Mobil berhenti di halaman mansion. Mesin mati. Tapi ketegangan di dalam kabin belum ikut turun. Ara masih memeluk dirinya sendiri. Jaket Xavier menutupi bahunya, tapi dingin yang ia rasakan bukan dari udara. Xavier turun lebih dulu, membuka pintu Ara dengan gerakan pelan. Tangannya terulur, menunggu. Tidak memaksa. Ara menatap tangan itu beberapa detik, lalu menerimanya. Begitu kaki Ara menyentuh lantai marmer, dunia seakan kembali bergerak. Lampu-lampu menyala hangat, para penjaga berdiri di posisi masing-masing. Semua tampak normal. Terlalu normal, setelah apa yang baru saja terjadi. Di dalam kamar, Ara langsung duduk di tepi ranjang. Tangannya gemetar halus, baru sekarang terasa. Xavier menutup pintu. Mengunci. Baru kemudian mendekat. “Ara,” panggilnya pelan. Ara tidak menoleh.

