Lampu-lampu mansion padam satu per satu, menyisakan cahaya redup dari lorong dalam. Di luar, malam tidak lagi sunyi. Ia berdenyut seperti binatang besar yang menunggu aba-aba untuk menerkam. Xavier berdiri di tengah ruang tamu, jasnya sudah dilepas, senjata kecil kini tergenggam di tangan kanan. Sikapnya berubah. Bukan lagi pria yang baru saja bicara soal pernikahan, tapi sosok yang telah lama dikenal dunia dingin, terukur, dan mematikan. “Ara,” katanya tanpa menoleh. “Berdiri di belakangku.” Ara tidak bergerak. “Ara,” ulangnya, kali ini lebih tegas. “Aku di sampingmu,” jawab Ara pelan. “Bukan di belakang.” Xavier menoleh. Untuk sesaat, wajahnya melunak bukan karena situasi membaik, tapi karena ia tahu, perempuan di depannya tidak akan mundur lagi. “Bahaya sayang.” katanya akhirnya.

