Minta Empat Anak Boleh, Sayang?

1454 Words

Pagi di mansion Xavier datang terlalu tenang, seperti napas yang ditahan dunia setelah semalam nyaris pecah. Cahaya matahari menyusup lewat jendela tinggi, memantul di lantai marmer yang kini kembali bersih tak ada sisa keributan, tak ada jejak darah. Seolah malam hanyalah mimpi buruk yang dipaksa dilupakan. Ara terbangun lebih dulu. Ia duduk di tepi ranjang, menautkan jemarinya, mendengarkan denyut rumah yang perlahan hidup. Dari jauh, langkah-langkah pengamanan berganti shift. Ritme yang ia kenal aman, tapi tidak pernah benar-benar santai. Xavier muncul dari kamar mandi dengan kemeja putih yang digulung hingga siku. Wajahnya kembali dingin, rapi. Hanya matanya yang masih menyimpan kilat gelap sisa semalam. “Pagi,” katanya. Ara menoleh, menilai. “Pagi. Kamu tidur?” “Cukup.” Ia mengh

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD