Kesayangan Ibu Mertua

1116 Words

Pagi berikutnya datang dengan cepat tanpa drama. Hujan semalam menyisakan aroma tanah basah yang masuk lewat jendela-jendela tinggi mansion, bercampur wangi kopi yang sudah diseduh lebih dulu oleh staf dapur. Ara terbangun dengan posisi setengah terlentang, satu tangan Xavier masih melingkar di pinggangnya. Pegangan itu tidak sangat nyaman buat Ara. Seolah bahkan dalam tidur, ia memastikan Ara tetap di tempat yang aman. Ia tidak langsung bergerak. Ada momen-momen tertentu yang tidak perlu diburu. Detik-detik di mana dunia terasa tidak meminta apa pun darinya. Tidak keputusan. Tidak keberanian. Tidak kewaspadaan. Xavier membuka mata beberapa detik kemudian. Tidak kaget. Tidak refleks defensif. Itu sendiri sudah jadi kemajuan. “Kamu bengong sayang,” katanya pelan. Ara tersenyum tanpa me

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD