Sepulang kerja, Barra memang selalu melewati ruko tempat berjualan Aura, karena memang itu adalah akses jalan ke perumahan. Dia melihat lampu di rumah makan itu masih menyala, pintu kecilnya pun masih terbuka. Dia tergelitik untuk singgah, ada rasa penasaran, padahal biasanya sebelum petang, warung itu sudah tutup. Tapi ini sudah hampir jam delapan malam tapi masih buka. Barra memarkirkan mobilnya di halaman, melihat motor matic yang sering dipakai Aura atau Hanum bertengger di depan ruko. Dia mengetuk pintu yang terbuka itu, lalu wajah Aura muncul dari arah dapur. “Lho Barra?” ujar Aura yang cukup terkejut. “Kamu ngapain? Kok enggak pulang? Ini sudah habis semua kan?” tunjuk Barra ke etalase. “Aku tuh tadi salah pesan,” ucap Aura. Barra menarik kursi untuk duduk di meja yang paling

