“Baby?” Ara menatap pria di depannya dengan ekspresi tidak percaya. “Lo manggil gue apa barusan? Gila ya? Kita kenal juga enggak.” Tubuhnya refleks mundur setapak, bulu kuduknya berdiri. Tatapan pria itu terlalu tenang dan justru itu yang bikin Ara merinding. Xavier terkekeh pelan, lalu turun dari brankar dengan santai, seolah ruangan itu miliknya. “Ngapain lo turun hah?!” suara Ara meninggi. “Jangan deket-deket gue. Mundur!” Xavier berhenti hanya satu langkah dari Ara. Tidak menyentuh. Tidak juga memaksa. Tapi kehadirannya cukup membuat napas Ara tersendat. “Tenang,” ucapnya ringan. “Gue cuma mau lihat lebih dekat.” “Gue nggak minta!” bentak Ara. Xavier menatap wajahnya lama, lalu mengangkat tangan jarinya hanya menyentuh dagu Ara sekilas, cukup untuk membuat Ara menepisnya kasar.

