H-3 Pernikahan

1601 Words

Rafael tidak tahu kapan teriakan itu berubah menjadi tawa. Ia hanya sadar, suaranya sendiri terdengar asing. Parau. Patah. Seperti keluar dari tenggorokan orang lain. Dinding beton di sekelilingnya tidak menjawab. Tidak memantul. Menyerap semuanya, sama seperti Ara menyerap kewarasannya sedikit demi sedikit. “Aku akan mati…” gumamnya berulang, lalu tertawa lagi. “Aku akan mati, kan?” Ia mendongak. Rantai di pergelangan tangannya berderit pelan. Lampu di langit-langit berkedip sekali, lalu stabil. Detak jantungnya sendiri terdengar terlalu keras. Setiap detik terasa seperti ancaman. Ara tidak ada di ruangan itu. Dan justru itulah penyiksaannya. Ia mulai berbicara sendiri. Mencaci. Memohon. Mengancam bayangan. Menyebut nama Xavier berulang kali, lalu tertawa histeris seolah nama itu l

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD