Keluarga Toxic

1147 Words
“PEREMPUAN SIALAN, GARA GARA KAMU SEMUANNYA JADI HANCUR. ANDAI SAJA KAMU BILANG KALAU KAMU YANG GODA AKU, MUNGKIN ARA GAK AKAN MENCERAIKAN AKU...!!" bentak Deo dengan suara kerasnya. "Sakit...hikss.....hikss....lepas....sakit....Deo..aku...aku...gak...bisa....nafas....shhhh!" ucap Vita terbata bata saat lehernya di cekik erat oleh Deo. "Kamu udah janji sama aku, kalau kamu mau nikahin aku. Tapi nyatanya kamu bohong Deo, kamu pembohong. Lihat aja burungmu pun kecil dan hitam. Sadar diri itu lebih penting b******k!" teriak Vita dengan nada kerasnya. Suara keras Deo menggema di kamar hotel yang sempit itu, lantang dan penuh amarah. "Dengar Vita sialan, walaupun punyaku kecil tapi kamu suka kan kamu puaskan dasar perempuan gak tau diri! Menyesal aku kenal sama kamu. Andai aja aku gak tergoda sama kamu mungkin gak akan kaya gini akhirnya. KAU BENAR BENAR PEMBAWA SIAL..!!" teriaknya dengan nada menghina. Wajah Vita memucat, matanya membulat penuh ketakutan saat Deo, dengan gerakan yang cepat dan penuh kekerasan, mengayunkan tangan dan menampar pipinya dengan keras. Tubuh Vita terhuyung, dan sebelum dia sempat menemukan keseimbangan, Deo sudah menarik rambutnya dengan kasar dan membenturkan kepala Vita ke dinding dengan kekuatan penuh. "Mati kau perempuan sialan! Kau tuai sendiri kamarmu itu. Aku gak akan dapat karma, karna kau sendiri yang menggodaku. Dasar perempuan murahan gak tau diri. Udah di kasih enak malah bikin hancur semuannya." raung Deo, suaranya bergema menambah kesan mencekam di ruangan itu. Vita mencoba melawan, tangannya mencoba mendorong Deo, tapi usahanya sia-sia. "ARGH, DEO, SAKIT! JANGAN GILA KAMU! Lepas hikss hikss sakit Deo, tolong lepasin sakit hikss hikss sakit" teriaknya dengan suara yang nyaris tak terdengar. Darah segar mengalir dari kepala Vita, membasahi rambut dan mengalir di dinding yang dingin. Dalam keadaan yang sudah tak berdaya, Vita terkulai pingsan. "Haha kasian sekali kamu Vita, kalau aja kamu nurut aku gak akan begini. Kau masih akan hidup enak. Tapi semuanya kau buat jadi sia sia. Aku jadi kehilangan Ara kan, padahal aku belum malam pertama dengannya. Sialan... Sialan... Sialan....!!" teriak Deo dengan raut wajah emosinya. Deo, yang tampak tak memiliki belas kasihan, dengan cepat memakai batrope dan keluar dari hotel, meninggalkan Vita yang tak sadarkan diri dalam keadaan berdarah dan sepi. Dengan langkah yang tergesa-gesa, Deo kembali ke rumah orangtuanya. Langit sudah sangat gelap, lampu-lampu di jalan mulai menyala, memberikan cahaya temaram pada langkah kaki Deo yang berat. Sesampainya di rumah, suasana tidak kalah tegangnya. Mama Siska, dengan ekspresi sinis, menatap anaknya yang baru saja masuk. "Kenapa kamu pulang hmm, tak betah dengan Ara? udah Mama bilang Ara itu bukan perempuan yang pantas buat kamu. Dia itu perempuan modal tampang doang. Jadi kenapa pulang?" tanyanya dengan nada yang tajam dan penuh curiga. Deo hanya diam, tidak menjawab, kepalanya tertunduk, seolah mencoba menyembunyikan rasa bersalah yang kini mulai menyesakkan dadanya. Suasana di rumah itu pun seolah membeku, hanya diisi oleh hening yang sesekali dipotong oleh suara langkah kaki di lantai kayu. "Ayo bilang sama Mama, benar bukan tebakan Mama. Pasti Ara udah enggak Virgin kan? Kamu tuh ya udah Mama kasih tau masih aja ngeyel. Sukurin sekarang kamu sendiri yang kecewa kan." ucap Mama Siska sambil melirik sini anak laki lakinya itu. "Ini semua gara gara Mama, kalau aja Mama enggak nyodorin Vita ke Deo. Deo gak akan di gugat cerai sama Ara Mah. Mama tau, Vita itu perempuan murahan dia goda Deo mah. Sampai kita kepergok Ara waktu di hotel. Aku kehilangan Ara gara gara Mama!! teriak Deo dengan nada marahnya. Tentu saja Mama Siska langsung menjerit senang, "jadi kamu udah nana ninu sama Vita. Yes akhinya tujuan ku tercapai juga. Dengan begini kamu harus tanggungjawab sama Vita. Nikahin di Deo." titah Mama Siska dengan nada tegasnya. "Apa nikahin Vita? gak sudi. Aku gak sudi Mah. Mama aja yang nikahin Vita, aku tadi sudi dengannya. Dia jelek krempeng mah." tolak Deo mentah mentah. "Husstt kamu jangan ngomong gitu, yang penting duit orangtua Vita banyak. Kamu bisa manfaatin dia. Harus pintar dong jadi laki laki tuh. Dasar bodoh kamu tuh ya Deo." cemooh Mama Siska. BRAK! Deo langsung menggebrak meja ruang tamu dengan kerasnya hingga Mama Siska kaget bukan main. "AKU GAK MAU, JANGAN PAKSA DEO MAH...!!" teriak Deo dan langsung pergi ke dalam kamarnya. BRAK! Pintu itu di tutup dengan kerasnya oleh Deo. "Dasar Deo anak gak tau diri, awas ajak kalau gak mau nurut sama Mama kali ini. Mama coret dari KK kamu." ucap Mama Siska dengan raut wajah kesalnya. Malam itu, ruangan kerja Xavier berubah menjadi medan pertempuran digital. Cahaya lampu yang redup seolah menambah ketegangan yang mencekam. Xavier, dengan raut wajah yang kesal dan mata yang terlihat menyala-nyala, menatap tajam ke arah Fero yang kini tengah duduk di depan laptopnya. BRAK! "Kenapa cari data satu perempuan aja gak bisa kamu Fer, apa kemampuanmu sudah menurun hah?! Kau cari lagi pakai oke Alfa milik ku sekarang, cepat!!" teriak Xavier, suaranya memenuhi seluruh sudut ruangan, membuat Fero merinding tak karuan. Fero, yang biasanya tenang, kali ini tampak keringat dingin mengucur di pelipisnya. "Maaf King, semua datanya dilindungi. Aku sudah menembusnya," sahut Fero dengan nada yang berusaha tetap tenang, meski jantungnya berdegup kencang. Xavier mendesis, tidak puas dengan jawaban itu. "Cari sampai dapat sekarang juga. Aku gak peduli," ujarnya dengan nada tegas yang tidak terbantahkan. Itulah Xavier, seorang pemimpin yang selalu mendapatkan apa yang dia inginkan, tidak peduli harus berapa lama atau seberapa sulitnya. Fero kembali mengotak-atik laptopnya, jari-jarinya menari-nari di atas keyboard dengan kecepatan yang mengagumkan. "Keamanan bisa dibobol pakai kode ini King," gumamnya pada diri sendiri. Setelah beberapa menit yang terasa seperti jam, layar laptopnya akhirnya menunjukkan informasi yang mereka cari. "Namanya Ara Davinci, anak tunggal dari Tuan Kaivan Davinci dan Nyonya Sania Davinci, terkaya nomor dua di Asia, Xav," lapornya sambil menoleh ke Xavier, menunggu reaksi dari sang bos. Wajah Xavier yang semula tegang, perlahan berubah. Sebuah senyum licik terukir di bibirnya saat ia mendengar informasi tersebut. "Bagus, Fer. Akhirnya kamu menunjukkan kualitasmu lagi," puji Xavier, membuat Fero sedikit lega namun masih waspada. Xavier kemudian berdiri, berjalan mondar-mandir sejenak sambil merenungkan langkah selanjutnya. Ara Davinci, seorang wanita yang memiliki koneksi dan pengaruh besar, bisa menjadi kunci dalam banyak rencana besar yang telah lama ia susun. "Siapkan segala yang kita butuhkan untuk mendekati Ara. Mulai dari latar belakang keluarganya, kebiasaannya, hingga lingkaran sosialnya," perintah Xavier dengan suara yang penuh kalkulasi. "Kita harus bergerak cepat dan hati-hati, Fer. Ara Davinci bukanlah target yang mudah." Fero mengangguk, penuh determinasi. Malam itu, mereka berdua tahu bahwa sebuah permainan baru saja dimulai, permainan yang penuh dengan intrik dan strategi. Dan Xavier, seperti biasa, bertekad untuk keluar sebagai pemenang. "Jadi kau benar benar mencintainya kawan? Akhirnya kau tak belok lagi sekarang." celetuk Fero sambil terkekeh pelan. "Belok matamu....!" sahut Xavier dengan raut wajah kesalnya. "Aku memang mencintainya, kenapa memangnya masalah buatmu?" tanya Xavier sambil melirik sinis Fero. "Gak masalah sih bos, kau memang hebat sekalinya jatuh cinta dapat spek premium kalau ini mah." “Ya, gak sepertimu yang selalu dapat bekasan, cih! menjijikkan.” jawab Xavier sambil terkekeh sinis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD