Ara menepis tangan Xavier, bukan dengan panik, tapi dengan kekesalan yang nyata. “Xav,” katanya tegas. “Jangan bercanda kayak gitu sekarang.” Xavier berhenti. Itu saja sudah cukup untuk membuat ruangan berubah. Ia mundur setengah langkah, matanya menajam, bukan marah melainkan sadar. Tangannya turun, memberi jarak yang jelas. “Maaf,” ucapnya pelan. “Refleks.” Ara menghembuskan napas, duduk lebih dalam di sofa. Jantungnya masih berdetak terlalu cepat, bukan karena sentuhan, tapi karena semua yang terjadi hari ini akhirnya menyusul sekaligus. “Aku capek,” katanya jujur. “Bukan cuma fisik. Kepalaku berisik sayang.” Xavier mengangguk. Ia duduk di lantai di depan Ara, bukan di sebelahnya. Posisi rendah. Tidak dominan. Itu jarang. “Ngomong,” katanya. “Aku denger baby.” Ara menatap sua

