“Xav aku takut kalau seandainya aku ma…” Xavier langsung mengangkat wajah Ara. Tangannya menutup mulutnya, bukan dengan kasar, tapi tegas. Seolah kata itu racun. “Jangan,” katanya rendah. “Jangan selesaikan kalimat itu.” Ara menatapnya. Mata yang masih lembap, tapi jujur. Tangannya menggenggam kemeja Xavier seakan itu satu-satunya jangkar di dunia. “Aku cuma takut,” bisiknya. “Takut suatu hari nanti aku jadi beban.” Xavier menghela napas panjang. Ia menarik tangan Ara dari bibirnya, lalu mengecup jemarinya satu per satu. Gerakannya lambat, penuh kepemilikan yang tidak ia sembunyikan. “Kamu bukan beban,” ucapnya. “Kamu pusat gravitasi hidupku sekarang sayang. Jangan pernah bilang yang enggak enggak lagi. Kamu sangat berharga buat aku baby girl.” Ara tersenyum kecil, tapi senyum itu t

