Markas belum sepenuhnya kembali tenang ketika Ara sudah duduk di ruang taktis. Gudang yang hancur memang mengirimkan pesan kuat, tapi Ara tahu satu hal musuh yang cerdas tidak menyerang saat emosi masih panas. Mereka menunggu. Mengamati. Menghitung ulang. Dan malam itu, Ara memutuskan untuk tidak menunggu. Layar-layar besar di dinding menyala serempak. Peta kota, jalur distribusi, titik-titik sinyal bergerak seperti denyut nadi organisme hidup. Ara duduk di kursi utama, rambutnya diikat sederhana, wajahnya bersih tanpa riasan. Tapi auranya dingin, fokus, berbahaya. Nani berdiri di kanan. Leon di kiri. Bara di belakang, tangan bersedekap. “Ini terlalu cepat,” gumam Leon. “Kartel timur baru saja kehilangan gudang.” Ara tidak menoleh. Jemarinya bergerak di keyboard. Cepat. Presisi. “Jus

