Perkara Metik Mangga

1280 Words

Pagi tidak pernah benar-benar damai di mansion itu. Bahkan ketika matahari bersinar lembut, bahkan ketika kopi masih hangat, bahkan ketika aroma steak memenuhi ruang makan ketenangan selalu terasa seperti jeda sebelum sesuatu bergerak. Xavier duduk tenang di kursinya, satu tangan memegang garpu, tangan lainnya bertumpu di sandaran kursi Ara. Gestur kecil, nyaris tak terlihat, tapi cukup jelas bagi siapa pun yang mengenalnya. Ia ada di sana. Penuh. Sadar. Siap. Ara mengunyah perlahan, masih dengan ekspresi malas yang belum sepenuhnya hilang sejak bangun tidur. Rambutnya dibiarkan tergerai. Ia mengenakan kemeja Xavier kebesaran, nyaman, dan jelas bukan miliknya. “Kamu ngelihatin aku terus, kenapa sih?” ucap Ara tanpa menoleh. Xavier mengangkat bahu. “Kebiasaan lama sayang. Kamu cantik ba

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD