Mobil melaju meninggalkan sisa bara gudang yang perlahan memudar. Udara malam dingin, tapi ketegangan masih terasa di setiap detik. Ara menatap lengan kirinya, darah tipis bercecer. Sebuah goresan yang seharusnya kecil, tapi cukup untuk membuat Xavier menegang dan matanya membara. “Xav lihat lengan aku” bisik Ara pelan, mencoba menahan rasa sakit, tapi suaranya memancing reaksi cepat suaminya. Xavier menoleh seketika, wajahnya berubah keras, rahangnya mengeras. “Sayang! Lihat ini, kau terluka karena aku lengah?” ujarnya, suaranya rendah tapi menggema di dalam mobil itu. Kedua tangan mengepal di setir, tapi matanya tak lepas dari Ara. Panas kemarahan dan ketakutan bercampur, membuat udara di mobil terasa berat. Ara mengangkat kedua tangan, pelan. “Hey aku nggak papa, jangan marah kayak

