Ledakan kaca itu bukan yang terakhir. Peluru berikutnya menghantam dinding, membuat serpihan batu beterbangan. Xavier sudah bergerak sebelum Ara sempat menjerit kedua kalinya. Tubuhnya menutup Ara sepenuhnya, satu tangan menarik Ara ke lantai, tangan lain mengeluarkan senjata dari balik pinggang. “Diam. Jangan bergerak,” perintahnya rendah, penuh kontrol. Ara menutup mulutnya sendiri, menahan napas. Detak jantungnya menghantam telinga. Ia mencium bau mesiu, dan logam bau dunia Xavier yang selama ini hanya ia lihat dari bayangan. Pintu kamar jebol. Dua sosok bersenjata masuk, terlalu percaya diri. Kesalahan pertama. Xavier menembak tanpa ragu. Satu jatuh sebelum sempat berteriak. Yang kedua mencoba berbalik, tapi peluru menghantam bahunya, lalu kakinya. Ia roboh sambil mengerang. “C

