Angin malam menyusup lewat celah balkon, tapi hawa di dalam apartemen itu jauh lebih menekan. Ara berdiri memunggungi Xavier, memeluk dirinya sendiri, seolah itu satu-satunya hal yang bisa menahan tubuhnya agar tidak runtuh. “Ara,” suara Xavier terdengar pelan, tapi tekanannya membuat jantungnya seperti diremas, “kapan kamu mau berhenti kabur dariku?” “Aku nggak kabur,” Ara mengangkat dagunya, walau suaranya bergetar. “Aku cuma… butuh waktu.” Xavier mendekat. Langkahnya berat, tenang, tapi membawa ancaman lembut yang membuat tengkuk Ara merinding. “Waktu untuk apa? Untuk berpikir apakah aku akan menyakitimu? Atau… untuk mengingat Deo lagi?” Nama itu membuat napas Ara langsung pecah. “Jangan bawa-bawa dia.” Ara memalingkan wajah. “Tapi dia masih ada di kepala kamu.” Xavier menyentuh d

