BRAK! Suara telapak tangan Papa Kai menghantam meja kayu jati di ruang tengah mansion, membuat cangkir teh bergetar dan hampir terbalik. Ara tersentak kecil, refleks menggenggam lengan Xavier. Tapi Xavier tidak bergerak. Ia tetap berdiri tegak, rahangnya mengeras, matanya lurus menatap pria yang akan menjadi ayah mertuanya itu. “Aku nggak bercanda, Xavier,” ulang Papa Kai, suaranya berat, mengandung tekanan yang tak main-main. “Pernikahan ini bukan cuma soal cinta. Ini soal tanggung jawab. Soal harga diri anakku.” Mama Sania menatap keduanya dengan napas tertahan. Ia tahu tatapan itu tatapan dua pria yang sama-sama keras kepala, sama-sama tidak mau mundur. Ara membuka mulut. “Pa,” Xavier mengangkat tangan sedikit, isyarat halus agar Ara diam. Bukan kasar. Justru penuh kendali. “Biar

