Lampu merah di atas pintu ruang operasi masih menyala. Ara menatapnya tanpa berkedip, seolah dengan menatap cukup lama ia bisa memaksa takdir berbelok sesuai keinginannya . Bau antiseptik menusuk hidung, bercampur samar dengan aroma darah yang belum sepenuhnya hilang dari bajunya. Setiap detik berlalu terasa seperti penghinaan seakan dunia sengaja memperlambat waktu hanya untuk menguji batas kesabarannya. Di balik pintu itu, Xavier sedang bertarung sendirian untuk kesembuhannya. Dan Ara tidak terbiasa menunggu. Ia berdiri dari bangku besi. Sepatu botnya meninggalkan bekas gelap di lantai rumah sakit privat itu. Anak buah Xavier yang sejak tadi berjajar langsung menegakkan badan. Tidak ada lagi bisikan, tidak ada lagi tatapan ragu. Mereka sudah melihat perubahan di wajah Ara perempua

