WAH!
Aku diusir olehnya? Rupanya ia menganggapku gila. Orang mana yang tak mnganggapku gila bila aku mengatakan kalimat ngelantur seperti tadi? Meski logika sedang rusak dan lebur di dalam kepala akibat terjangan kejanggalan ini, aku harus bisa tenang. Maka dengan sekali helaan napas panjang, aku memandang ke arahnya. Tatapannya padaku masih tiada berubah. Tatapan datar dan tersinggung. Barangkali ucapanku yang tak sopan tadi membuatnya berubah pikiran dalam menilaiku.
“Maaf, Tuan,” kataku rendah. “Rasanya… saya memang butuh ke psikiater. Rujukan yang bagus.” Tanpa mengurangi rasa hormatku, senyum ramah terulas di bibir, lalu beranjak dari tempat duduk begitu kumasukkan alat perekam ke dalam tas. Kuanggukkan kepala, lantas melenggang melintasi meja makan, meninggalkan Raka dalam kegemingan dan keheningan. Kurasakan sudut matanya mengekoriku sampai merajam punggungku. Yakin, ia pun sebetulnya bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Mengapa kami dipertemukan dalam keadaan aneh seperti ini?
Aku yang memimpikan kehidupan Helenina dengan seorang pria yang mirip dengannya—yang kuasumsikan sebagai kakek buyutnya dan memberiku penegasan bahwa Bendara Raden Mas Arianta memang nyata. Dan Raka yang memiliki wajah mirip dengan Ario, melukis Helenina dari lukisan milik kakek buyutnya, dipertemukan denganku secara tak sengaja—atau aku menyebutnya sengaja, oleh tangan Tuhan—di pameran seni. Tepat di Surabaya, kota kelahiran Helenina.
Akan kucari tahu sendiri misteri dunia paralel ini sampai puas mendapatkan kejelasannya. Mana mungkin ada asap jika tak ada api, bukan?
*****
“Ya iyalah, Ras! Gila lo ya?? Yang ada tuh cowok nganggep lo sinting!”
Sudah kutebak, begitulah balasan Elsa terhadap ceritaku tentang makan malam ini. Aku duduk di depan cermin rias untuk menghapus sisa-sisa make up sambil menelepon melalui earphone. Cerita itu, tanpa sedikit pun kuubah, kukurangi, maupun kutambah-tambahi. Aku bahkan hapal kalimat yang dilontarkan Raka.
“Lo tahu takdir, kan? Ini takdir. Pertemuan gue dengannya itu takdir.”
“Lo kayaknya kebanyakan baca novel.” Kikikan tawa menyeruak di seberang sana. Kuputar mata ke atas, berhadapan dengan langit-langit kamar hotel yang pernah menjadi saksi sejarah perobekan bendera Belanda.
“Gue udah googling nama Helenina Bregsma di internet, tapi nggak nemu. Gue tanya Tante gue apa gue punya darah keturunan keluarga Bregsma, dia bilang nggak ada.”
“Ya iyalah g****k. Helenina kan cuma khayalan lo.”
“Terus, kenapa lukisan Helenina ada di Balai Pemuda? Malah nih ya, yang ngelukis Helenina pertama itu Ario loh. Lukisannya mirip banget sama yang ada di mimpi gue.”
Elsa menguap memperjelas padaku bahwa kantuk hendak memisahkan kami untuk menyudahi obrolan ngelantur ini. “Ya udah deh, lo tidur sana. Kali aja mimpi lo malam ini bisa jadi pencerahan buat lo.”
Mimpi tanpa kejelasan arti, apa guna? Aku mendengus putus asa. “Oke. Bye.” Sambungan terputus, namun perasaan ini mengganggu ketenanganku. Melepas earphone dari kedua telinga, aku berjalan lunglai menuju ranjang. Aku lempar ponsel pipih itu di sebelah bantal dan melompat merebahkan tubuhku. Kupandang sekali lagi langit-langit kamar hotel ini. Berguling ke kanan, kiri, memeluk guling, dan kembali telentang.
“Siapa kamu sebenarnya, Helenina?”
*****
Piano ini tak pernah tersentuh oleh jemariku. Baru kutemukan di gudang dan langsung meminta Subarja memindahkannya ke ruang tengah. Mama sering memainkan piano itu tiap-tiap merindukanku. Lagu yang dimainkannya ialah pengantar tidurku. Kadang pula ia memainkan lagu-lagu komposer Eropa ternama. Namun Papa yang tak senang pada lantunan piano memindahkan benda itu ke gudang dan menguncinya. Setelah sekian lama terkurung di dalam gudang, pada akhirnya piano buatan Eropa yang didatangkan dari Nederland itu sampai di tanganku. Kunci gudang yang mulanya dipegang tangan kanan Papa, Parjo, telah berhasil kurebut. Ia tak mengindahkan perintahku, namun saat aku merajuk dengan mengirim sepucuk surat ke Buitenzorg, Papa membalasnya dengan titah untuk tangan kanannya agar membukakan pintu gudang dan memindahkan piano ke ruang tengah.
Lagu yang kumainkan ini buatanku sewaktu di rumah Tante Roos. Warna putih gadingnya membuat alat instrumen musik ini mewah serupa milik Tante Roos. Aku serasa dihadapkan dengan piano itu. Terus kupijakkan jemariku di atas barisan tuts piano. Sesekali kupejamkan mata sekadar mencermati nada-nadanya agar tiada yang sumbang.
Mama, bakatmu tiada tara. Kau turunkan bakat bermusik dan kepandaianmu padaku. Aku beruntung terlahir dari rahimmu, meski kau hanya seorang pribumi, gundik yang dinistakan manusia lain yang menganggap diri mereka lebih baik.
Begitu kuselesaikan lagu ini dan membuka mata, aku dengar tepukan Mama di belakangku. Melangkah bersama semburat jingga pada wajah eloknya, ia berdecak memujiku, kemudian duduk di sebelahku sambil memandangi tuts-tuts di hadapannya kini.
“Aku seperti melihat diriku,” katanya.
“Mainkan, Ma.”
“Mainkan apa? Sudah lama aku tak menyentuh benda ini. Mana kuhapal lagu-lagu Eropa.”
“Mainkan slaapliedje yang kaubuat, Ma. Hapal, kan?”
Senyuman Mama yang bagai pelipur lara menyapu kekakuan. Jemari panjang lentiknya mulai menekan barisan not. Kudengar dengan saksama alunan lagu pengantar tidurku yang dimainkan olehnya, begitu lembut dan menenangkan. Udara seakan bersekutu bersama lagu ini, menciptakan kehangatan tak berbatas, membuat mataku terpejam sekadar merasakan kelembutan tiap not yang mulai merasuk ke pedalamanku.
*
Surya menyingsing rendah di ufuk barat. Para pekerja seperti biasa, mondar-mandir membawa ember-ember s**u perahan dan lumbung padi yang telah dipanen. Aku berdiri di teras memandangi kegiatan mereka. Setengah jam lalu Elien berpamitan pada Mama menemani salah satu pembantu ke pasar. Toh aku tak membutuhkan asuhan jururawatku. Telah ada Mama yang menemaniku di rumah ini. Ditambah lagi Jasper, kendati ia jarang pulang. Sedang Mama Rukmini tak banyak bicara tiap bertemu muka denganku. Kadang ia membantu babu di dapur untuk memasak. Libur sekolah akan segera berakhir. Aku tak ingin secepat ini melepaskan diriku dari genggaman kota kelahiranku.
Saat pikiranku sibuk mengembara tak tahu rimbanya, Subarja memberikan tabik dan mengangsurkan sepucuk surat. Kuterima kertas itu darinya, lalu mengibaskan tangan rendah memintanya melanjutkan pekerjaan. Melenggang menuju salah satu kursi, mulai kubuka dan k****a surat ini, sambil sesekali tersenyum mengenal tulisan siapa yang ada di tanganku sekarang.
*
Helenina yang cantik, bukankah kau berjanji padaku akan membacakan cerita yang kaubuat sendiri? Akan kutunggu kau di De Begraafplaats Peneleh siang ini, seperti biasa.
Ario
Kuburan Belanda itu lagi. Mengapa ia senang mengajakku ke tempat itu daripada sawah atau ladang milik Papa di sini? Pucuk surat dari Ario kulipat dan lekas aku melenggang masuk ke dalam sekadar merapikan diri.
Baru beberapa langkah hendak menaiki tangga, Mama Rukmini memanggilku. Spontan kaki ini terperangkap tak bergerak di dekat birai. Tanganku yang mengelus lembut birai perlahan terlepas bersamaan ketika kuputar badanku menghadapnya. Wanita paruh baya itu berjalan lamat-lamat mendekatiku. Dandanannya memang tak semewah Mamaku. Aku rasa, Papa lebih memanjakan Mama dengan baju bagus dan perhiasan kelap-kelip.
“Mengapa Tuhan melahirkanmu secantik dewi?” katanya, yang membikin dahiku mengernyit tak mengerti. “Maafkan aku. Maafkan sikap tak ramahku sejak kau datang kemari. Aku mengerti kau tak nyaman tinggal serumah dengan keapatisanku.”
“Mama Rukmini tak perlu berbicara seperti itu.”
“Sebetulnya, aku akan kembali ke rumah orangtuaku. Hendak aku mintai Mamamu menjaga Jasper di sini, Helenina.”
“Mengapa? Tidak, kau tak boleh hengkang dari rumah ini. Jika yang kau khawatirkan adalah aku, maafkan anak tirimu ini, Ma. Aku tak bermaksud merebut perhatian Papa darimu.”
“Bukan, bukan itu.” Mata Mama Rukmini yang segelap mutiara hitam menyorot penuh kepedihan. Ia menyentuh pundakku. Sudut mataku menelisik punggung tangannya. Kupandang ia dengan tatapan mengiba. Bibirnya yang merah merekahkan senyuman singkat. “Telah lama aku memutuskan untuk segera pergi dari rumah ini, sebelum Papamu mengirimku keluar dari Surabaya. Cepat atau lambat, Helenina, aku akan hengkang juga dari rumah setan ini. Aku tak punya hak apa pun di sini. Masih ada Mevrouw Anneke Bregsma yang berkuasa atas segalanya. Aku hanya ingin kau tak salah artikan sikapku, Nak. Sikap ini, sikap wanita yang terlalu lama berada dalam kubangan kegelapan, kenistaan, yang lamat-lamat akan melumatnya hingga habis tak bersisa daging maupun tulangnya.”
“Mama Rukmini, sungguh aku tidak merasa canggung atau tak menyukaimu. Kau juga Mamaku.”
Ia tak lagi menjawab. Hanya kedipan dan senyuman yang mempertegas kerutan-kerutan di sudut matanya yang menjadi balasan kalimatku. Ditepuknya pipiku lembut, lalu ia melimbai pergi meninggalkan aku dalam kegemingan. Aku pandangi punggungnya, sampai lenyap ditelan pintu kamarnya.
Ucapannya masih berputar tak henti. Bagai bunyi phonograf yang mencoba menanamkan gelombangnya pada otakku. Namun, aku tak lagi memikirkan kalimat itu. Langsung kunaiki anak tangga menuju kamar.
*
Untung Ario mengajakku ke kuburan ini siang hari. Coba waktu sore. Tempat seseram ini membikin mimpi buruk saja. Aku datang menunggang salah satu kuda milik Papa. Kubawa sampai di gerbang tembok kuburan, mengikatnya pada sebatang pohon. Wajah bertanya-tanya mengiringi langkahku. Rupa-rupanya ia duduk di tempat pertama aku datang kemari. Kusingsing bawahan gaunku mendekatinya. Kakiku berjinjit tak ingin menimbulkan suara. Aku ingin mengagetinya, seperti yang dilakukannya padaku waktu itu. Sampai di belakangnya, tanganku sudah bergerak hendak menepuk pundaknya. Alih-alih, ia menoleh ke belakang dan membuatku terperanjat lebih dulu.
“Aku mendengar suara tapak kaki kuda dan kresekan daun kering. Percuma kau mengagetkanku,” katanya diiringi cengiran.
Kutampilkan wajah memberengutku. Mengibas gaun secara kasar, aku duduk di sebelahnya. Malah ia menyengir makin lebar melihat raut wajahku. Aku keluarkan buku kecil beserta penanya dari tas kain satin. Melirik ke samping, kutangkap pandangan matanya yang terbagi antara aku dengan kertas dan pensil di genggamannya.
“Aku sudah menyusun satu cerita pendek sebagai janjiku,” tukasku sembari membuka halaman buku kecil ini.
“Coba kudengarkan.”
Maka berceritalah aku, membaca barisan kata yang kurangkai malam lalu di kamarku membentuk cerita. Dengan saksama, ia mendengarku; bola matanya tidak beranjak dariku, seakan terdapat magnet dengan kutub tak sama di antara kami.
Cerita ini kubuat sendiri, hanya pendek, tak memakan banyak halaman. Cerita yang mengambil latar tempat di sebuah negeri khayalan, kubikin berdasarkan imajinasi yang terbangun di pikiranku, mengingatkan aku tentang dongeng yang kerap dibacakan Elien sebelum tidur.
Tak terasa karangan ini telah selesai k****a. Aku menutup buku kecilku dan menoleh ke samping. Ia pandangi aku dari dua matanya, lekat-lekat, seperti cakram yang mencengkram jantungku. Kelopak mata ini tiada berkedip sedetik pun. Helai demi helai bagai terekat erat.
“Indah, indah sekali. Cerita yang dibuat dara cantik dengan penyampaian yang memukau. Kiranya, kau bakat menjadi penulis.”
Aku tersenyum malu-malu. Rambut kuselipkan ke belakang telinga, sedang dua-tiga helai terbang diterpa angin di bawah pohon rindang ini. Kutengadahkan kepalaku, mengamati corak putih dalam lautan kebiruan di angkasa, lantas mengembalikan perhatian pada Ario yang menyelesaikan satu sketsa buatannya. Diangsurkan sketsa itu padaku.
“Simpan ini.”
Aku terperangah melihat hasil karyanya. Kuterima kertas itu, sketsa diriku yang digambar dari samping. Kuamat-amati benda tersebut seperti seorang buta yang baru mengenal dunia.
“Dit is mooi[1]!” Kupandang ia dengan mata mendamba. “Bagaimana kau sanggup menciptakan ini dalam waktu singkat?”
“Bukan itu yang seharusnya kau tanyakan, Nin. Tapi bagaimana kau bisa membuat aku terperdaya. Kan pernah kubilang padamu, segala yang kubuat ini tak lain adalah bentuk kegilaanku.” Lagi, ia pandangi aku penuh takjub. Matanya bersirobok dengan mataku, seolah bersiap saling berpelukan. Matanya bagai sihir tak terelakkan, yang menggeletarkan jantungku, membuatku tak mampu lagi berucap barang sekejap.
“Ik wil niet de prins zijn zonder een prinses[2],” tambahnya, yang praktis membuat darahku seolah mendidih di kedua pipiku yang merona. Aku mengerjapkan mata. Tak terkira, ia raih dan genggam tanganku. Kehangatan tangannya menampik kegamanganku terhadap ucapannya waktu mengantarku pulang. “Nina, ik wed verliefd op je. Misschien sinds God je gemaakt heeft[3].”
Runtuh sudah pertahanan diriku. Begitu lihai ia memasuki pedalaman jiwaku dan merayuku seperti ini. Pada hati yang sebelumnya tak pernah tersentuh sesuatu yang abstrak nan krusial. Tiada pernah seorang lelaki bersikap sehormat dan semanis ini padaku. Ia perlakukan aku bagai ratu. Sebab apa aku seorang Indische?
Lalu, bagaimana dengan kalimatnya yang menyinggung hukum Belanda?
“Kau tak sungguh-sungguh,” kataku, tanpa kuduga terlontar begitu saja dari bibir yang sedari tadi terbungkam.
“Kau ragukan ucapanku, Nina? Mengapa?”
“Als je echt van me houdt, zou je met me trouwen ooit[4]?”
Ia tergugu, namun genggamannya enggan dilepas dari tanganku. Ditelengkan kepalanya ke satu sisi tak kentara. Mengamatiku, seperti memendam pertanyaan: Apa sebabnya aku bisa sesinting ini mengajukan pertanyaan macam itu?
“Tak patut aku menjawabnya.”
Aku mendesah pendek. Bukan maksud meragukan pernyataannya, hanya saja aku terngiang-ngiang ucapannya waktu itu. Namun apa daya diriku yang hanya seorang manusia yang dianugerahi Tuhan berupa perasaan.
Mungkin aku terlalu jauh menerjangnya dengan pertanyaan tadi.
“Jiwa dan raga ini telah terperosok ke dalam genggamanmu, sejak aku melihatmu pertama kali di dalam kereta. Tuhan begitu hebat dalam menguasai keseluruhan jiwa makhlukNya.”
“Tuhan adalah seniman terhebat yang mencampuradukkan warna pada kehidupan. Adalah sastrawan termashyur yang menulis lembar demi lembar kisah umat manusia. Dan kau, salah satu karya terbaikNya. Ik hou van je[5], Nina.”
Tak butuh balasanku—sebab aku telanjur termangu dengan aliran darah mendidih yang dipompa jantung berdebarku—, ia cium bibirku. Dan dunia bagai membelenggu kami dengan rantai yang sakral.
*
Apa yang kuharapkan tak benar-benar terjadi. Sekiranya Papa yang sibuk mengawasi perkebunannya di Buitenzorg tak akan menghancurkan ekspektasi nan mimpi yang telanjur kususun tinggi benar.
“Lancang kau membawa anakku pergi!” begitulah sambutan pertamanya, dengan api menyala liar di kedua mata abu-abunya, dan telunjuk teracung di depan muka Ario.
“Papa,” aku menegurnya. Ia tarik tanganku kasar hingga suara jengitan tak sempat teredam.
“Masuk, Helenina.” Matanya yang nyalang merajamku, membikin aku tertunduk.
“Tak akan.”
“Berani kau membantah perintah Papa?” suaranya menggelegar di teras rumah, mengundang perhatian para pekerja yang berlalu lalang, mengawasi kami silih berganti. Sekali lagi, aku menundukkan kepala. Pandangan nanarnya menerjang bergantian, antara aku dengan pemuda di depannya. “Sudah pernah kuberitahu padamu, tak sepatutnya kau mendekati anak-anakku. Tidak kau dengar perkataanku, heh? Jasper bukan kawanmu, hey!” ia membentak. “Kini berani kau bawa putriku pergi? Sampai senja begini? Pribumi tak tahu diri!”
“Papa!”
“Diam, Helenina!” ia membentak lebih keras, sampai-sampai aku terperanjat.
“Maaf, Meneer,” dengan suara tenang seakan sudah terbiasa mendapatkan perlakuan begini, Ario membuka suara. “Sahaya hanya mengantar Juffrouw Helenina Bregsma. Pada ibundanya.”
“Jadi kau pikir aku ini siapa, heh?” Telunjuknya diacung-acungkan lagi. “Dia juga anakku! Pergi tidaknya anak ini tergantung ijinku!”
Suasana kian mengeruh dengan hadirnya Mama dan seruan menggelegaknya dari dalam rumah.
“Bisa kau tak berbicara keras dan kasar?” Mama mulai meracau dalam Jawa. Dan bersyukurlah aku yang perlahan mulai memahami ucapannya, meski tak mampu menerjemahkan keseluruhan. “Ini rumah, bukan hutan!”
“Tidak perlu ikut campur,” giliran Papa berbicara, menggeram pada Mama.
“Mana mungkin aku tidak ikut campur sedangkan kau memarahi anakku sampai menangis begini!” Ditunjuknya aku yang menunduk sambil menggigil. Ia tarik lembut bahuku, mendekapku, menjauhkanku dari kemurkaan Papa yang belum mereda—malah makin menjadi-jadi. Ia pandangi Ario kemudian. “Terima kasih telah mengembalikan Nina pada ibunya, Nak. Kau boleh pergi.”
Tak ubahnya air tenang, Ario menanggapi perkataan lembut Mama dengan anggukan. Tidak dipedulikannya tatapan nanar Papa yang seperti berharap bisa menerkam bocah di depannya. Diliriknya aku yang melingkarkan tangan memeluk Mama. Lalu melangkah pergi meninggalkan teras menuju keluar gerbang tembok menghampiri keretanya.
Aku baru sadar Jasper berdiri di ambang pintu mengamati keributan kami. Abang tiriku mendesahkan napas kasar, mendekati Papa. Sedang Papa memelototkan mata pada para pekerja.
“Heh, apa yang kalian lihat?! Kembali kerja!”
Para pekerja itu lari terpontang-panting menghindari amukan. Barulah aku membenamkan wajahku pada d**a Mama, menangis dalam pelukannya. Sebab, aku tak pernah dibentak Papa sekeras dan sekasar ini. Seakan-akan ia tengah berhadapan dengan pribumi busuk yang dibencinya, bukan anak kesayangannya.
“Berhenti bersikap kasar pada teman-temanku, Pa. Aku punya kehidupan, termasuk bersosialisasi dengan orang lain. Sejak lama kau tak berlaku baik pada kawan-kawan pribumiku. Bagaimana mungkin kau lakukan itu, sedangkan aku ini setengah pribumi?” Jasper membelaku, membela teman baiknya itu.
“Kau, untuk apa ikut campur pula?” teriak Papa berang. “Sudah bagus kusekolahkan, kau malah menentangku, dasar kurang ajar. Siapa yang mengajarimu bertindak kurang ajar? Mamamu, heh?”
“Kau yang mengajariku seperti ini, Pa.”
Papa makin berang. Ditempelengnya Jasper keras sampai terjerembab di lantai dan membuat aku tersentak dari dekapan Mama. Aku mengangkat kepalaku dan menatap Papa dengan mata berkaca-kaca.
“Papa!” seruku, berlari menghampiri Jasper dan duduk jongkok di sampingnya. Kusentuh bahunya sembari menengadah pada Papa. Jasper menatap Papa dengan mata berkilat marah. Tangannya menyentuh sebelah pipinya yang memerah. “Setan apa yang merasukimu?” teriakku, makin lantang.
“Bukan setan yang merasukinya. Dia memang iblis,” Mama menyergah.
Papa mengacungkan telunjuk ke arahku. “Jangan sampai kesabaran Papa habis, Helenina. Akan segera kukirim kau kembali ke Nederland!” Ia lantas berjalan gusar melewati kami, menuju ke dalam tanpa peduli geraman Jasper dan tatapan tajam Mama. Tampaknya, perang antara Papa dan Mama belum usai. Dengan langkah kasar, Mama mengekor di belakang, berteriak lantang,
“Heh, b******n! Dosa apa yang kuperbuat padamu hingga kau tumpahkan penderitaan ini pada anak-anakmu?!” suaranya tertelan kala punggungnya lenyap di balik tembok.
Kupandang Jasper yang meringis kesakitan. Setitik darah menyentuh sudut bibirnya yang perih. Aku peluk ia, erat, menyandarkan kepalaku di atas bahunya sambil terisak-isak. Air mata tumpah menuruni kedua pipi, menyentuh dagu, dan tergeletak di atas bahu Jasper.
“Maafkan aku, Jas,” bisikku di tengah isak tangis.
“Ini sudah biasa. Tak perlu minta maaf. Aku sudah terbiasa.” Tangannya mengusap-usap bahuku sambil berbisik menenangkan aku yang terisak-isak, meredam suara pertengkaran di dalam rumah.
*****
Tak kepalang tanggung, aku datang lagi ke rumahnya. Raka boleh menertawakan mimpiku dan menganggapku gila—bahkan menyuruhku datang ke psikiater. Tapi aku pantang mengibarkan bendera putih. Kutekan bel berkali-kali. Dalam hati aku menghitung detik demi detik, menunggu gerbang utama dibuka.
Gerbang dibuka di hitungan ke tujuh. Satpam rumah ini mengerutkan dahi melihatku. Ia bilang, Raka tak ada di rumah, melainkan pergi ke kantornya. Aku merajuk dengan menampilkan wajah mengiba, meminta alamat kantor, mengatakan bahwa kebaikannya akan menyelematkan pekerjaanku. Satpam itu tampaknya tak tega melihat wajah mengiba buatanku ini. Pada akhirnya, ia memberikan alamat yang kuminta tadi.
“Dank u[6]!”
Aku berlari menjauh setelah menyerukan kata terima kasih. Dengan segera, aku masuk ke dalam taksi yang sejak sepuluh menit lalu menunggu di depan gerbang. Tak mungkin aku segila dan senekat ini kalau bukan untuk mendapatkan kepercayaannya bahwa aku tak mengada-ada. Biarlah ia menyebutku tak tahu malu. Sudah diusir dari rumahnya, kini aku mengejar-ngejarnya lagi. Kuharap peruntunganku sedang baik.
Begitu taksi sampai di depan kantor yang kutuju, aku buka pintunya, lekas berlari keluar menerjang kerumunan pekerja kantornya. Paru-paruku seperti dihimpit batu. Aku membungkuk mengatur pernapasanku yang memburu, menunggu pintu lift terbuka. Masuk ke dalam lift terbuka, aku menghela napas panjang. Nahas, rupanya orang yang kucari tengah berjalan di koridor seraya mengobrol bersama pria berjas dan wanita ber-blazer merah. Sebelum pintu lift tertutup, aku berlari keluar mengabaikan gelengan kepala orang-orang di dalam.
“Hai!” sapaku, berhenti tepat di depannya. Ia kaget bukan kepalang melihatku membungkuk terengah-engah. “Urusan kita belum selesai.”
“Maaf, sepertinya perbincangan kita dilanjutkan nanti saja.” Alih-alih mengacuhkanku, ia malah berpamitan pada dua orang di sampingnya.
Ia benar-benar mengabaikanku. Langkah kakinya yang cepat membuat aku perlu berlarian kecil di sampingnya.
“Kamu berbicara nggak sopan kemarin, memintaku pergi ke psikiater sebelum jam wawancara selesai,” kataku, mengantarnya sampai di luar. Ia sama sekali tak peduli pada eksistensiku. Bukankah mengesalkan? “Kamu boleh menganggapku sinting. Tapi kamu nggak bisa menyangkal kalau kamu berpendapat sama.”
Ia memutar bola mata.
“Kakek buyutmu, Bendara Raden Mas Arianta, anak salah satu selir raja kekeratonan pada masa Hindia Belanda. Dia seorang seniman, melukis Helenina Bregsma pertama kali setelah melihatnya di dalam kereta. Dia bersekolah di HBS Regenstraat dan sering mengunjungi Peneleh.”
Sampai ia masuk ke dalam mobil pun, ucapanku dianggap angin lalu. Kaca mobilnya yang terbuka memberiku akses meneruskan kalimatku.
“Oke, lupakan apa yang kukatakan kemarin, soal jodoh atau apalah itu. Anggap saja aku ngelantur. Aku nggak tahan sama mimpi-mimpi sialan yang selalu menghantuiku tiap malam, bahkan sampai sekarang mimpi itu terus mengejar. Kamu sendiri yang minta buat menceritakan plot lengkapnya. Mau lewat mana? E-mail? Akan aku tulis plotnya secara berkala ke E-mail kamu. Mimpiku selama ini pasti punya rantainya. Dan rantai itu tersambung sama kamu—”
“Yang kebetulan karena saya cucu buyut Bendara Raden Mas Arianta. Yang kebetulan juga Anda berparas mirip gadis yang dilukis kakek buyut saya. Yang kebetulan kita dipertemukan di pameran seni kota ini.”
“Ini bukan kebetulan,” aku menegaskan suaraku. “Ini takdir.”
Dipandangnya aku datar. Tak ada ekspresi di wajah tampannya itu. Ya Tuhan, mengapa Kau buat rumit hidupku dengan semua ini? Bahkan perlahan-lahan aku tersiksa lantaran, katakan saja, aku jatuh hati pada lelaki di dalam mimpiku. Yang sangat mirip dirinya!
Ia tertawa pendek. Lagi-lagi, ia menatapku datar. “Jika saya percaya bahwa mimpi Anda adalah jalan Tuhan mempertemukan kita karena jodoh, baiklah… Anda lalu menginginkan apa dari saya?”
Aku bergeming. Benar, apa yang kuinginkan? Memintanya melamarku? Aku tak sesinting itu. Aku hanya mengusap tengkuk rikuh.
“Nona Nareswari—”
“Laras!” kali ini aku membentak. “LARASITA! Itu nama depanku.”
“Saya tidak peduli.” Ia mengedikkan bahu. “Cerita Anda memang menarik. Anda berbakat jadi seorang penulis. Kalau boleh menyarankan, Anda tak perlu repot-repot lagi mencari tahu siapa Helenina Bregsma dan apa hubungannya dengan saya. Anda boleh kembali ke kota asal Anda, lupakan lukisan Helenina.”
“Waarom[7]?”
“Karena saya sudah memiliki tunangan dan tidak ingin diganggu.” Dan kaca jendela ditarik ke atas menghalangi pandanganku.
Mobil mewah itu meninggalkan aku dalam ketercengangan. Aku pun tertawa getir.
[1] Ini cantik.
[2] Aku tak ingin jadi seorang pangeran, jika bukan kau putrinya.
[3] Aku jatuh hati padamu. Barangkali sejak Tuhan menciptakanmu.
[4] Jika benar kau cinta padaku, maukah suatu saat kau nikahi aku?
[5] Aku mencintaimu.
[6] Terima kasih.
[7] Kenapa?