Suara tembakan itu tidak menggema lama. Ia tenggelam cepat di antara dinding beton gudang, menyisakan bau mesiu yang menusuk dan keheningan yang jauh lebih mengerikan. Rafael terhuyung ke belakang. Tubuhnya membentur rak besi, membuat logam berderit panjang sebelum ia akhirnya jatuh terduduk di lantai. Darah mengalir dari dadanya. Tidak deras. Tidak dramatis. Peluru itu tidak membunuhnya seketika. Ara memang tidak menembak untuk membunuh. Ia menurunkan pistol perlahan. Asap tipis masih keluar dari moncongnya. Wajahnya tetap datar, nyaris tanpa ekspresi. Tidak ada kepuasan. Tidak ada amarah yang meledak. Hanya ketenangan dingin seseorang yang tahu ia sudah melewati garis yang tidak bisa lagi ditarik mundur. Rafael terengah. Tangannya gemetar menekan luka. “Kamu… berubah,” katanya te

