"Hmm, memang. Gak kaya lo yang sering celup sana celup sini. Kena penyakit baru tau rasa lo." cetuk Xavier.
Tentu saja Fero langsung kene mental, emang ya bos sekaligus sahabatnya ini tak punya hati.
"Jangan gitu dong bos, cobain sekali aja pasti nanti langsung ketagihan." ujar Fero sambil terkekeh pelan.
"Now, tapi yes kalau sama Ara nanti." sahut Xavier sambil tersenyum sinis.
"Dah lah bos halalin aja buruan, sepet banget mata gue tiap pergi ke mana mana gak pernah punya gandengan lo." ujar Fero.
Xavier langsung menatao tajam Fero, "Emang minta di robek mulut lo ya." ujar Xavier dengan raut wajahnya kesalnya.
Di ruang produksi, suara mesin dan peralatan berbunyi keras mengisi kesunyian malam.
Xavier berjalan dengan langkah tegas menuju meja kerja, di mana Fero dan beberapa pekerja lain sedang sibuk merakit senjata.
Cahaya lampu neon memantulkan bayangan tajam di dinding-dinding ruangan yang sangat luas itu.
"Pastikan semuanya beres sebelum besok sore, tak ada kesalahan yang diperbolehkan," perintah Xavier dengan suara keras dan tanpa emosi, menggetarkan ruangan yang sudah tegang.
Fero mengangguk cepat, "Siap, bos. Oh, iya, jangan lupa cek dokumen yang warna biru itu. Anda harus menandatanganinya, bos." Ucapnya sambil menunjuk ke arah tumpukan dokumen di sudut meja.
Xavier hanya mengangguk singkat, "Hmm, keluar," jawabnya dingin, menolak segala percakapan lebih lanjut.
Aura kepemimpinannya yang keras membuat ruangan itu seakan membeku.
Saat Xavier beranjak pergi, Fero menatap punggung bosnya dengan rasa frustrasi yang mendalam.
"Napa diam? Mau makan gaji buta lo?" ujar Xavier tanpa menoleh ke belakang, suaranya menggema menambah ketegangan yang sudah terasa.
Fero mengerutkan kening, mengepalkan tangan, namun dia tahu dia tidak bisa berbuat banyak.
Ia kembali ke meja kerjanya, menyesuaikan kacamata pengaman, dan melanjutkan pekerjaannya dengan tekun, sementara hatinya bergolak dengan perasaan tidak dihargai dan terusik.
"Emang gila punya bos kaya gini. Dah lah Fer terima nasib aja daripada lo gak di kasih bonus nanti sama pak bos." ucapnya pada dirinya sendiri.
Pekerja lain di ruangan itu saling bertukar pandang, masing-masing dengan kecemasan mereka sendiri, tetapi tak seorang pun berani bersuara.
Xavier memang dikenal sebagai bos yang tegas dan tak pernah memberikan ruang untuk kesalahan atau kelemahan.
Di luar ruangan produksi, langit malam yang gelap menyelimuti pabrik, lampu-lampu pabrik yang redup hanya menambah suasana suram yang sudah ada.
Semua pekerja tahu, besok adalah hari penting, dan mereka harus memastikan semuanya sempurna.
Xavier tidak akan menerima alasan apapun jika ada yang terjadi di luar rencana.
"Terima bonus kalian jika semuanya berjalan lancar." ucap Xavier dengan nada dinginnya.
Ia langsung keluar dari markasnya. Entahlah malam ini ia sangat malam di dalam markas.
Dengan cepat ia kelaur dan masuk ke dalam mobilnya.
"Sial, kenapa kamu terus menari narik di kepela aku baby, kamu memang nakal sayang. Terima hukumanmu nanti ya." ucap Xavier sambil tersenyum miring.
Namun senyumnya itu langsung pudar saat ini teringat sama berkas yang baru saja di bacanya.
Jelas jelas di sana tertera jika Ara Davinci sudah menikah dengan lelaki yang bernama Deo Ardani.
"Baby siapapun kamu, apapun status sosial kamu dan apapun status hidup kamu. Aku tak peduli, Aargh Deo sialan, awas saja akan ku bunuh kau nanti. Kenapa bisa aku kalah cepat, kenapa Ara harus melakukan yang pertama dengan suaminya sih. Memang sialan lelaki itu." ucapnya dengan raut wajahnya penuh amarah. Kedua tangannya mencengkeram erat stir mobilnya.
"Ku pastikan, kau sebenar lagi akan cerai dari suamimu baby. Kamu cuma milikku, milik Xavier King Danendra selamanya." lanjutnya sambil terkekeh sinis.
"Ouhh sial, gue lupa sesuatu. uhukkk... uhukkk... " sungguh tenggorokan Xavier rasanya sangat sakit. Bahkan kini ia susah untuk bernafas.
Dengan cepat tangannya langsung membuka dasbor mobilnya, ia mengambil sesuatu dari dalam sana lalu dengan cepat meminumnya.
"Huffff untung masih ada sisa satu botol kalau enggak, udah gue pastiin inilah akhir hidup gue." ucapnya sambil menghela nafas beratnya.
Ya Xavier punya penyakit langka ia tak bisa makan apapun kecuali ayam dan ikan bahkan nasi pun tak bisa.
Ia punya kelainan sejak bayi, bahkan sampai sekarang ia harus selalu minum asi karna tubuhnya tak akan sangat lemas kalau tak minum asi.
Itu pun asinya yang yang premium jika tidak ia akan langsung alergi.
"Arghh sial, ini Mama gimana sih, masa anaknya sendiri di kasih Asi gak premium gini. Jadinya alergi kan. Bikin repot aja." ucap Xavier dengan raut wajahnya kesalnya.
Bahkan lehernya kini memerah semua.
Sedangkan Ara ia berdiri di bawah pancuran, air dingin mengalir di tubuhnya, mencoba menghapus semua kekecewaan dan rasa malas yang menggelayut di hatinya.
Pikirannya melayang ke peristiwa siang tadi, pernikahan yang seharusnya menjadi momen paling bahagia dalam hidupnya, namun berakhir menjadi sebuah pertunjukan yang gagal.
"Aih ngapain sih gue harus mikirin cowok murahan kaya dia, apalagi itunya hitam dan kecil banget. Euww jijik banget." ucap Ara sambil bergidik ngeri.
Pokoknya gue harus jadi janda yang menggoda, harus cantik paripurna. Gak boleh kalah sama si Vita pelakor itu.
"Spek kaya Deo mah gak pantes gue galauin." ucapnya sambil terkekeh pelan.
Setelah mandi, Ara mengeringkan rambutnya dan mengenakan piyama yang paling nyaman.
Langkahnya menuju dapur, dimana ia memutuskan untuk membuat secangkir coklat panas.
Cairan coklat yang kental dan hangat perlahan-lahan tercipta dari campuran bubuk coklat dan s**u, menguar aroma yang menenangkan.
Dengan cangkir di tangan, Ara naik kembali ke kamarnya.
Kamar Ara terasa sepi dan hening. Ia duduk di samping balkon, menatap kegelapan malam yang hanya diterangi oleh cahaya bintang yang redup.
Pikirannya melayang kembali ke pertanyaan yang sempat terucap dari bibirnya sendiri.
"Kalau gue janda apa ada cowok yang mau sama gue ya? Jadi insecure kan guenya." Kata-katanya menggema dalam keheningan, seolah menambah bobot pada kekhawatiran yang sudah ada.
Tiba-tiba, suara ponselnya berdering memecah keheningan.
Ia menjangkau ponsel di meja samping tempat tidurnya dan melihat nama "Mama" terpampang di layar.
"Lah ini ngapain Mama telfon, kan akunya di rumah. Emang aneh ini Mama gue." ucapnya dengan sangat heran.
Ara mengangkat panggilan itu, "Halo, Ma."
"Halo, Sayang. Papa dan Mama mau kasih tahu, kami akan ke luar negeri dua bulan ya, untuk urusan bisnis," ucap suara Mama di seberang sana, suara yang selalu membuat Ara merasa lebih tenang.
"Oke, Ma. Hati-hati di sana ya," jawab Ara, mencoba menyembunyikan kegundahan hatinya.
"Kamu gimana? Masih sedih?" tanya Mama, suaranya penuh kekhawatiran.
Ara menghela napas, "Sedih? hellow ya enggak mungkin lah mah. Ngapain sedih kehilangan spek barang bekas itu. Mending nyari yang baru Ara Mah."
"Kamu kuat, Sayang. Jangan lupa, Mama dan Papa selalu ada untuk kamu," ucap Mama, suaranya lembut dan menghibur.
"Iya, yaudah Mama sama Papa baik baik di sana ya." ucap Ara sebelum memastikan sambungan telfonnya.
"Iya baby girl, tenang saja kami aman. Mau oleh oleh apa nanti chat ke Papa ya, uang jajan ya udah Papa tranfer 5 Triliyun cukup kan untuk 2 bulan?" tanya Papa Kai.
"Huaa itu lebih dari cukup makasih Papa, dadah Papa dadah Mama. Hati hati ya, love you emuach." ucap Ara dan langsung mematikan sambungan telefonnya.
Ya memang dari dulu Ara sudah biasa di tinggal kedua orangtuanya, namun bagi dia gak papa yang penting jajannya lancar hehe.
Ara memejamkan mata, mencoba meresapi kata-kata Mama. Setelah menutup panggilan, ia kembali menatap keluar balkon, membiarkan pikirannya terbawa angin malam.
Cangkir coklat panas masih tergenggam di tangannya, memberikan sedikit kehangatan di tengah dinginnya malam.
Di tengah keramaian pikiran dan kekhawatiran tentang masa depan, Ara mencoba mengumpulkan keberanian untuk menghadapi hari esok.
Sebuah senyuman tipis menghiasi wajahnya, sebuah pengingat bahwa meskipun hari ini terasa berat, masih ada harapan untuk hari esok yang lebih cerah.
"Aarghh shhh emmm sakit banget ininya, aduh kenapa harus rembes lagi sih asinya, kan tadi udah aku pompa. Kenapa bisa keluar sebanyak ini? ya ampun gue harus gimana?" ucap Ara sambil mengigit bibir bawahnya sendiri.