Rafael tidak pernah percaya pada neraka. Paginya, neraka hanyalah alat cerita sesuatu yang diciptakan agar orang takut berbuat dosa. Tapi saat ia membuka mata di ruang bawah tanah itu, dengan tubuh terikat, napas tertahan oleh rasa sakit yang belum sepenuhnya reda, Rafael menyadari satu hal yang menghancurkan seluruh keyakinannya. Neraka itu nyata. Dan namanya Ara lah namanya. Lampu menyala perlahan, terlalu terang, menyilaukan mata yang belum pulih. Rafael mengerang pelan. Tubuhnya terasa seperti bukan miliknya sendiri. Setiap tarikan napas terasa berat. Dadanya masih nyeri di tempat peluru bersarang. Luka itu sengaja dirawat setengah hati cukup untuk hidup, tidak cukup untuk tenang. Ia mencoba mengangkat kepala. Dan langsung menyesalinya. Ara berdiri di hadapannya. Tidak membawa

