Di Bantai Suami Sendiri

830 Words

Bisikan Xavier itu tidak keras. Justru karena pelan dan serak, Ara langsung tahu itu bukan candaan. “Minta jatah boleh?” napasnya menyentuh telinga Ara. “Kemarin udah libur. Rasain punyaku bangun, kan.” Ara tidak menjawab dengan kata-kata. Tubuhnya bergerak lebih dulu, refleks, mencari posisi yang lebih dekat. Tangannya mencengkeram kemeja Xavier, seolah itu satu-satunya pegangan yang ia miliki. “Shhh… Xav,” gumamnya, napasnya tidak lagi stabil. Itu cukup. Xavier tidak perlu izin kedua. Ia menarik Ara ke dalam pelukannya dengan gerakan yang tegas tapi terkendali bukan kasar, bukan tergesa. Dominasi Xavier selalu seperti itu: tidak perlu dipamerkan, karena Ara bisa merasakannya di setiap sentuhan, di setiap keputusan kecil yang ia ambil tanpa ragu. Lampu kamar tidak pernah dinyalaka

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD