Perjalanan ke rumah sakit dilakukan tanpa ada kendala musuh, tapi ketegangan tetap terasa di udara. Xavier duduk di kursi belakang, Ara bersandar di sisinya. Tangannya tidak lepas sedetik pun dari jemari istrinya. Cara ia menggenggam bukan menahan, tapi memastikan seolah dengan itu saja ia bisa mengontrol semua kemungkinan buruk. Ara meliriknya dari samping. “Kamu tegang,” gumamnya. “Aku waspada sayang. Aku bawa kamu jadi gak boleh lengah.” koreksi Xavier. “Itu bahasa halusnya dari panik.” Xavier menghembuskan napas pelan. “Aku cuma gak suka hal yang menyangkut tubuh kamu tapi di luar kendali aku.” Ara tersenyum kecil. “Aku masih hidup, masih utuh.” “Dan harus tetap begitu,” balas Xavier datar. Mobil memasuki area rumah sakit ternama itu tenang, eksklusif, dan steril. Begitu turun,

