Rantai Sakral

4378 Words
KUKATAKAN berulang kali pada diriku sendiri bahwa aku baik-baik saja. Untuk saat ini. Perihal kejadian janggal belakangan ini, aku tiada mau membahas lagi. Untuk ke sekian kalinya, kubenturkan dahi pada pintu lemari pakaian di dalam hotel ini. Tugasku memang selesai. Wawancara dan laporan telah kusetor pada editor untuk selanjutnya dikoreksi. Helaan napasku menggantung di udara dingin kamar ini. Seharusnya aku pulang dan melupakan semuanya, seperti yang dianjurkan Raka. Atau sebaiknya aku menghubungi psikiater? Jantungku berdenyutan tiap mengingat perkataan Raka yang terus-menerus terngiang di kedua telinga. Ia sudah bertunangan, lantas apa masalahku? Seharusnya aku mengepak koperku dan bergegas kembali ke Jakarta, bukan? Aku menggerung seperti orang sinting yang terlambat diberi obat penenang. Kuempaskan badan menuju ranjang. Badan mungilku terpental lembut, sementara mukaku ditenggelamkan pada bantal berisi bulu angsa yang empuk ini. Aku mengerang, mengepak-ngepak kaki bagai ikan menggelepar di atas daratan dan hampir mati tanpa air. Badanku terbaring. Tangan terlipat di atas perut, sedang mataku bertemu dengan langit-langit berukir rumit di atas sana. Jika ia bukan jodohku, mengapa pikiran dan perasaan janggal ini terus menghantui? Haisshhh... sungguh, aku tak tahan dengan semua yang tengah berkecamuk di d**a bagai gemuruh ombak di laut pasang. Tubuhku berguling ke kanan dan kiri. Benar-benar mengesalkan. Mata ini enggan terlelap barang sedetik. Kendati ingin berkelana ke dalam mimpi—meski aku tak yakin Helenina tak akan menghantuiku kembali—kusentak badanku malas-malas. Dengusan sebal keluar dari bibirku. Duh, Gusti Pengeran, sebab apa kau bikin aku begini? Hati ini enggan tenang. Selalu merasa diikuti oleh bayangan janggal yang tak kutahu dan pahami. Aku sambar laptop di atas nakas, menghidupkannya sekadar hiburan. Ketak-ketik jemari pada keyboard pertanda keterjagaanku berbunyi cukup nyaring di tengah keheningan. Tak tahu apa yang kukerjakan untuk mengusir kebosanan ini. Kuulang kegiatanku mengecek E-mail, mengecek kotak masuk di jejaring sosial, dan membaca berita-berita terbaru sebagai kajian. Entah siapa yang berbisik di telinga memintaku mengetik nama Helenina Bregsma di search engine. Bukankah aku telah melakukan itu dan tak mendapatkan jawaban memuaskan? Helenina Bregsma. Yang keluar justru nama orang-orang yang tak kukenal. Helenina Bregsma saudara jauh Ratu Wilhelmina. Tak ada yang bernama Helenina Bregsma dalam silsilah keluarga besar kerajaan Belanda. Helenina Bregsma wanita tercantik di Hindia Belanda. Sama saja nihil. Tak ada artikel tentang gadis misterius di dalam mimpiku ini. Aishh... mengapa aku begini tololnya? Sudah pasti Helenina hanya ada di alam mimpiku. Pun nyata, ia tak mungkin masuk artikel. Ia bukan tokoh pergerakan. Jika kecantikannya yang tiada tara menjadi buah bibir di kota kelahirannya, dunia pasti menyaksikan kisah hidupnya yang mengalahkan Nyai Dasima yang melegenda itu. Lukisan Helenina Bregsma. Padahal aku iseng mengetiknya, sebab penjelasan Raka perihal lukisan Helenina tak memenangkan hati dan pradugaku. Mataku membeliak diikuti irama jantung berdebar begitu kutemukan satu tulisan di blog pribadi yang membahas lukisan pertama Helenina Bregsma. Rupanya selain aku yang penasaran, ada seorang wartawan yang pernah meliput lukisan ini. Lukisan perempuan cantik yang tak tersohor seperti kisah Nyai Dasima sang penakluk lelaki di Batavia. Segera, kubuka laman berita itu dan membacanya sampai selesai.     Orang boleh mengenal wanita cantik seperti Nyai Dasima yang tersohor di Batavia dengan kisah berdarahnya atau kisah fiksi karangan Pramoedya Ananta Toer, tentang seorang gundik berpengetahuan luas bernama Nyai Ontosoroh yang memiliki putri Indo tercantik di Wonokromo, Annelies Mellema. Barangkali bagi siapa pun yang pernah membaca roman Buru Pram akan tersihir oleh daya pikat seorang Nyai Ontosoroh beserta putrinya yang manja, Annelies, dan bersedia berargumen dengan akal sehat manapun menyangkal fakta bahwa kedua perempuan itu hanyalah tokoh fiktif buah imajinasi penulis legendaris Indonesia. Namun siapa sangka, kecantikan kreol dalam karangan Pram ini benar adanya? Ialah Helenina Bregsma, gadis Indo peranakan satu dari sekian gundik peliharaan pengusaha dan bangsawan Belanda, Pieter Bregsma. Helenina tak seterkenal Nyai Dasima dan anaknya, Nancy. Kisahnya tak pernah terendus, entah sebab apa. Bulan lalu saya pergi ke sebuah pameran lukisan kuno. Barang-barang yang dipamerkan adalah lukisah buatan tangan sejak beberapa dekade silam. Satu di antara puluhan karya itu menarik perhatian saya. Kecantikan yang dihadirkan menyihir kuat, membawa saya pada pesona si dara jelita. Saya mulai mempelajari lukisan itu. Tak ada seorang pun yang mengetahui siapa dara jelita dengan kecantikan kreol melebihi Annelies Mellema dalam imajinasi saya, kecuali seorang keturunan si pelukis. Di sini saya akan menyebut inisalnya, R. Pelukis dara jelita itu ialah kakek buyut R. Kakek buyutnya seorang pelukis ternama zaman Hindia Belanda. Tak banyak yang diketahuinya kecuali kemungkinan adanya barang-barang yang berkaitan dengan dara jelita ini. Tak ada asap jika tiada api, bukan? Saya mulai menelusuri jejak gadis jelita tersebut. Jejak gadis itu lenyap tak berbekas. Narasumber hanya menyebut bahwa kakek buyutnya mengenal baik dara jelita di dalam lukisan itu. Helenina Bregsma, begitulah sang kakek buyut memanggilnya. Kakek buyutnya tak bercerita lebih soal siapa gadis di dalam lukisan itu. Bahkan, belum pernah seorang pun dari keluarganya yang tahu bahwa ia memiliki korelasi dengan gadis tersebut. Kecuali cucunya, yang kemudian diceritakan kembali pada cicitnya, narasumber saya. Yang pasti dari cerita singkat yang saya dapatkan, Helenina Bregsma, perempuan jelita di dalam lukisan milik Bendara Raden Mas Arianta memang pernah hidup ketika bangsa Belanda menjajah tanah air kita. Gadis keturunan Belanda dari salah satu gundik milik Pieter Bregsma yang tersohor pada masanya. Sampai saat ini, tak ada yang tahu jejak dan nasib gadis ini. Ia bagaikan tak pernah disentuh bumi.     Mulutku ternganga selama sepersekian detik tanpa kedipan mata. Aku mengentak rambut dengan tanganku hingga bergeser tak rapi; sebagian helainya melambai menyentuh dahiku. Sudah kuduga bahwa gadis itu, Helenina, memang pernah hidup. Bukan sekadar tokoh fiktif di dalam mimpi. Kubenamkan wajah di atas meja. Aku harus mencari tahu. Bukan karena hendak meyakinkan Raka, melainkan menjawab pertanyaan yang berkecamuk dan bergolak bak perahu yang diempas ombak. Akan kubuktikan bahwa kejanggalan ini terjadi pasti ada sebabnya. Benar kata si penulis tadi. Tak ada asap bila tiada api, bukan? Garis takdir selalu terhubung bagai rantai yang berkelindan kuat. Satu sama lain, melalui tangan Tuhan, manusia manapun yang dikehendaki bertemu akan bertemu juga.   *****   “Nina, Nina. Kau tak apa, kan? Anakku? Jangan bikin aku panik, Nak. Nina?” Suara panik dan parau Mama di depan kamarku beradu dengan gerungan kesakitanku di tengah malam ini. Tak pernah kurasai sakit tak terperikan macam ini. Tanganku yang berkeringat dingin menggenggam kuat selimut. Aku tahan sebisaku, menghirup napas dalam-dalam dan mengembuskannya lambat, secara teratur. Serta berdoa dalam hati semoga kesakitan ini segera dilenyapkan dan aku bisa membukakan pintu kamar tanpa membikin Mama panik. Doaku rupanya dikabulkan. Tak tahu berapa lama aku menahan gerungan, namun pada akhirnya sakit yang merajam sekujur tubuhku tak kurasakan lagi. Aku mengatur pernapasan, meraba-raba tepi meja dan mencari pijakan. Tangan serta kakiku terasa dingin. Kuangkat badanku lamat-lamat dari ranjang, berjalan perlahan melintasi kamar sambil menahan keseimbangan tubuhku pada tembok. Kepalaku berdenyutan seperti dihantam rimbunan jarum yang dijalin dengan dedurian. Tak tahan rasanya berdiri selama ini, tapi aku tak ingin membikin Mama cemas. Wajah panik Mama dengan rambut panjang berantakannya mengabur di pandanganku. Kupaksakan senyum simpul, tambahan agar Mama tiada memiliki kecurigaan. Sepasang alisnya menyatu dalam pertanyaan di bawah perasaan cemas. Disentuhnya dahi, leher, serta pipiku, kemudian dibelai lembut. “Sebab apa wajahmu pucat pasi begini, Nin?” tanyanya tak mengurangi kekhawatiran dalam nadanya. “Hanya letih, Ma. Tak perlu kau risaukan. Barangkali aku terlalu memaksakan diri membantu pekerja atau melaksanakan tugas-tugas yang tidak dibebankan untukku.” Mendustai Mama menjadi hal yang paling tak kusenangi. Apa boleh buat, hanya ini yang biasanya dapat diterima Mama sebagai penjelasanku. “Besok tidak perlu kau bantu pekerjaan mereka. Mama tak mau kau sakit. Kau tidak terbiasa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dibebankan untuk babu.” Mama mendorong pintuku hingga terkuak lebar. “Mau Mama nyanyikan pengantar tidur biar kau bisa nyenyak, Anakku?” Aku menggeleng. “Sebaiknya Mama istirahat juga.” “Kau ini, sudah bikin panik, menjawab pertanyaanku macam begini.” Ia tak mengindahkan permintaanku, alih-alih menerobos masuk ke dalam kamarku dan menggiringku menuju ranjang dengan dekapan hangat. Dibantunya aku naik ke atas dipan, lalu ia selimuti aku. Rambutku yang kubiarkan tergerai dibelai lembut. Dahiku dikecup dalam. Pipinya menyentuh pelipisku, sementara tangannya menggenggam tanganku yang dingin. “Rumah ini makin sepi, Nina,” bisiknya. “Ya....” Aku ikut berbisik. “Kau tak suka, Ma?” “Mama tidak terbiasa hidup dalam kesepian. Namun seperginya kau ke Utrecht, aku mengenal apa itu sepi dan memutuskan menjadikannya seteru. Aku sadar, aku tidak suka kesepian. Terlebih lantaran Papamu kerap meninggalkanku di sini bersama orang-orang yang tidak begitu kukenal baik, biarpun aku hidup bersama mereka selama beberapa tahun.” Helaan napasnya yang lembut nan hangat menyentuh kulitku yang dingin. Aku menahan gigilanku dengan melengkungkan badan dan melingkarkan tangan memeluk Mama. “Kan sekarang ada aku. Kau tak perlu merasa kesepian,” kataku lagi. “Ya, Anakku. Kau anakku, tak boleh ada seorang pun yang merenggutmu dariku.” “Kecuali Tuhan. Iya kan, Ma?” Ketercengangan Mama dapat kurasai hingga tulang-belulang. Kepalaku menengadah. Mata kami bertemu seperti sepasang sejoli yang saling mendambakan. Kulihat bayanganku di kedua mata gelap berkilaunya. Ia mengusap rambutku dan mendekatkan pipinya pada pelipisku lagi. Tak kudengar balasannya untuk kalimat terakhirku. Ia mendendangkan lagu pengantar tidurku agar membantuku terlelap cepat. Rumah ini baru kurasai sangat hening dan sepi. Sejak Mama Rukmini angkat kaki dari rumah ini dan memilih kembali ke kampung halamannya, abang tiriku lebih sering menginap di asrama atau rumah teman sekolahnya. Ia bilang padaku, tak butuh siapa-siapa lagi dan memutuskan hidup sendiri. Menjadi orang yang tidak kenal siapa pun, biarpun itu aku, atau Mama yang turut menyayanginya. Papa hanya mengirim telegram mengabarkan bahwa pekerjaannya mengurusi perkebunan di Buitenzorg memakan waktu lama. Bahkan ia berpesan akan mengajakku ke sana kapan-kapan, sebelum aku dikembalikan ke Nederland. Aku mulai memikirkan cara untuk kabur sebelum kereta kuda menjemput dan mengantarku ke pelabuhan. Tak boleh ada yang membawaku pergi, tidak seorang pun. Aku akan melawan ketidakadilan ini. Aku yang memiliki tubuhku. Mama yang mengandung dan melahirkanku. Akan kulakukan apa pun untuk menghindar. Berlari. Ke manapun. Yang penting bukan Nederland.   *   Jalan kaki di sepanjang malam bukanlah kebiasaanku. Tapi kali ini, aku mengikuti Ario dan Banu yang berniat mengajakku ke sebuah tempat yang tak pernah kulihat. Mereka bertukar obrolan menggunakan berbagai bahasa, selain Belanda. Barangkali sengaja agar aku tak dapat memahami apa yang dikatakan mereka. Padahal aku cukup mengerti inti pembicaraan mereka. Kubuat diriku tidak tahu-menahu, berpura-pura menjadi gadis bebal. Ekor mataku sesekali melirik mereka. Tampaknya obrolan mereka benar-benar serius. Hanya ada beberapa hal yang berhasil kutangkap. Jika menyusunnya menjadi paragraf, mungkin inti pembicaraan mereka menuju pada rencana setelah pesta kelulusan sekolah. Banu menyebut-nyebut akan meneruskan hobinya melukis bangsa halus semacam bidadari dari kahyangan atau Ratu Pantai Selatan, namun Ario hanya berdecak dan bergumam. Sungguh mengesalkan. Aku tak tahu apa yang dibicarakannya. “Jadi, kalian mengajakku hanya sebagai pemanis saja, hah?” Aku berhenti mendadak di depan mereka sembari berkacak pinggang. “Pribumi yang melihat bisa saja berdecak kagum dan memuja-mujaku. Lelaki pribumi mungkin menyimpan kedengkian pada kalian yang bisa mengajak seorang gadis sepertiku berjalan tengah malam. Siapa sangka ada orang jahat menguntit, hah? Mau kalian tanggung jawab kalau ada orang yang menculikku?” Tawa Banu menggelegak tak tertahan. Di sebelah, Ario menyikut sikunya. Matanya mendelik memberi peringatan yang seketika membuat Banu terbungkam. “Biarpun kau secantik Drupadi, tak akan ada yang berani menculikmu kalau tidak mau bernasib nahas seperti begundal yang mati di tangan anak-anak buah Papamu setelah menggoda Nyai....” Aku mengernyit mendengar penuturan Banu. Seakan sadar ia keceplosan, pemuda itu membungkam mulutnya sendiri. “Papaku? Membunuh orang?” “Eh... itu, kita sudah sampai.” Suara Ario yang kiranya mengalihkan pembicaraan berhasil membikin perhatianku berlabuh pada suatu arah. Aku melihat sebuah bangunan megah berdiri tak jauh dari tempat kami bergerombol. Belum kukeluarkan pertanyaan di pikiranku, tanganku ditarik. Aku berlarian kecil menyeimbangkan langkah cepat Ario dan Banu. Bertiga, kami menghampiri bangunan besar tersebut. Mataku melirik tanganku yang berada dalam genggaman hangat lelaki di sebelahku ini. Jika Papa melihat anaknya keluar malam-malam begini dengan dua lelaki, tak tahulah bagaimana nasibku. Semoga kaki tangan Papa tak memergoki kami. Berhenti di pekarangan bangunan, mataku menjelajahi setiap lekuk gedung khas Eropa ini. Suara ingar-bingar di dalam bangunan menyeruak sampai di tempatku. Ario menjelaskan, tempat itu adalah gedung milik orang Eropa yang digunakan sebagai tempat berpesta. Akan ada satu bangunan lagi, hendak dibangun di dekat bangunan ini. Barangkali bangunan yang ini akan dirobohkan dan dialihfungsikan sebagai gedung lain, begitulah menurut desas-desus yang menyebar di kota ini. Banu menyandarkan tangan pada sebatang pohon besar, tak jauh dari pintu masuk, berdecak beberapa kali membaca sebuah papan yang ditanggalkan di depan pintu kayu tersebut. Begini bunyinya:   Anjing dan Pribumi Dilarang Masuk   “Sudah merampas tanah orang, berlaku semena-mena, bertutur kata begitu pula.” Banu meludah jijik. “Londo bangsat.” “Ssshhh....” Ario memperingatkan kawannya. Barangkali karena eksistensiku di dekat mereka. “Coba kau tebak, berapa lama aku bisa menyusup ke dalam?” Sebelah alis Banu diangkat menantang. “Jangan sok berani kau, hey. Bisa ditendang pantatmu, dilempar ke jalan. Tak tahukah mereka bisa mengejarmu sampai rumah kalau kau nekad?” “Beuh... mereka tak bisa mengancamku. Lupa kau, heh? Aku tak lagi punya siapa-siapa. Orangtuaku mati ditembak kompeni. Bisa sekolah di HBS saja karena belas kasih majikan orangtuaku yang merasa kasihan. Kalau mereka tak sayang padaku, boleh jadi kita tidak bertemu dan berteman, berbagi pengetahuan, dan mengintip Noni-Noni cantik dari sini.” Tawa Banu menggelegak. Aku baru tahu ia seorang yatim piatu. “Kompeni tak akan berani macam-macam. Mana berani mereka datang ke rumah Londo yang merawatku.” Ario tak lagi menanggapi celotehan Banu. Dibiarkannya lelaki itu berjalan mengendap-endap, hendak menyelinap masuk bangunan sekadar mencuri makanan dan minuman dari sana. Boleh jadi ia berhasil menggoda Noni-Noni di tempat itu. Kini tinggallah aku bersama lelaki di depanku yang sedari tadi tiada bersedia melepas tanganku. Alih-alih, jemariku digenggamnya erat, lantas aku ditarik kian mendekat sampai di depannya. Jarak yang memisahkan kami tak begitu terlihat. Kurasakan debaran jantung, gemuruh aneh di d**a, darah seperti menolak dipompa jantungku, tersumbat di beberapa bagian anggota tubuh. Kutundukkan kepala sekadar menyembunyikan rona wajah yang memerah. Ia tak boleh melihatku begini. “Sebab aku tak bisa membawamu masuk ke dalam, apa boleh buat. Kita di sini saja,” katanya. Bunyi musik dansa terdengar sampai di tempat kami. Bintang gemintang tampak lebih gemerlapan. Rembulan bersinar lembut, membias tak kentara, namun sanggup menjadi penerang di tempat temaram ini terkecuali lampu-lampu lilin yang menghiasi pekarangan serta teras gedung pesta. Tanganku hangat dalam genggamannya. “Pernah berdansa?” tanyanya. Masih enggan melihat ke arahnya, aku mengangguk. “Oom Kaspar dan Tante Roos sering membuat pesta dansa di rumah mereka. Pernah satu kali aku hadir di pesta Ratu Wilhelmina. Sekiranya pertanyaanmu itu tak perlu kujawab lebih.” Daguku ditarik olehnya, membikinku menengadah. Kedua mata kami bertemu. Kehangatan dan kelembutannya dapat kurasakan dari sorot mata itu. Ia memiliki mata segelap dan secemerlang Mama. Mata pribumi memang indah. Seperti batu hitam yang menyimpan kekuatan sihir. Membuat siapa pun yang melihatnya takluk, tak berdaya di bawah kakinya. Bagaimana bisa hatiku dicengkeram sedemikian hebat? Perasaan tak menentu ini kian menggelitik relung hatiku. “Sebab apa kau enggan menatapku?” tanyanya, membuatku tertegun. Kepalaku menggeleng sebagai jawaban. Ia tak peduli terhadap balasan itu. Dibawanya aku lebih dekat, tangannya dilingkarkan di sekitar pinggangku. Musik dansa yang dimainkan dengan piano di dalam sana terdengar lebih lantang di telingaku. Senyum sumringah menyambutnya, sebagai permulaan sebelum aku bergerak dalam gandengannya. Angin malam meniup dedaunan di atas kami, membuat mereka rontok serampangan, jatuh mengitariku yang berputar di bawah gandengannya. Gaunku terkembang seperti kincir, mengikuti gerak-gerik lincahku, berpadu dengan musik, menyatu dengan malam. Sungguh, aku tak mudah dibuat tertawa sebahagia ini. Membuat tawa selepas ini rupanya butuh banyak waktu. Barangkali untuk orang yang siap mengisi kekosongan jemariku, hal itu bukanlah sesuatu yang sulit. Lagi, aku berputar di bawah gandengannya, merasakan embusan angin yang membelai rambutku, menyapu pipi dan dahiku. Kutengadahkan kepala berhadapan dengan langit, memejamkan mata, menghirup aroma damai, merasakan kehangatan yang melingkupiku. Lalu tangan yang melingkar di pinggangku menarik tubuhku ke depan. Ada yang menyambut bibirku dengan kecupan lembut, membikin mataku tak berkedip. Kulengkungkan senyum merekah, terkikik bagaikan anak kecil yang mendapatkan boneka baru. Ia memelukku lebih erat, seakan tak ingin melepasku barang sekedip. Angin kembali menyapa, saling berbisik bersama gemerisik dedaunan yang rontok dari dahan dan ranting rapuh, menyentuh rambutku. “Kalau boleh berkata jujur, ini bukan kali pertama aku jatuh cinta.” “Jadi aku bukan yang pertama?” Kekecewaan tak mampu kuelak. “Sekitar tiga wanita pernah mengisi kekosongan hatiku,” akunya. “Yang pertama, seorang Totok. Yang kedua, Eropa, datang dari Prancis. Yang ketiga, kau. Indische dengan kepribadian menyenangkan, pandangan menaklukkan, senyum memabukkan, dan pesona yang mampu menundukkan aku di bawah kakimu. Alsof ik niets anders nodig heb, alleen jou[1].” Kalimatnya membuatku menyengir, tertawa tanpa suara. “Mari, kita lanjutkan dansa malam ini, Dewiku,” pintanya. Dan aku kembali bergerak lincah di bawah rembulan, disaksikan gemintang, dalam keadaan baik-baik saja. Lebih dari itu, aku seperti hidup kian lama.   *****  Tidak ingin kembali ke Jakarta bukan berarti aku berniat menguntit Raka. Aku tak sebinal itu! Aku hendak mengupas tuntas rasa penasaranku terhadap Helenina. Kehidupannya. Mimpi yang tiba-tiba menghampiriku beberapa hari sebelum aku bertemu dengan duplikat Ario bukan tanpa sebab. Pembaca, kau boleh mengataiku gila, aku sudah berniat mendaftarkan diri di kelas terapi mental. Bahkan aku berniat menghubungi psikiater kenalan Mama. Jika semua jawaban yang kudapatkan perihal Helenina memuaskan, aku janji segera kembali ke Jakarta. Takkan kupedulikan lagi pria macam Raka. Kali ini tujuanku menyelidiki jejak Helenina adalah penulis artikel yang k****a di internet. Artikel itu ditulis lima tahun lalu. Beruntung aku berhasil mendapatkan identitasnya dari laman pribadinya. Baik. Aku sudah sampai di kantor tempat si penulis artikel bekerja sebagai jurnalis media cetak. Setelah mencari tahu namanya pada satpam, pada akhirnya aku dibawa menuju ruang kerja si penulis artikel. Sepengetahuanku dari data lamannya, ia bernama Mahesa Pangestu. Satpam yang mengantarku menuju ruang kerja Mahesa menunjuk ke sebuah arah. Di pojok sana, seorang pria berdiri membelakangiku sembari membaca-baca sebuah dokumen. Di tangannya terdapat cangkir dengan asap mengepul di udara. Senyum tulus dan ucapan terima kasih kuberikan pada satpam kantor media cetak ini. Aku berjalan khidmat menghampiri Mahesa dan berhenti di belakangnya. “Permisi. Anda Mahesa Pangestu?” “Hm, ya....” Lelaki itu menjauhkan cangkir dan memutar badan. Begitu bertatap muka denganku, ia terperanjat bukan kepalang. Lekas diletakkan cangkirnya ke atas meja. Matanya menelisikku dari puncak kepala sampai ujung sepatu. Aku menunduk mengamati penampilanku. Tiada yang salah dari celana belel, kaus dilapisi jaket denim, dan sepatu kets, kan? Sebelah alisku tertarik ke atas. Oh, tampaknya aku tahu mengapa. “Helenina,” ia memekik. Mataku berkedip. “Maaf, bukan.” Kuulurkan tangan ke arahnya tanpa kecanggungan. “Larasita Nareswari dari majalah Galeri Budaya Indonesia.” Rupanya ia tak berkeinginan berhenti mengamatiku. Uluran tanganku bahkan tiada mendapat sambutan. “Halo?” tegurku. Begitu kujentikkan jari di depan wajahnya, baru kesadaran tersedot masuk ke dalam otaknya. “H-hai.... Wah. Anda... Anda mengingatkan saya pada seseorang.” Kusunggingkan senyum sumringah. “Helenina Bregsma, bukan? Anda bukan orang pertama yang mengatakan demikian.” Sayangnya, Raka mungkin tidak seterkejut Mahesa. “Kedatangan saya kemari pun hendak mengajukan pertanyaan pada Anda perihal lukisan Helenina yang misterius. Saya membaca artikel Anda.” “Oh, silakan. Silakan duduk dulu.” Pria itu mempersilakan aku duduk di sofa. Aku mengangguk dan tersenyum. Kujatuhkan pantatku di atas sofa empuk ruang kerjanya. Aroma kasturi yang semerbak seperti aromaterapi sukses membuatku betah berada di sini. “Begini, eh....” Kepalaku terteleng ke satu sisi. “Esa. Dan tolong, bicara informal aja. Kita sesama jurnalis, kan?” Aku mengangguk. Kumajukan badanku ke depan. “Kemarin malam aku menemukan artikelmu dan tertarik membacanya. Mungkin kamu menganggapku gila seperti orang sebelumnya, terserah... tapi sebelum kamu mengusirku dari kantor ini, bisa kamu membantuku beberapa hal?” “Hmm... boleh aja. Asal bukan menyelundupkan narkotika atau senjata tajam, nggak masalah.” Aku tertawa dibuatnya. Terima kasih Tuhan, Engkau tak mengirimkan satu lagi orang macam Raka padaku. “Kamu pernah melihat lukisan Helenina?” “Ya, aku pernah melihat yang asli buatan Raden Mas Arianta. Kenapa?” “Begini...” Harus kuberitahu macam apa orang ini agar tak menganggapku gila? Semoga ia bukan tipikal pria idealis dan realistis seperti Raka. “Belakangan ini aku mengalami lucid dream. Di sana aku hidup sebagai Helenina dan memiliki kehidupan lain. Sejak itu, aku penasaran dengan sosok Helenina ini... apalagi sejak melihat salinan lukisannya.” Semoga ia tak menganggapku sinting dan mengusirku secara tak sopan dari kantornya. Aku menyilangkan jariku di bawah meja. Mahesa menganggukkan kepala, seperti berusaha menelan penjelasanku agar dapat diterima akal sehatnya. “Aku pernah dengar fenomena itu, tapi nggak pernah ketemu sama kebetulan macam gini....” Ia berdecak. “Kamu mirip sekali sama perempuan itu.” “Itulah kenapa aku berusaha mencari identitasnya. Mimpi itu nggak pernah berhenti, seperti jalinan cerita yang dirunut sampai selesai.” “Lukisan Helenina yang asli susah ditemukan lagi. Barang antik itu ada di suatu tempat, rumah khusus lukisan milik Bendara Raden Mas Arianta. Dan rumah itu nggak sembarangan bisa dimasuki orang. Apalagi wartawan. Waktu itu, lukisan Helenina dipamerkan secara terbuka, terus nggak pernah kedengaran lagi.” Aku mendesah putus asa. “Tapi kalau kamu pengen banget ke sana buat menjawab semua rasa penasaranmu... aku bisa mengantarmu. Di sana ada juru kuncinya juga. Tempatnya disakralkan. Jadi ada banyak aturan yang nggak boleh dilanggar, apalagi buat pengunjung asing.” “Oh, ya?? Boleh, boleh! Aku mau!” “Aku jemput ke rumah kamu.” “By the way, aku masih menginap di hotel buat sementara. Nanti kalau aku pindah ke tempat lain, aku kabari lagi.” Ia mengangguk. Tangannya menepuk pada lengan sofa. “Oke. Boleh bertukar nomor hape, kan? Bukan maksud modus loh ya....” “Ya bolehlah.” Aku terbahak. Wah, betapa beruntung aku bisa menemukan orang seperti ini, selain sosok mengesalkan Raka yang sudah membuatku jatuh dan meninggalkan sakit atas kalimatnya waktu itu. Kami bertukar nomor ponsel. Wah! Sungguh tak dapat kupercaya. Kendati belum menemukan jejak Helenina secara nyata, aku akan dibawa menyelami dunia Ario. Benar-benar tak dapat kupahami, bagaimana mungkin antara Ario dan Raka—yang amat sangat mirip dengannya—memiliki watak berbeda. Tapi kalau boleh jujur, aku pun berbeda dengan Helenina.   *  Aku telah meminta ijin pada atasanku untuk menetap sementara waktu di Surabaya—sampai misteri Helenina terpecahkan—dengan alasan yang sebetulnya tidak masuk akal. Mama memang lahir dan besar di sini, tapi aku tak mengenal kakek-nenekku, bahkan sampai mereka meninggal. Boleh kukatakan, Mama sudah lama tidak bersua dengan orangtuanya, semenjak ia nekad menikahi Papa. Mulanya kakek dan nenekku tidak setuju, itulah yang membuat Mama pergi dari rumah. Urusan cinta memang bisa sangat rumit. Mama pernah berkata padaku, aku tak boleh mengulang kesalahan yang sama. Cinta pada kekasih hanya sesaat, tetapi cinta pada orangtua berlangsung sampai akhir hayat. Dan lagi, seakan takdir tak dapat diputus dengan cara apa pun, Mama memberiku alamat rumahnya di Surabaya. Rumah peninggalan kakek-nenekku. Aku hampir menggerung putus asa dan menolak turun dari taksi ketika kusadari rumah itu berada di sebelah rumah Raka. Aku tidak mau disebut penguntit, hey! Skenario Tuhan kadang aneh. “Non, sudah sampai.” Sopir taksi menegurku untuk yang ke sekian kalinya. Ingin rasanya kukubur wajah ini ke dalam tong sampah. Rumah itu jarang dijamah. Biarpun tidak semewah rumah di sebelahnya yang memiliki luas tiga kali lipat lapangan sepak bola nasional, Mama bilang rumah itu menyimpan banyak kenangan. Waktu kutanya apakah ia mengenal pemilik rumah di sebelah rumah kakek, Mama menjawab dahulu di sebelah rumah tersebut hanyalah terbentang lapangan luas. Belum dibangun rumah megah nan mewah milik Raden Mas Raka Digdaya Suryadiningrat. “Non?” “Eh, iya, Pak.” Mau tak mau, aku akan menempati rumah itu barang sementara. Begitu rasa penasaranku terbayar sudah, akan kukepak barang-barangku dan angkat kaki dari sana. Tanpa sapa, tanpa berkenalan, tanpa bertatap muka dengan orang yang tinggal di sebelah rumah kakek. Mama pernah bilang padaku ia tak ingin menjual rumah peninggalan kakek. Pun, aku tak akan tinggal di sana. Siapa sangka tetanggaku itu akan menyebutku stalker? Pembaca, berani sumpah, aku tidak berniat menguntit. Aku mulai merasakan hidupku mirip sinetron. Koper-koper telah kukeluarkan dari bagasi. Aku mendesah pendek, membaca ulang alamat yang diberikan Mama. Katanya, ada seorang penjaga sekaligus tukang kebun di sana. Tak perlu meminta kunci, ia pasti membukakan pintu lebar jika melihatku. Lamunanku terpotong di tengah jalan begitu kudengar suara klakson mobil. Aku terenyak, memutar badan hendak memaki siapa pun yang dengan kurang ajarnya membikin jantungku hampir melompat pergi. Pintu mobil yang entah bermerek apa itupun terbuka, menampakkan lelaki bertubuh tinggi tegap dengan stelan rapi yang tak asing lagi di ingatanku. Kepalanya dimiringkan ke samping, menelaahku bagai melihat gelandangan. “Anda lagi.” “Anda lagi,” aku menirukan nada bicara Raka yang datar dan arogansi. “Emang seberapa sering aku datang ke rumah kamu?” Ia tidak terlalu terkejut mendengar pertanyaan yang kulempar. Meski dengan nada sentimen dan bahasa tak sopan. Matanya melirik koper-koperku. Sebelum ia bertanya, terlebih dulu aku menyambar, “Oh, sori, aku nggak maksud stalking. Itu rumah kakekku.” Kusandarkan tangan pada koperku, lalu berkacak pinggang. “Kenapa? Nggak terima? Nggak suka? Nggak seneng? Nih, kalau kamu nggak percaya, ini alamat yang dikasih Nyokap buat tinggal sementara di sini.” Kusodorkan kartu kecil di depan muka Raka yang menatapku monoton tanpa minat. “Saya tak menganggap Anda penguntit, Nona Nareswari,” katanya, menyingkirkan tanganku perlahan. “LARAS! Begini, biar nggak salah paham, aku kasih tahu ya. Selain punya tugas meliput di sini, masih berjejer tugas lain yang harus aku selesaikan.” “Seperti mencari jejak Helenina Bregsma yang membuat Anda penasaran setengah mati dan menganggap saya jodoh Anda?” Mulutku terbuka beberapa senti. Begitu mudah ia mengucapkan kalimat yang mempermalukan diriku seperti itu. Wajahku sontak memanas lantaran malu. Ia bisa sewaktu-waktu menyerangku dengan mengatakan aku wanita gila yang terobsesi padanya, sampai hati mengatakan bahwa ia jodoh yang dikirim Tuhan untukku. “Itulah mengapa ibu saya tidak pernah menceritakan dongeng pada saya. Kebiasaan seperti itu bisa mengganggu akal sehat manusia,” lanjutnya. Baru saja ia berkata apa? “Jadi, kamu pikir aku nggak punya akal sehat? Tukang imajinasi?” nadaku naik beberapa oktaf. “Saya tidak berkata seperti itu.” Tanpa menyelipkan kalimat pamit, ia memasuki mobilnya dan mengemudikannya melalui pintu gerbang yang terbuka dari dalam. Harga diriku seperti diinjak. Ini namanya bunuh diri sosial. Kutegaskan sekali lagi agar kau juga tak salah persepsi dalam menilaiku, pembaca. Aku bukan penguntit. Biarpun aku dibuatnya terperosok ke dalam daya tariknya, aku bukanlah wanita gila yang terobsesi padanya. [1] Seakan-akan aku tak membutuhkan apa pun, kecuali kau.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD