Keputusan itu datang lebih cepat dari yang Ara harapkan. Rusia. Satu kata yang membuat udara di ruang kerja Xavier berubah dingin, meski pendingin ruangan tak disentuh siapa pun. Peta besar Eurasia terpampang di layar utama, titik merah berkedip pelan di wilayah bersalju, menandai kepentingan lama yang kembali bangkit. Xavier berdiri dengan tangan bersedekap, rahangnya mengeras. Ara duduk di kursi kulit hitam di sisi meja, menatap layar tanpa berkedip. “Berapa lama?” tanya Ara akhirnya. “Tujuh hari,” jawab Xavier singkat. “Maksimal sepuluh hari.” Ara mengangguk pelan. Tidak ada drama. Tidak ada larangan. Tapi Leon yang berdiri di dekat pintu bisa merasakan ketegangan yang tak terucap. “Ini gak bisa diwakilkan?” Ara bertanya lagi, kali ini menoleh pada Xavier. Xavier menatapnya. “T

