“Berikan nyawamu, Xavier….” Kalimat Papa Kai menggantung di udara, berat, tajam, seperti peluru yang dilepaskan tanpa aba-aba. DEG! Ara refleks menahan napas. Jantungnya seakan berhenti sepersekian detik. Tapi di luar dugaan, Xavier tidak menegang. Tidak marah. Tidak defensif. Ia justru tersenyum miring. Tangannya melingkar dari belakang, memeluk Ara erat bukan untuk bersembunyi, melainkan untuk menegaskan posisi. Ara merasakan detak jantungnya. Stabil. Tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja ditantang dengan nyawa. “Nyawa saya?” ulang Xavier pelan. “Sejak saya memilih Ara, nyawa saya memang bukan milik saya sendiri lagi, Pah.” Papa Kai menatapnya tanpa berkedip. “Kata-kata mudah dasar anak muda.” Xavier menggeleng kecil. “Tidak. Kata-kata mudah adalah janji. Nyawa ad

