“Barra,” panggil Aura seraya mendesiskan bibirnya. “Ya sayang,” ucap Barra dengan suara yang serak menahan hasrat. “Sesuai janji kita, jangan ... itu,” ucap Aura. “Iya, Sayang, ayo,” ajak Barra menarik tangan Aura menuju kamar. “Jangan di kamar Barra,” ucap Aura. “Kenapa?” tanya Barra. “Jangan, itu daerah pribadi kamu dan Leona,” ungkapnya sambil menatap dalam mata pria itu. Barra pun mengangguk kecil dan memeluk Aura dari belakang, mengecup lehernya dengan lembut. “Jadi di mana?” tanya Barra. Aura mengedikkan dagu ke arah sofa. Dia melihat ke sekeliling, tak ada kamera pengawas di rumah ini. Mungkin memang Barra belum memasangnya atau apa? Entahlah. Barra kemudian mengangguk, menggandeng tangan wanita yang dicintainya itu menuju sofa. Dia duduk bersandar, sementara Aura duduk di

