Aku tak tahu bagaimana memanggilmu dengan sopan, kuharap kau bersedia kupanggil dengan namamu saja. Suratmu telah sampai dan k****a. Aku tidak pernah keberatan mendapatkan teman baru, biarpun mereka pribumi. Tidak banyak orang di Nederland yang sudi memujiku seperti kau. Sungguh kau buat aku tersipu. Jangan kuatirkan Papaku. Beberapa hari ini dia hendak menuju Fort de Kock menengok Mama Ratmi dan kakak perempuanku, Elisabeth. Kau boleh bertandang ke rumahku. Abang pasti senang kau ajak bermain atau belajar.
Nina
Begitu surat usai kutulis, aku melipat kertasnya dan menitipkan pada Subarja, kaki tangan Mama yang setia padanya layaknya Parjo pada Papa. Lelaki itu mengangguk patuh, langsung melesat meninggalkan kamarku. Iringan musik dari phonograf di samping meja tempatku menulis merambat di udara sampai pada pendengaranku, membuatku tertegun sementara waktu, bersendang dagu mengamati langit-langit tanpa kutahu apa yang tengah mengganggu pikiranku. Kecuali teman abangku, si pribumi itu.
“Hmm… dari tadi kerjamu diam saja di kamar. Tidak mau keluar, Nin?” suara Mama terdengar di ambang pintu menyentakku dari kesadaran. Aku menoleh padanya dan mendesah pendek.
“Soal surat tadi, Ma. Aku baru mengirimkan balasannya.”
Mama mengambil tempat di sebelahku. Tatapannya begitu dalam dan hangat. Kami lama tidak bertemu. Walau sedikit asing, masih ada perasaan nyaman yang melebur ke dalam peredaran darahku. Tangannya mengelus rambutku yang baru kusisir sebelum tidur.
“Maafkan Mama, Nak,” katanya dalam Jawa, lalu menerjemahkannya ke Belanda. “Het spijt me voor alles[1].”
“Ma, tak usah kau minta maaf padaku. Toh aku sudah menjalani. Kulewati baik-buruknya di Nederland dengan ketabahan. Aku bisa mandiri. Tanpa kau, tanpa Papa, tanpa kakak-kakak dan Mama-Mama lainnya. Tak inginkah Mama melihatku menjadi perempuan mandiri?” Aku ingin menghibur Mama dengan ucapan yang kuharapkan tak keluar dari mulutku. “Mungkin, Papa menginginkan yang terbaik. Akan kulakukan kemauannya, Ma. Asal kau dan Papa bahagia.”
“Apanya yang bahagia?” nada Mama berubah sentimen. “Kau bahagiaku, Nina. Kau, anak yang kukandung dan kubesarkan dengan sungguh-sungguh. Papamu tiada pernah menemani Mama selama mengandung kau, Nina. Yang ada di pikirannya hanya pekerjaan. Memang otak kapitalis yang seenak perut memerintah sana-sini.” Lagi-lagi Mama membuang muka. Kebenciannya terhadap Papa tampaknya telah mendarah daging. Kendati putri dari mereka, aku tidak tahu harus berbuat apa. Mereka toh beda ideologi, tak akan bisa satu.
“Ma, sejujurnya aku tidak mau kembali ke Utrecht,” bisikku. “Aku ingin di sini, tapi aku tak mau kau dan Papa saling mencaci.” Aku bimbang. Dalam lubuk hatiku, ingin kumenetap di Hindia, di Surabaya, bersama Mama dan kunikmati kehidupan baru jauh dari cercaan orang Eropa. Namun, tak mau pula kudengar perdebatan Papa yang berakhir dengan kalimat yang menyakiti Mama. Lantas harus apa aku ini, God?
Mama terdiam. Pandangannya nyaris kosong. Kepalanya menengadah ke atas, lalu ia lepaskan napas yang semula ia tahan di paru-parunya. “Sudah malam, lekas tidur.”
“Aku kesulitan tidur.”
“Masih ada kebiasaanmu itu. Mau Mama nyanyikan pengantar tidur lagi biar kau kembali seperti kanak-kanak?”
Aku terkikik pelan. Kuanggukkan kepala mengiyakan, lantas bergerak cekatan menuju ranjang. Gaun tidurku menyapu lantai, sebelum terkibas ke atas saat kurebahkan tubuhku dan Mama mulai memosisikan diri di samping.
“Sudah lama Mama tidak menidurkanmu, Nin,” Mama berbisik di sampingku. Jemarinya mengusap lembut pipiku. “Bagi Mama, kau masih bayi yang renta.”
“Ah, Mama. Aku sudah besar, bukan bayi yang kau manja lagi.” Kugelayutkan tanganku pada lengan Mama dan menyandarkan kepala di sana. Mama mengusap rambutku, mengelus-elus tangan dan kepalaku.
“Katakan Mama egois, Nak. Tapi Mama tidak mau kau pergi ke Nederland. Mama akan pertahankan kau agar Papamu tidak mengirimmu kembali. Akan Mama sekolahkan kau di EKS[2]. Mama ingin kau menjadi guru, seperti impian Mama dulu.”
“Mama ingin jadi guru?” Kutengadahkan kepala. Kedua mata bak berlian hitam kami saling tertumbuk menyatu dalam kehangatan yang absolut. “Kenapa Mama tidak bersekolah saja?”
“Bagi perempuan pribumi—terutama Jawa—kami dilarang bersekolah tinggi. Setelah dirasa cukup umur, kami akan dipingit untuk segera dipinang. Orangtua Mama hanyalah petani miskin yang tak punya apa-apa. Jangankan biaya sekolah, makan sehari-hari saja susah. Aku terpaksa mengiyakan perintah bapakku, dibeli pengusaha Belanda yang tertarik padaku.
“Aku dan papamu sekali bertemu di ladang, Nin. Aku tak pernah suka pada orang berkulit putih. Memang banyak lelaki Belanda yang kaya—mulai dari serdadu, pengusaha, jenderal, sampai bangsawan—yang ingin membeli Mama untuk dijadikan gundik mereka. Tapi kuasa Pieter, papamu, lebih dari siapa pun. Dengan emas yang melimpah, cukup sebagai tonggak seumur hidup terangkat dari lubang kemelaratan bagi orangtuaku, aku dibeli papamu. Aku tak mau melihat orangtuaku menderita, Nin. Biar aku mengalah, asal adik-adikku tidak bernasib sama. Rupa-rupanya, tidak sesuai kemauanku, adik-adikku pun dinikahi kompeni dan dibawa ke Nederland. Tiada pesan, tiada kabar, mereka raib begitu saja.
“Papamu bersikeras ingin menikahi Mama, Nin. Sungguh, Mama menolak bukan karena telanjur benci pada orang kulit putih. Tapi Mama menghormati dan menjaga perasaan gundik-gundik papamu yang lebih tua. Yuk Ratmi, Yuk Sentuk, Yuk Ningsih, dan Yuk Rukmini. Apalagi Anneke yang tidak memiliki putra-putri, terlantar di Amsterdam tanpa kasih sayang suaminya. Biarpun aku sangat ingin kau dapat diakui oleh hukum Belanda sebagai anak papamu yang sah, aku tetap memikirkan bagaimana perasaan perempuan-perempuan yang hatinya perih, Nin. Percayalah, tak ada perempuan yang mau dipilih kasih oleh pria yang meng-emong-nya, meskipun hanya simpanan.
“Kalaupun Anneke datang kemari dan Papamu memilihnya, kami harus rela meninggalkan rumah ini. Kami tak punya hak apa-apa, termasuk anak-anak yang kami lahirkan di antara hidup dan mati. Itulah derita sebagai gundik, Nin. Siang-malam Mama berdoa agar nasibmu baik, jangan seperti Mama.” Napas Mama kurasakan di sekitar wajahku. Kehangatannya seperti diracik dari kerinduan dan kenestapaan yang ia hadapi. “Mama ingin kau menjadi lebih baik, tapi Mama tak suka cara Pieter mendidikmu. Kau tidak boleh bermental Eropa, tapi tak patut juga bermental Inlander. Jadilah manusia bijak yang dapat menyeimbangkan keduanya, Sayangku. Jadilah pribumi yang berpikiran maju. Pintar, tapi tak lupa pada jati dirimu.”
“Ma,” aku meremas lengan Mama. “Aku anakmu.”
“Ya, Anakku. Kau seorang perempuan Jawa. Anakku.” Mama mengecup puncak kepalaku. Sambil mengusap rambutku tiada lelah, mulai ia dendangkan lagu pengantar tidur, seperti yang sering dinyanyikannya sewaktu aku kecil dulu.
*
Helenina, suatu kehormatan bagiku mendapat balasan darimu. Andai kau tahu, Nina, aku di sini tidak berhenti tersenyum bagai orang sinting. Banyak perempuan Totok dan Indo di sini, tapi tak ada yang memiliki tabiat seperti kau. Sebagian perempuan (juga kawan lelakiku di HBS) Eropa, Totok, maupun Indische tak sudi berdekatan dengan pribumi. Kau beda dari mereka, beda dari Papamu, kau seperti abangmu.
Kalau kau mau, Nin, aku akan menunggumu di De Begraafplaats Peneleh sore ini.
Ario
“Ma, kau tahu di mana De Begraafplaats Peneleh[3]?” sore setelah surat kuterima dan k****a—diantar oleh Subarja—aku bertanya di serambi rumah kala kulihat Mama berbincang-bincang dengan para pekerja yang mengantar bertimba-timba s**u perahan.
“Dekat hutan, tinggal berjalan beberapa meter ke depan sampai di sawah-sawah. Untuk apa kau tanyakan kuburan itu?”
“Tak apa, hanya ingin melihatnya.”
Tidak memerhatikan air muka Mama yang terheran-heran, aku berlarian kecil mengangkat gaunku. Suara Elien terdengar serak dan lantang di belakang menanyakan arah tujuanku, lalu kubalas ia dengan seruan tanpa menoleh,
“Wachten[4]!”
Mentari berada di balik langit jingga saat aku berlarian kecil menyusuri jalan berkerikil yang dilalui kereta kuda, bendi, dokar, sepeda, dan lalu lalang para pekerja. Beberapa di antara mereka menyapaku ‘Halo, Noni Helen’ sambil melepas senyum ramah yang kubalas dengan senyum merekah pula.
Kuburan itu sudah dapat kulihat. Makin kupercepat langkahku sampai kudengar bunyi kresekan dedaunan dan kerikil yang kuinjak. Celingukan kian kemari sambil berjalan melewati batu-batu nisan berukuran besar, aku mencari-cari si empunya surat yang memintaku kemari. Sebab lelah mengitari kuburan tua ini, aku pun duduk di atas salah satu kursi kayu dekat dengan makam dengan atap seng yang menaungi. Mimpi apa aku semalam, sore-sore mendekati senja begini malah mengunjungi kuburan tua?
Sedang asyik memandangi dedaunan hijau dari sebatang pohon besar di depanku, dari belakang kurasai sentuhan yang praktis mengejutkanku sampai membuat aku terlonjak sambil menjerit.
“Sshh, jangan berteriak. Ini aku, Nin.”
“Kau ini! Jangan mengagetkan seperti tadi,” gerutuku, menyentuh d**a merasakan jantungku yang berdebar laksana genderang ditabuh. Alih-alih merasa bersalah, ia malah terbahak.
“Harusnya aku yang kaget melihat Noni bergaun putih duduk-duduk di sebelah nisan. Siapa sangka kau ini arwah Noni yang dikubur di sini.”
Aku mengernyit. “Memangnya aku mirip hantu?”
“Kalau ada hantu secantik kau, aku rela mati biar bisa hidup denganmu di satu alam.”
Aih… sontak kubuang mukaku yang panas membara. Aku tertawa, memandangnya kemudian. “Orang sinting mana yang mengajak seseorang ke kuburan? Kau mungkin satu-satunya orang sinting yang membawa gadis kemari.”
Pandangannya diedarkan ke seantero sudut kuburan. Diam-diam aku bergidik merinding, sebab hari kian petang lantaran surya mulai bersembunyi malu-malu tertutup daun-daun dan ranting yang rindang.
“Akui saja kalau kau takut.” Ia berpaling ke arahku.
“Tidak.”
“Ya sudah, ayo menjelajah.”
“Menjelajah? Di tengah kuburan?” tak kusadari suara teriakanku yang menggelegar di tempat senyap ini. “Ben je gek[5]?”
“Mungkin kau benar, aku gila karenamu, Mooi prinses[6].”
Kuayunkan tanganku di udara. “Sudah. Tahan saja pujian-pujianmu itu.”
“Aku tak bisa menahannya. Bagaimana?”
“Puji aku pakai bahasa Melayu, Jawa, Madura, terserah. Biar aku tak dengar.”
Ia berdecak keheranan. “Baru kali ini aku bertemu perempuan yang tidak suka dipuji.”
Bukan tak senang dipuji, aku hanya belum terbiasa dipuji lelaki, terlebih seorang pribumi seperti dirinya. Tak kuhiraukan decak keheranannya. Kami melanjutkan langkah meninggalkan tempat semula. Kini tidak lagi kudengar pujian darinya. Tiada pula dengan bahasa Melayu atau Jawa yang tak kumengerti. Ia mulai bercerita di sebelahku, sengaja memperdengarkan suaranya yang dilebih-lebihkan.
“Kerap aku mengunjungi kuburan ini. Tiap menjelang sore, aku datang kemari sekadar menikmati terpaan anginnya yang membawa aroma sawah yang hijau. Kadang selama ujian, aku jauh-jauh datang kemari pun hanya untuk belajar, biar mendapatkan ketenangan. Asrama tempatku tinggal di Surabaya begitu bising; Martijn dan Banu tak jarang meramaikan asrama putra yang mengganggu ketentraman.” Ia berbisik, lebih lirih daripada tadi, membuat bulu-bulu halus di tengkukku meremang. “Kerap kulihat Noni Belanda cantik duduk di pojok sana, Nin. Dekat dengan kuburannya. Tiap bertemu, dia tersenyum padaku. Kulitnya pucat, lebih pucat daripada kulit Eropa pada umumnya. Matanya yang biru laksana samudra menatapku tak henti-henti. Bibirnya sepucat kapur….”
“Jangan takuti aku macam begini,” pekikku.
Tak peduli pada wajahku yang memucat, ia terus berjalan sambil menunjuk tempat lain. “Di sana, ada Meneer yang kadang berjalan mondar-mandir dekat kuburannya. Kalau sudah melihat dara cantik, beuh, akan diikuti sampai rumah! Hati-hati, Nin. Jangan lupa cek lemari dan kolong ranjangmu malam hari. Siapa tahu dia bersembunyi di sana.”
Aku memukulnya, menggigil ketakutan dan berjalan merapat di sampingnya. “Kalau kau masih menakut-nakutiku, aku tak mau kau ajak pergi.”
“Aku tidak yakin kau mau berjalan kembali sendirian, Juffrouw Helenina Bregsma.”
Memutar badan, hendak kulangkahkan kaki pergi menjauhinya. Namun, badanku seperti dibelenggu oleh rantai besi begitu yang tampak di depanku ialah suasana suram. Saat salah satu ranting dari pohon dekat nisan berbentuk salib runtuh, aku berbalik, menubruk tubuh di depanku yang hampir membuatku tertarik gravitasi. Tubuhku ditahan dengan pelukan sebelum jatuh menyatu dengan tanah. Mataku tak berkedip entah berapa lama. Darah seakan tersembur sampai puncak kepala, mendidih dalam kuali besar yang ikut mengaduk-aduknya bersama akal sehat. Aku bergeming bagai boneka porselen.
“Kiranya malaikat di nirwana mengamini doa mamamu, Nin,” katanya. “Kalau boleh meminta pada Tuhan, akan kusa-kralkan hari kelahiranmu di dunia ini.”
Hatiku bagaikan gita yang digetarkan. Baru setelah akal sehatku kembali dan menyentil kuping, kutarik badan dari pelukannya. Perlu waktu bagiku mengatur pernapasan. Paru-paruku seperti dihimpit dua batu, sehingga membikin aku kesulitan bernapas.
Sungguh mulutku tak mampu kugerakkan.
“Mari,” ajaknya lagi. Kuikuti langkahnya lamat-lamat. Seketika cerita-cerita seram yang tadi ia hantarkan padaku meloncat keluar dari kepala. Yang ada malah kalimatnya baru saja, terputar berulang kali seperti bunyi phonograf yang rusak. Bahkan aku tak sadar kami telah sampai pada suatu tempat, dihadapkan oleh lanskap kehijauan beberapa meter di depan sana. Langit dihiasi warna jingga kepucatan, dengan surya yang kian mengubur diri hampir ditelan garis fatamorgana.
“Nin,” panggilnya.
Sejak tadi aku yang diam mulai mengimbanginya dengan balasan, “Ya?” Sambil kupandang ia. Tatapan lembut tak terelakkan sepasang matanya.
“Kudengar dari abangmu, kau tak akan lama tinggal di Hindia?”
Aku mengangguk. “Papa memintaku bersekolah di Nederland.” Pandanganku berubah mengiba. Kutepuk gaunku beberapa kali sebelum duduk di atas rerumputan menikmati surga dunia titipan Tuhan di depan sana. Ario mengikuti setelah itu.
“Aku tak mau meninggalkan Mama di sini,” lanjutku. “Bayangkan saja, hanya berapa tahun aku hidup bersama Mama, lalu dipisah paksa, dikirim ke Nederland. Aku senang bertemu dengan Mama, biarpun kemari tanpa sepengetahuan Papa sebelumnya—aku kabur dari rumah Tante Roos. Kurasa sepulangnya aku dari Surabaya, Tante akan menghukumku.”
“Hm,” ia menggumam pada dirinya sendiri. Meski begitu, kurasai tatapan lekatnya yang tak terlepas. Malah makin membuatku rikuh. “Baik, aku akan mengatakan sejujurnya soal perbincangan kita waktu itu. Kurasa kau pun sudah tahu mengapa aku bisa bersekolah di HBS.”
“Kau anak seorang pembesar,” terkaku.
“Lebih dari yang kau pikir, Nina. Aku anak seorang Raja Jawa, dari salah satu istrinya.”
Mataku membulat tanpa berkedip. Anak seorang Raja! Demi apa aku bertemu dengan anak seorang Raja! Biarpun aku bersanak jauh dengan Ratu Wilhelmina, status sosial yang tertanam pada sanubari dan ragaku tentu ditandingi olehnya.
“Kau terkejut?” ia terbahak. Kedua alisku menyatu melihatnya tertawa; barangkali ia geli melihat air mukaku. “Aku bercanda. Orang macam diriku mana mungkin anak Raja.”
“Kau ini!” kupukul ia pelan, namun ia malah tertawa melihat muka memberengutku. “Jangan jadi misterius begini. Apa aku perlu bertanya pada abangku tentang asal-usulmu, hah?”
“Mau kau tanyakan pada guru-guru di sekolahku sekali pun, kau tak akan pernah tahu.”
“Baik. Tapi lihat saja nanti kalau aku mulai tahu asal-usulmu.” Aku melipat d**a dengan bibir mengerucut miring.
“Sebelum Maghrib, kita tinggalkan tempat ini. Kau mau didatangi Meneer dan Noni yang menghantui kuburan ini?”
“Ario, sekali lagi kau takuti aku seperti tadi, jangan berharap kubalas surat-surat yang sering kau kirim.”
Ia mengangkat tangan tanda menyerah. “Perkara selesai.” Berdiri terlebih dahulu, ia bantu aku bangkit dengan menggenggam tanganku dan menarikku berdiri, hingga kami tak memiliki jarak dan dapat kudengar helaan napasnya di sebelahku. Kurasai tatapan mendamba itu masih ia simpan untukku. Tanpa meminta ijinku lebih dulu, digandengnya tanganku keluar kuburan.
Begitu sampai di depan pagar, kulihat Subarja tergopoh-gopoh turun dari atas bendi, menghampiri kami. Dengan bahasa Belanda yang terbata-bata dan ejaan salah, ia berkata, “Non, dicari Nyai. Sudah hampir Magrib, ayo pulang.” Pria itu melirik tanganku, yang baru kusadari masih terkait dengan tangan Ario. Lekas kutarik tanganku darinya dan maju ke depan, lebih dekat pada abdi Mamaku.
“Nin,” Ario berseru memanggilku. Ia berlari menghampiri bendi yang membawanya kemari, mengambil sesuatu dari sana—kusir yang menarik bendi itu menjarahkan pandangan curiga padaku. Lantas diangsurkan sesuatu yang diambilnya tadi padaku. Rupanya sebuah buku.
“Aku tak tahu kau suka membaca atau tidak, kurasa kau akan menyukai ini. Bawalah.”
Kuterima buku tersebut tanpa menelaahnya. Hanya senyuman dan anggukan yang kuberikan padanya, sebelum menaiki bendi yang siap dijalankan Subarja. Begitu bendi meninggalkan wilayah De Begraafplaats Peneleh, aku membuka buku tersebut. Rupanya sebuah buku karya Multatuli berjudul Minnebrieven[7]. Aku mengenal Multatuli sebagai seorang penulis Belanda (nama aslinya Eduard Douwes Dekker) yang terkenal dengan Max Havelaarnya. Saat jemariku membuka halaman demi halamannya, secarik kertas terjatuh di bawah kaki. Penasaran, kupungut kertas tersebut. Tak dapat kumengerti apa yang tertulis di sana; aku rasa surat ini dibuat dengan bahasa Jawa.
Artinya, surat ini bukan untukku.
*
Sampai di rumah dan menyelesaikan makan malam hanya bersama Mama, Mama Rukmini, dan Jasper, surat yang terselip di Minnebrieven segera diterjemahkan Mama. Maka beginilah isinya yang dapat kuberitahukan padamu:
Kepada BRM[8] Arianta Kertapati Adiharja
Besar kemungkinan Ibunda akan menyusul ke sana dalam beberapa waktu dekat. Ada hal yang perlu dibicarakan. Kali ini bukan karena perihal pendidikanmu. Lebih dari itu, lebih penting pula.
KBRAy[9] Rahayu Sastrotomo
Nah, sejak membaca surat itu—yang kuduga dikirim dari ibunda Ario—aku berpikir ia bukanlah pribumi sembarangan. Benar, ia anak seorang Raja Jawa.
*
Kan, apa yang kubilang. Mimpi itu berantai. Kian hari kian jelas alurnya, bagaikan sepotong kisah dan aku sebagai tokoh utamanya. Malam-malam selanjutnya pun, mimpi seperti itu mendatangiku. Aku telah mencari tahu dari internet tentang fenomena ini, namun tak ada jawaban yang memuaskan hatiku. Bahkan bayangan Helenina dan Ario—yang jati dirinya sebagai seorang anak Raja mulai terkuak—kubawa sampai perjalananku di suatu kota.
Haha, entah kebetulan atau tidak, kepala redaksi memintaku meliput sebuah pameran seni besar di Surabaya. Beberapa jam lalu aku sampai di bandara Juanda, istirahat sejenak di hotel Majapahit, lantas pergi ke Balai Pemuda menggunakan taksi. Sialnya, atasan memintaku berangkat sendiri tanpa Elsa.
Maka di sinilah aku berada, sebuah pameran seni yang telah dipadati oleh pengunjung di dalam gedung peninggalan Belanda. Gedung ini dulunya dijadikan tempat berpesta orang-orang Belanda dan dikenal dengan nama De Simpangsche Sociëteit[10]. Bangunannya masih khas bangunan Belanda, de-ngan atap berbentuk mirip kubah berwarna putih dan merah bata.
Kakiku melangkah lambat melewati lukisan-lukisan hasil karya berbagai seniman dengan tajuk Soerabaja Tempo Doeloe. Satu per satu lukisan kupotret; ada lukisan Bung Karno bersama Bung Hatta ketika membacakan Proklamasi, lukisan jembatan Merah saksi pertempuran Arek-Arek Suroboyo, lukisan lalu lalang kota Surabaya pada awal abad ke-20, dan lain sebagainya. Beberapa pengunjung yang berdiri di depan lukisan pun tak luput dari jepretanku.
Sambil mengecek hasil jepretan, aku berjalan ke sudut lain, memosisikan kamera siap menjepret lukisan di depanku. Tubuhku bagai dialiri listrik begitu sebuah potret wajah pada lukisan minyak itu tertangkap lensa kamera. Kuenyahkan kamera dari wajah, melongo sepersekian detik. Mataku tak berkedip, tidak pula bergerak, hanya terpaku pada mahakarya luar biasa yang menyihirku dan merasuk ke pedalamanku.
“Mustahil…”
Mustahil! Iya, mustahil. Mana mungkin aku berhadapan dengan sebuah lukisan Helenina Bregsma yang hanya ada di mimpiku! Memastikan tiada yang salah dari penglihatanku, aku mengucek mata, mengerjap-ngerjap, dan melihat sekali lagi. Menelitinya. Itu benar lukisan Helenina.
Dan ya, lukisan itu memiliki paras yang mirip denganku. Bedanya, aku berambut pendek sebahu, sedangkan gadis di dalam lukisan itu berambut kecoklatan, ikal, dan panjang, ditutupi oleh sebuah topi besar yang kuingat pernah hadir sebagai saksi kedatangan Helenina yang diangkut dari Pelabuhan Tanjung Perak menuju Peneleh.
Badanku condong ke depan, membaca nama pelukis Hele-nina ini sambil bertanya-tanya dalam hati.
“RM[11] Raka Digdaya Suryadiningrat….”
“Saya amati, tampaknya Anda tersihir aura yang dibawa gadis ini.”
Mendengar sebuah suara menyapa di sebelah kiri, aku pun memutar badan. Makin terperanjatlah aku dihadapkan oleh seorang lelaki yang tak asing di benakku dan kuyakini sebagai Ario di dalam mimpiku. Aku menahan napas dan mendelik bagai dipertemukan Ratu Wilhelmina yang bangkit dari kematian.
Sama sepertiku, lelaki itu mengernyit keheranan bertatap muka denganku.
[1] Maafkan Mama atas segalanya.
[2] EKS (Europese Kweek School) = Sekolah keguruan Hindia Belanda.
[3] De Begraafplaats Peneleh (Belanda) = Makam Peneleh, terletak di Jalan Makam Peneleh Surabaya. Makan ini merupakan makam modern tertua di dunia yang dibuat orang Belanda sejak zaman VOC.
[4] Tunggu!
[5] Kau gila?
[6] Putri cantik.
[7] Minnebrieven (Belanda) = Surat Cinta. Salah satu karya Multatuli (Eduard Douwes Dekker) yang diterbitkan di Belanda. Multatuli termasuk penulis Belanda terkenal yang peduli pada nasib pribumi. Pernah menjadi Asisten Residen Lebak masa Hindia Belanda. Karyanya yang terkenal dan pernah difilmkan berjudul Max Havelaar.
[8] BRM (Bendara Raden Mas) = Gelar anak laki-laki selir ketika masih muda (belum menikah).
[9] KBRAy (Kanjeng Bendara Raden Ayu) = Gelar selir.
[10] De Simpangsche Sociëteit = Gedung yang pernah digunakan Belanda untuk berpesta, main bowling, dan kumpulan sosialita Belanda. Pribumi dilarang keras untuk masuk. Menurut berbagai sumber, pernah dipasang tulisan “Anjing dan pribumi dilarang masuk”.
[11] RM (Raden Mas) = Gelar keturunan kekeratonan, sampai garis ke tiga utama.