalkan tanah kelahiran. Di antara mereka berbicara cepat dalam bahasa Jawa dan Madura, lalu Jasper menerjemahkannya untukku. Mereka bilang, mereka masih ingat betul, waktu kecil aku sering bermain ke ladang, berkuda bersama saudara-saudariku yang lain, berlarian mengejar kupu-kupu, dan menjahili para pekerja.
Aku terkikik mendengarnya. Semua cerita Jasper tertanam begitu saja. Hanya ada beberapa butir kenangan yang jatuh di dalam kepala. Hanya kudengar saja kalimat demi kalimat abang tiriku dan membayangkan bagaimana aku sewaktu kecil dulu. Pasti merepotkan di sini.
Kami lalu menuju istal. Kuda-kuda yang dipiara Papa lebih dari sepuluh, berjejeran dengan beragam warna. Aku meminta Jasper membawakan seekor kuda putih, sebab aku paling senang menunggangi kuda putih. Ia tarik seekor kuda putih untukku. Kugenggam tali kekangnya, mengelus-ngelus surai dan kepalanya seperti induk pada anaknya. Oom Kaspar memiliki istal di belakang rumahnya. Seringkali aku menunggangi salah satu kudanya. Tak seperti Tante Roos, Oom Kaspar lebih penyayang dan penyabar. Diajarinya aku banyak hal selama tinggal di Utrecht, termasuk memper-lakukan kuda dengan baik.
Di sebelah, Jasper menunggang kuda hitam. Kami menyusuri ladang luas di bawah sinar mentari yang tak begitu terik lantaran senja sebentar lagi menjarah bumi. Selama berkuda mengitari ladang, selama itu pula kuceritakan aktivitasku di Utrecht pada Jasper. Ia menjadi pendengar baik, sehingga aku terlarut dalam kisahku sendiri.
“Mama sering bertengkar dengan Papa di rumah?” tanyaku mulai meninggalkan obrolan tentang aktivitas tak menarikku.
“Tidak. Mama Menik nyaris tak pernah bicara dengan Papa. Itulah sebab kenapa Papa malas kalau pulang ke rumah dan memilih keluar kota mengurusi perusahaan dan perkebunannya.” Jasper memandang lurus ke depan, seperti menerawang pada suatu hal yang abstrak. “Papa mencintai Mamamu, Helenina. Cintanya pada Mamamu bahkan mengalahkan cintanya pada Anneke, istrinya di Amsterdam. Papa memberinya banyak hal, tak kurang satu pun. Perhiasan, baju mahal, tusuk konde emas, kasih sayang, bahkan salah satu perusahaannya. Mamamu tak peduli pada semua itu selama Papa tidak membawamu kembali kemari. Tak sudi Mamamu bicara pada Papa selagi kau tak kembali ke Hindia.”
Entah berapa putaran yang kami lalui, aku tidak begitu peduli. Perhatian dan konsentrasiku tercurah pada abang tiriku yang tampaknya tak suka pada sikap Papa yang pilih kasih.
“Kalau bukan karena Mamamu, Papa sudah mengusirku pergi dari sini, ikut bersama Mamaku, dibawa ke kota lain sejauh mungkin,” lanjutnya.
“Kenapa begitu?” aku tak kuasa menahan rasa penasaran.
“Papa hanya ingin memiliki Mama Menik. Dia ingin menikahinya secara sah dan menjadikan kau anak sah pula. Dia rela menceraikan istrinya demi Mamamu—tapi Mamamu memintanya untuk mempertahankan Anneke. Mamamu mengancam akan pergi dari rumah kalau Papa bersikeras mengusir Mama dan aku. Kami hendak ditempatkan di Batavia[4], tapi kami tak mau meninggalkan Surabaya. Mama bahkan menangis tersedu-sedu setiap malam, memohon pada Papa agar tak dikirim ke Batavia. Mama tidak ingin jauh dari keluarganya di Surabaya, walaupun dia sudah dijual orangtuanya sendiri.”
Kini aku mengerti mengapa Mama begitu benci pada Papa. Aku hanya diam, tiada sepatah kata terlontar dari bibirku. Kubiarkan Jasper saja yang mengambil alih dengan cerita-ceritanya.
“Mama Menik meminta Papa membatalkan rencana itu. Kau pasti sudah tahu kan kalau Papa keras kepala? Mamamu mengancam akan minggat dari rumah kalau tak dikabulkan.”
“Lalu kenapa surat-suratku dibakar Papa?” nadaku melunak menyedihkan, terbawa angin sore yang membawa aroma kedamaian.
“Mamamu mengancam akan pergi kalau kau tak dikembalikan padanya. Aku sendiri saksinya, Helen. Aku sendiri yang sering melihat Papa menerima surat-surat darimu yang dibawa Parjo. Semua suratmu habis dibakar. Aku melihat dia memberi Mamamu surat palsu yang ditulis entah oleh siapa dan mengatakan kalau kau lebih senang tinggal di Utrecht ketimbang di tempat mengerikan seperti Hindia. Mamamu percaya bualan yang dibuat Papa. Tiap malam kudengar sendiri tangisannya, menyebut-nyebut namamu, bahkan bersenandung, Helen. Kau ingat Mamamu sering menyanyikan lagu pengantar tidur untukmu? Dinyanyikannya lagu itu tiap malam, tiada jemu.
“Kini kau datang padanya, kau kembalikan keceriaan Mamamu. Dan aku yakin, Mamamu tidak akan melepasmu lagi. Tak akan dibiarkan kau direnggut darinya.”
Cerita Jasper merasuk ke pedalamanku, menggelitik sesuatu di dalam sana hingga membuatku berpikir lama sekali. Tak tahulah mengapa Papa setega itu pada Mama, kecuali ia ingin menikahi Mama secara sah. Aku ditahan di Utrecht demi menjauhkanku dari lingkungan Inlander[5]. Baru kutahu alasan lain ia mengirimku ke Nederland karena persoalannya dengan Mama, yang tidak mau menjadi istri sahnya.
Jasper menghentikan pacuannya, begitu pula denganku. Kutengok suatu arah, mengikuti arah pandangannya. Ia lantas berseru memanggil dua lelaki di seberang ladang, dan berkata dalam Belanda yang cepat meminta kedua lelaki itu mendekat pada kami. Perlu kusipitkan mata dan memajukan kepala lantaran penasaran pada dua lelaki yang sepertinya dikenal abang tiriku. Begitu keduanya sudah dekat, aku rasai kerongkonganku seperti digelitik sesuatu sampai membuatku terbatuk. Salah satu dari mereka tak asing di pikiranku. Baru pagi tadi saat kereta kuda yang mengangkutku berhenti, kulihat ia berdiri merangkul kawan Totoknya sambil mengamatiku tak berkedip.
“Baru saja kami ingin mengajakmu pergi, rupanya kau ada tamu, Jas,” salah satu kawan Jas yang berwajah Eropa melirikku. Tanpa gerak, tanpa kata, aku diam bagaikan boneka.
“Ini adik tiriku, anak Mama Menik yang baru datang dari Nederland.”
Kurasai tatapan berbeda kedua lelaki itu. Mereka lalu berbicara menggunakan bahasa Jawa, yang tentu sama sekali tak kumengerti.
“Oh! Rupanya dara jelita ini adikmu, Jas? Baru tadi pagi kami melihatnya, di dalam kereta kuda. Amboi, elok benar rupa dewi ini. Pantas kau langsung suka padanya.” Si Totok yang kali ini menyeletuk menggunakan bahasa Belanda menyikut kawan pribumi di sebelahnya. Praktis mukaku seperti terkena siraman minyak panas. Aku tersenyum malu-malu mendengar pujiannya. Bukan malu lagi, kusembunyikan muka merah ini dengan berpaling.
“Sssh!!” Si pribumi membelalakkan mata, memperingatkan kawan Totoknya biar tak keceplosan bicara.
“Aih kau ini, baru lima menit lalu tak henti-hentinya membicarakan dara jelita di dalam kereta kuda. Sekarang belagak seperti anak kucing. Tengok, itu dewimu! Kini dia berada di depanmu!” Si Totok terbahak diikuti abang tiriku dari atas kudanya.
Lagi-lagi aku menyembunyikan mukaku dari obrolan bocah-bocah ini. Aku dan Jasper melompat turun dari kuda ketika Jasper memperkenalkan aku pada kedua temannya. Si Totok mengulurkan tangan meminta perkenalan dariku dan menyebut namanya, Martijn van Eeden. Tak lama kujabat tangannya, kawan pribuminya melanjutkan memperkenalkan diri.
“Ario,” katanya, tanpa melepas tanganku. Kutunggu ia melanjutkan, kiranya melupakan nama keluarganya. Namun tak urung kudengar lanjutan, alih-alih kurasai pandangannya yang menjarah kedua mataku, hingga kulihat pantulan bayang-anku di kedua mata itu.
“Tak ada nama keluarga?” tanyaku pada akhirnya.
“Tak ada.” Baru ia bersedia melepas tanganku.
Abang tiriku berjalan menarik kudanya dengan Martijn yang menemani ia mengobrol. Sedang aku menarik kudaku, ditemani Ario yang melangkah lambat-lambat di samping. Rupanya abang tiriku dan Martijn sengaja menjauhi kami berdua. Kedua bocah itu berbisik-bisik dan tertawa, berjalan lebih cepat daripada diriku yang terhambat gaun putih ini.
“Kau kawan sekolah Jasper?” tanyaku padanya setelah sekian menit saling membisu.
“Ya, kami satu sekolah, di klas[6] yang sama.” Artinya ia lebih tua satu tahun dariku—sepertinya. Pandanganku terbagi antara ladang luas dengan Ario yang mengikuti langkah lambatku. “Aku melihatmu di dalam kereta kuda tadi pagi. Kukira kau tak melihatku…”
“Aku melihatmu,” balasku cepat. “Kulihat kau mengamatiku bersama temanmu, si Martijn. Tak kupercaya kita bertemu, malah bicara langsung seperti ini.” Kusingkirkan helaian rambut mengganggu yang diterbangkan angin. Tampaknya ikatan pada rambutku tidaklah rapi. Aku berhenti sementara waktu, menarik pita rambutku, mengibasnya, menyisirnya menggunakan jari-jemari, sebelum mengikatnya ke atas. Selama kulakukan itu, Ario mengamatiku tak berkedip barang sedetik. Dipandangnya aku, bagai mendamba ratu.
“Kau anak Pieter Bregsma, artinya kau masih berkeluarga jauh dengan Sri Ratu.”
Sungguh, aku tak suka orang-orang mulai berkata macam itu. Sebab mereka akan mengingatkanku tentang status sosialku. Mana mungkin anak dari gundik yang tidak sah dianggap sebagai golongan bangsawan Belanda? Ratu Wilhelmina pasti tak sudi.
“Anggaplah aku ini pribumi, tidak pernah menjadi bangsawan.” Langkah kulanjutkan, diikuti olehnya yang tetap setia menemaniku lambat-lambat. Harusnya kami bisa sampai di seberang ladang dengan berkuda. Tapi sore yang damai seperti menyelimutiku dalam kenyamanan kala berjalan berdua dengan pribumi di sebelahku ini. “Aku tak mau orang-orang menganggapku bagian dari keluarga kerajaan. Lagi pula, silsilahnya masih jauh.”
“Jasper sering bercerita padaku dia punya kakak dan adik yang cantik-cantik. Hanya dia yang menjadi satu-satunya anak laki-laki di keluargamu. Tak bermaksud ikut campur, Juffrouw Helenina Bregsma—”
“Nina. Bel me Nina, alstublieft[7].”
Ia mengangguk setuju. “Oke, Nina. Aku tak bermaksud mencampuri urusan keluargamu. Antara aku dengan Jasper, kami telah lama bersahabat sejak duduk di bangku ELS[8]. Aku kenal baik abangmu, tahu betul bagaimana keluargamu.”
“Dan tahu betul tentangku? Bercerita apa saja Jasper padamu tentang kakak dan adik perempuannya?” Mendadak aku khawatir Jasper banyak bercerita ngelantur.
“Tidak banyak. Hanya sekenanya. Yang kutahu, gundik-gundik Papamu dikirim ke Fort de Kock[9], Bandung, dan Jepara bersama anak-anak mereka. Kalau Nyai Menik tak pandai merayu hati Papamu, barangkali Jasper dikirim bersama Nyai Rukmini ke Batavia.” Ario tersenyum melihat dahiku yang mengernyit. “Mamamu memang memiliki rasa simpati yang besar pada pribumi di sekitarnya. Kadang kala, Nyai akan membawa masuk beberapa anak kecil yang kelaparan dan mengajaknya makan bersama kalau Papamu sedang tak ada di rumah.”
Aih, sungguh tak patut aku mendengar fakta itu dari mulut orang lain. Anak macam apa aku ini tak tahu-menahu soal ibuku sendiri? Tak kusangka, Mama begitu peduli pada nasib pribumi yang sengsara di sekitarnya.
“Ia pandai merayu dan memikat hati pria-pria Belanda dengan kecantikan khas kembang desanya. Bahkan mereka tidak peduli akan berhadapan dengan siapa kalau berani menyentuhnya,” ia melanjutkan.
“Benar kau tak punya nama keluarga?” Hatiku berkata ia berdusta dengan menyembunyikan informasi tentang dirinya padaku.
“Sungguh, Nin. Tak ada. Aku bukan bangsawan.”
Kutatap ia penuh selidik. Detik selanjutnya kuhentikan langkah, meminta ia berterusterang padaku dengan menyebutkan nama terangnya. “Pernah dengar ungkapan mata adalah jendela hati? Kurasakan kebohongan memancar dari matamu itu. Kau bukan pendusta yang baik.”
“Lalu menurutmu, apa nama keluargaku?” pertanyaan itu malah dikembalikan padaku.
“Nama keluarga, sungguh kau tak punya? Seperti aku, Bregsma.” Kuingat-ingat cerita Jasper beberapa waktu lalu, tentang HBS di Hindia dan murid-murid yang diperbolehkan bersekolah di sana; Totok, Indische, dan elit pribumi. Tak sembarang pribumi bisa masuk HBS kecuali dari kalangan penting. Tanpa nama keluarga, pribumi dilarang bersekolah di HBS. “Maafkan aku, tapi kata abang tiriku, pribumi tanpa nama keluarga, tanpa nama Kristen, dilarang bersekolah di HBS.”
Ia bergeming untuk beberapa detik; barangkali memikirkan balasan apa yang patut kuberikan, atau berusaha berkelit dari pertanyaan tak sopanku. Aku menunggunya memberikan ba-lasan, sambil sesekali menengok ke ufuk barat, tempat sang surya sedikit demi sedikit menyusup di balik gumpalan awan jingga.
“Untuk sekarang tak perlu dulu.”
Aku mendesah putus asa, mengalah padanya. Artinya ia memang berasal dari kalangan bangsawan Jawa. “Baik, maafkan aku atas sikap tidak sopanku.” Kutarik lagi kuda putihku, melanjutkan langkah melewati ladang menghampiri istal.
Tak kusadari kami sudah hampir sampai di rumah. Aku berikan kudaku pada seorang pria dengan clurit di tangan, menatap selidik pada Ario sementara waktu. Kukira mereka tak saling kenal, nyatanya mereka justru berbincang-bincang sebentar dalam bahasa lain.
“Itu kaki tangan Mamamu. Masa kau tak kenal?” pertanyaan Ario membuyarkan lamunanku pada si pria. Aku menggeleng, tanda memang tak mengenal pria tadi.
Tak kutemui Jasper dan Martijn di istal. Sekiranya kedua lelaki itu sudah enyah dari istal, menuju rumah untuk persiapan makan malam. Saat kulanjutkan langkah kaki hendak melintasi pekarangan, aku menoleh ke belakang mendapati Ario yang tak beranjak.
“Mengapa kau berdiam saja? Mari masuk,” ajakku.
“Tidak, Nin. Aku tak pernah berkunjung ke rumahmu kalau Papamu sudah pulang dari luar kota,” jawabnya. “Apa kau tak tahu kalau dia membenci pribumi, terutama padaku yang dia ketahui telah lama menjadi teman bermain anaknya? Kurasa, dia akan lebih murka kalau tahu aku mengobrol bersama putri kesayangannya.”
“Kau ini bicara apa?” nadaku meninggi. “Ayo, masuk ke dalam dan ikut makan malam bersama kami. Mana mungkin kubiarkan kau pulang begitu saja.” Kutarik tangannya, memohon dengan pandangan mengibaku.
“Lain kali saja, Nin. Aku tidak ingin menimbulkan keributan. Kapan-kapan saja aku datang lagi.”
Ia begitu keras kepala. Tidak baik memaksa kehendak orang. Jadi kubiarkan kali ini ia tak bertandang ke rumah. Meski begitu, tatapan matanya masih menjelajahi rumah besarku, sesekali melirik pada jongos-jongos yang bekerja di sekitar rumah itu; ada yang mengamati kami, ada yang tidak peduli. Ia berpamitan padaku, kirim salam untuk Jasper, Martijn, dan Mama. Kupandangi kepergiannya tanpa bergerak, tanpa pula berkedip. Sampai ia menghilang di balik kelokan sebelum melihatku yang terakhir kali dan melayangkan senyuman.
*
Aku rasa, Jasper tahu mengapa Ario tidak bergabung bersama kami di meja makan ini. Martijn tak begitu mempermasalahkan ditinggal pulang Ario lebih dulu. Malah ia senang dapat menjarah semua makanan enak yang dipersiapkan babu di atas meja makan. Mama duduk di sebelah Mama Rukmini. Tidak seperti abang tiriku, Mama Rukmini tampak diam saja tahu aku datang kemari. Tiada sapaan atau sambutan hangat kecuali tatapan monoton dan senyum sekadarnya. Kurasa, ia tidak begitu suka dengan kedatanganku.
Di meja makan, kami tidak bicara apa pun. Papa melarang kami bicara selama makan malam berlangsung. Adab bangsawan Eropa yang ia junjung tinggi di tempat ini. Lagi pula aku yakin Mama tak mau banyak bicara di meja makan.
Makan malam kami lewati dengan keadaan suram. Hanya bunyi musik Eropa milik komposer ternama Johann Sebastian Bach yang terputar dari phonograf di dekat tempat makan.
“Kalau liburan sekolahmu sudah berakhir, lekas kembali ke Nederland,” Papa yang menyelesaikan makannya membuka mulut.
Kepalaku terangkat menatapnya. Aku ingin membantah, namun tak enak hati pada Martijn yang mulai mengelap mulutnya. Lirikan mataku tertangkap Jasper. Seolah dapat mendengar pikiranku, ia ajak kawannya pergi dari meja makan untuk belajar bersama di kamarnya. Begitu memundurkan kursi dan berpamitan, kedua lelaki itu berlari ke atas. Tinggallah aku, Mama, Mama Rukmini, dan Papa di meja makan.
“Aku tak mau, Pa,” kataku lirih. “Aku ingin menetap di sini dan sekolah di sini.”
“Di sini bukan tempat yang baik untukmu, Helenina! Berapa kali kubilang padamu!” ia membentakku kasar, di luar dugaanku, sampai membuat aku berjengit dari tempat dudukku.
“Pelankan suaramu yang menggelegar itu,” Mama mulai angkat bicara. Tak mau terlibat pembicaraan di meja makan, Mama Rukmini pamit meninggalkan kami. Aku tertunduk mengamati buku-buku jariku, tidak berani mengangkat kepala. “Dia tak akan kembali ke Utrecht. Akan kurawat anak ini dengan tanganku sendiri.”
“Kau tak berhak menentukan masa depannya. Mau kau jadikan apa anak ini? Mau kau samakan seperti Inlander di luar sana, hah? Aku ingin mendidiknya menjadi wanita bangsawan yang dihormati di Belanda.”
“Meski kau sekolahkan aku sampai mati pun, aku tak lantas jadi Eropa murni, Pa,” nadaku meninggi dan tenggelam dalam getaran samar. Kuberanikan diri mengangkat kepalaku, menatapnya berkaca-kaca. “Aku tetap dipandang rendah.”
“Sekali Papa bilang harus, kau harus kembali! Mati-matian aku meminta Roos menyekolahkanmu di HBS elit, sekarang kau malah ingin merendam dirimu ke dalam lumpur, hah?” Telunjuk Papa teracung pada Mama. “Mau kau sepertinya? Mau, Helenina?”
Suara isak tangisku kian mengeras. Aku memohon dalam hati agar Mama mempertahankanku di sini, namun ia tak beranjak, malah diam seribu bahasa dengan kepalan tangan yang menggenggam erat sendok. Tatapannya yang semula kosong mulai dipancari kemurkaan. Bola mata nanar itu melirik Papa, siap mengaum dan menerkam pria bertubuh tinggi di depan kami.
“Kau boleh hina aku sepuasmu, Pieter. Tapi kau tak akan bisa memisahkan Nina dariku, tidak untuk yang kedua kalinya. Tidak untuk selamanya,” geramnya. “Sekali lagi kau paksa dia kembali ke Nederland, aku tak segan-segan membawanya kabur. Bukan begini caramu mendidiknya menjadi wanita bangsawan yang ingin kau banggakan. Bukan! Biarkan dia bebas menentukan pilihan hidupnya, berhenti memerintahnya untuk menjadi orang lain!”
“Dia bukan orang lain, God!” Papa menggebrak meja dengan kasar. Lagi-lagi aku berjengit, menahan suara isak tangisku dengan menundukkan kepala. “Dia kudidik menjadi Eropa demi kebaikannya pula! Sadarlah, Menik, sadarlah. Tak ada yang bisa diharapkan Helenina di negeri ini selain kesengsaraan! Di Belanda, dia memiliki segalanya!”
“Kalau memang tak ada yang bisa diharapkan dari negeri ini, mengapa orang-orang keparatmu sudi datang dan menjajah kami, hah?!” Pada akhirnya Mama berteriak, meledakkan emosinya dengan berdiri dan mengempaskan sendok yang mulanya ia genggam. “Selamanya, Pieter, selamanya anak ini tidak akan menjadi Eropa! Dia anakku dan dia pribumi!”
“Terserah, aku tak mau berdebat denganmu masalah ini. Untuk yang keseratus sekian kalinya.” Papa melenggang gusar meninggalkan aku dan Mama.
Kuangkat kepala, menatap Mama mengiba. Air mata bercucuran di kedua pipi, begitu lembap dan panas. Aku merajuk menarik lengannya, meminta agar ia dapat mempertahankanku tetap di sini.
“Sudah, Nin. Jangan merajuk begini. Mama tak akan biarkan kau dibawa lagi ke Nederland. Tidak lagi.”
*
“Non, ada surat buat Noni Helen.” Salah seorang babu menyodorkan padaku secarik kertas yang dilipat rapi.
Sejak pagi aku berdiri di serambi, menikmati hamparan hijau di depan sana yang ditanami sawah dan tebu. Pagi-pagi begini, Elien menyapa para pekerja sambil jalan-jalan sampai keluar gapura. Awalnya ia mengajakku, namun aku menolak dengan alasan masih lelah. Surat di genggaman wanita berkemben di depanku yang membungkukkan badan kuraih. Melangkah menghampiri kursi, aku mulai membuka dan membaca barisan kata yang ditulis dengan huruf Latin dalam bahasa Belanda. Beginilah isinya:
Helenina yang baik, maafkan aku yang lancang mengirim surat padamu. Namun aku tak dapat menahan diri mengungkapkan pujian-pujian ini padamu. Belum pernah kulihat kecantikan tiada tara yang dimiliki seorang Indische seperti kau. Hati ini tak pernah tenang sepulang dari rumahmu. Di dalam kamarku, aku memikirkan kau, Nin. Hanya wajah laksana Drupadi dan suara gemerincingmu yang membayangiku, mengganggu pedalaman jiwaku, hingga mataku tak sanggup kukatupkan barang sedetik.
Helenina, sebagai seorang Inlander, aku tak berharap lebih bisa mengenalmu, yang seorang dewi berderajat tinggi. Namun sudi kiranya kau membalas surat ini, Nin?
Ario
Selama membaca surat itu, bibir ini tidak berhenti menggoda hati dengan sunggingan senyum merekah. Wajahku memanas, merona bagai kelopak mawar merah. Kulipat kertas itu, lalu buru-buru masuk ke dalam memanggil Mama. Sebab, aku tak begitu paham mengapa jantungku berdebar bagai genderang ditabuh.
[1] Indische (Belanda) = Peranakan Hindia dan Belanda.
[2] HBS (Horgere Burger School) = Sekolah tingkat SMA di masa Hindia Belanda. Bahasa pengantarnya bahasa Belanda. Hanya orang Eropa, Indo, dan elit pribumi yang dapat bersekolah di sini.
[3] Totok = Belanda asli.
[4] Batavia (Belanda) = Nama Jakarta semasa kolonial.
[5] Inlander (Belanda) = Pribumi.
[6] Klas (Belanda) = Kelas.
[7] Tolong, panggil aku Nina.
[8] ELS (Europeesche Lagere School) = Sekolah Dasar. Menggunakan bahasa Belanda sebagai pengantar.
[9] Fort de Kock (Belanda) = Nama Bukittinggi era kolonial.