Dunia Memang Kejam

1021 Words

Xavier terbangun bukan karena suara mesin. Ia terbangun karena aroma yang selalu membuatnya tenang dan damai. Bukan antiseptik. Bukan obat. Tapi aroma yang dikenalnya sejak lama hangat, samar, dan selalu menempel di ingatan. Ara. Matanya terbuka perlahan. Cahaya pagi menyelinap melalui celah tirai, jatuh tepat di wajah Ara yang tertidur di sisi ranjangnya, kepalanya bersandar di lengan, jemarinya masih menggenggam tangannya seolah takut ia akan menghilang lagi. Xavier tersenyum. Senyum itu kecil, lelah, tapi penuh. Dadanya naik turun stabil. Tidak lagi terputus-putus. Tidak lagi seperti seseorang yang sedang menawar hidup. Ia menggerakkan jarinya. Sedikit saja. Ara terbangun seketika. “Apa….” nafasnya tertahan saat mata mereka bertemu. “Xavier?” Xavier mengangguk pelan. “Aku di sini

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD