Gudang itu seharusnya kosong. Bangunan tua di pinggiran kota itu sudah lama tak tercatat sebagai aset aktif. Cat dindingnya mengelupas, atap seng berderit setiap kali angin lewat, dan bau oli bercampur debu menempel di udara. Secara logika, tempat itu terlalu sepi untuk dijadikan apa pun selain bangunan mati. Dan justru karena itulah Ara memilih datang sendiri. “Lokasi terlalu tenang,” gumam Leon saat mobil berhenti beberapa meter dari pintu gudang. “Aku gak suka.” Ara turun lebih dulu. Hak sepatunya menyentuh lantai beton dengan bunyi ringan. Ia mengamati sekitar, bukan dengan mata panik, tapi dengan ketenangan orang yang sudah memetakan risiko sejak awal. “Tenang itu jebakan,” jawab Ara pelan. “Dan jebakan selalu punya jalan keluar.” Nani berdiri di sisi Ara, senjatanya tersembunyi

