Ara tidak merasa diawasi. Itu yang membuat segalanya berbahaya. Mobil melaju tenang di jalan kota. Dua pengawal duduk di depan, berpakaian kasual, nyaris tak mencolok. Ara duduk di kursi belakang, ponsel di tangan, membalas pesan Mama Dita sambil tersenyum kecil. Obrolannya ringan. Tentang belanja. Tentang kain. Tentang makanan. Hampir hidup normal. Tapi di persimpangan ketiga, sesuatu terasa salah. Bukan karena suara. Bukan karena gerakan. Lebih ke irama. Ara menatap keluar jendela. Toko-toko berjejer rapi. Orang lalu lalang. Tidak ada yang mencurigakan. Tapi mobil di belakang mereka sedan abu-abu sudah berada di jarak yang sama sejak dua lampu lalu lintas lalu. “Pak,” ucap Ara pelan. “Kita belok kanan, bukan?” Pengawal di depan melirik spion. “Iya, Nyonya.” Lampu sein menyala. Mo

