Side Story
Yudia yang baru saja pulang dari tempat kerja paruh waktunya mendadak bingung melihat Ibunya yang sedang menyiapkan pakaian seksi dan juga beberapa aksesoris yang senada dengan pakaian itu. Yudia bergidik melihat pakaian itu merasa ngeri sendiri bila dia menggunakan itu.
"Dia,"
Langkah Yudia terhenti lagi, Yudia menatap Ibunya tak perduli. "Ada apa, Ma?"
Ibunya mendekat ke arahnya menyodorkan pakaian seksi tersebut padanya. "Pakai ini." seketika Yudia menatap Ibunya terkejut. "Pakai ini, Yudia."
Yudia menggeleng tegas menolak. "Nggak, Ma. Aku nggak akan sudi pakai baju seperti itu." Pergelangan tangannya dicengkram oleh Ibunya yang menatapnya tajam. "Ma, aku mohon... Jangan menjerumuskan aku," pintanya memelas.
"Kamu harus pakai ini. Kamu tahu kan kalau pengobatan Papa kamu itu nggak sedikit."
Tubuh Yudia membeku. "Ma, aku bisa cari uang yang halal bukan seperti ini." Tanpa berperasaan Ibunya menariknya menyeretnya agar mengikuti Ibunya. Yudia berusaha meronta berharap bisa terlepas dari cengkraman kuat Ibunya. "Ma..."
Yudia terkesiap saat pintu sebuah kamar dibanting begitu keras membuatnya mematung seketika. Air matanya luruh. Ia mengedarkan pandangannya mencari celah agar bisa keluar dari kamar itu. Dan sialanya, semua tertutup rapat tak ada celah sedikit pun. Tubuh Yudia luruh menangis teredam. Tidak mungkin Ibunya tega menjualnya. Iya. Ibunya tidak mungkin tega melakukan itu.
Satu jam Yudia menunggu, tidak lama pintu terbuka. Bukan Ibunya, melainkan empat Pria sangar yang menatapnya bengis. Yudia menatap takut mereka.
"Mau apa kalian?" Yudia mundur waspada.
"Seret dia." Yudia menoleh pada Ibunya menatap Ibunya tak percaya, lalu sedetik kemudian Yudia bersimpuh di hadapan Ibunya memohon belas kasih seorang manusia agar tidak melemparnya pada jurang nista yang penuh kegelapan.
"Ma, Aku mohon jangan lakukan ini..."
"Bawa dia cepat!"
Yudia menggeleng memeluk kaki Ibunya erat. "Jangan, Ma! Aku mohon jangan melakukan ini." Tubuh Yudia dilepas paksa diseret oleh dua orang itu. "Ma! Tolong, Ma! Jangan lakukan ini!" jeritnya pilu. "Mama!"
Yudia meronta masih berharap ada keajaiban untuk Ibunya. "Mama!" Yudia harus kecewa bahwa jeritannya sama sekali tak mengundang belas kasih Ibunya. Yudia hanya bisa menangis pedih memejamkan matanya. "Dimana keadilan-Mu, Tuhan..."
....
"Enak banget, Om. Sejak kapan jadi koki, Om?" tanpa malu Yudia menghabiskan nasi goreng yang ada di piringnya. Bahkan Yudia sudah melupakan mimpi buruknya.
Faiz menghentikan mengunyah makanannya menatap Yudia tak suka. "Kamu nggak bisa makan pelan-pelan?" geram Faiz merasa terganggu dengan cara makan Yudia. Bukan berantakan atau sejenisnya. Melainkan cara makan Yudia berhasil menggoda sesuatu yang sudah lama terpendam bangkit kembali.
Yudia menyengir lebar tanpa bersalah. "Habisnya enak sih, Om."
Faiz terdiam menatap lekat Yudia tanpa sepengetahuannya. "Apa yang kamu mimpikan tadi?" tanya Faiz to the point.
Mendadak suasana hening, Yudia menghentikan mengunyah makanannya kemudian mendorong piring yang masih tersisa sedikit nasi goreng itu. Semua itu tidak lepas dari tatapan Faiz yang menajam memerhatikan perubahan ekspresi raut wajah Yudia. Yudia tersenyum simpul. "Cuman mimpi buruk kok, Om," jawabnya pelan berbeda dari yang tadi.
Suasana mendadak hening. Faiz menangkap jelas raut kesakitan tadi ketika Yudia merintih kesakitan. "Yakin cuman mimpi buruk?" Tatapan mereka bertemu, dan saat itu juga Yudia mengangguk pelan tersenyum tipis.
"Om baru pulang tengah malam? Keanu menginap di rumah Mbak Janira karena besok libur katanya."
Faiz tahu Yudia sedang menghindari pertanyaannya. Mimpi itu pasti ada sangkut pautnya dengan masa kelam Yudia. "Kamu bisa menceritakannya," bujuknya penasaran dengan mimpi tadi.
Yudia menggeleng. "Nggak ada yang perlu diceritakan, Om," tukas Yudia cepat. Tiba-tiba Yudia memicing menatap penuh curiga ke arahnya. "Om sejak kapan masuk kamar aku? Jangan-jangan... Om..." Faiz gelagapan mengusap tengkuknya sekilas sebelum mengambil air minum lalu meminumnya hingga tandas tanpa jeda.
"Om mengintip ke kamar saya?" tuduh Yudia sukses membuat Faiz menyemburkan air minum yang masih tersisa di mulutnya pada Yudia. Yudia menganga karena mendapat semburan mendadak. "Om!"
Faiz terdiam mengusap sudut bibirnya yang basah. "Maaf. Lagipula kurang kerjaan sekali saya datang ke kamar kamu tengah malam. Buat apa? Nggak ada keuntungannya," sanggahnya berusaha tenang meski sebenarnya dadanya bergemuruh hebat takut ketahuan.
Yudia menatap penuh selidik. "Terus Om ngapain masuk kamar says?"
Faiz memutar bola matanya berpikir mencari alasan saat tatapannya bertemu dengan tatapan mata Yudia, Faiz segera berdecak karena kelakuannya malam ini. "Saya dengar kamu teriak-teriak, saya pikir ada maling," Faiz masih tidak mau kalah. Tidak lucu kalau dirinya ketahuan begitu saja. Memalukan sekali.
Yudia berdiri membuat Faiz mundur dari kursinya. "Mana ada teriak-teriak, yang ada cicitan ketakutan keles. Ketahuan banget sih Om bohongnya," ucap Yudia berdecak kemudian duduk di atas meja membelakanginya. "Aku memang w************n, Om. Jadi nggak berhak protes saat Om mau masuk ke kamarku secara lancangpun," lanjutnya penuh penekanan.
Faiz seketika berdiri menatap punggung mulus Yudia yang tereskpos karena Yudia hanya memakai baju tidur tipis yang menutupi bagian dadanya saja.
"Saya-"
"Bukan masalah. Wanita malam memang nggak layak buat dihargai, Om," ucap Yudia sembari menunduk sarat akan kesedihan.
Faiz tertegun mendengarnya. Dia memang lancang selalu masuk ke kamar Yudia setiap tengah malam. Namun itu semua tidak lebih hanya untuk memerhatikan wajah cantik Yudia yang tengah terlelap begitu tenang. Astaga... Mengapa jadi begini? Faiz segera berjalan memutari meja berdiri menghadap Yudia yang tengah menatapnya heran.
"Maaf. Saya nggak bermaksud menyinggung perasaan kamu," ucapnya pelan sambil merunduk menatap netra cokelat terang Yudia yang bersinar.
"Nggak apa-apa kok, Om," balas Yudia tersenyum tipis.
Faiz semakin mendekat saat Yudia berusaha mengalihkan pandangannya agar tidak melihat dirinya. "Kamu marah?" Seketika Yudia menatap Faiz lekat dan tanpa diduga Yudia tertawa sumbang. "Ya ampun, Om... Bercanda doang kali. Aku beneran nggak masalah Om masuk ke kamarku, mau usap-usap sekalian juga nggak masalah, Om," goda Yudia seketika sirna binar kesedihan, ketakutan yang tadi Faiz lihat dari mata bening itu.
Bukannya marah, Faiz malah semakin mendekat mengunci tubuh Yudia di antara tangannya yang bertumpu pada meja. "Kamu menyimpan kesedihan, Dia...," bisiknya di depan wajah Yudia.
Mata tajam Faiz tak sedikit pun melepaskan tatapannya memandang Yudia yang memejamkan matanya saat deru napas mereka saling bersahutan dari jarak dekat dan begitu intim. Faiz semakin mendesak ke arah Yudia. "Kamu nggak bisa menyimpan luka sendirian tanpa ada obatnya. Kamu butuh obat untuk menyembuhkan lukamu," bisiknya dengan suara yang semakin memberat.
Yudia membuka matanya tersenyum menggoda. "Kalau begitu..." Yudia mengaitkan lengannya di lehernya tanpa permisi. "Om juga membutuhkan obat untuk luka Om dari masalalu," balas Yudia lembut begitu menggoda kejantanannya.
Astaga... Faiz menggeram tak kuasa. "Kamu menggoda saya?"
"Om yang menggodaku."
"Saya menjadi duda sudah 6 tahun lamanya dan saya sudah sangat lama nggak berhubungan," jujur Faiz membuat Yudia tergelak hebat. Faiz menarik sebelah alisnya menatap Yudia tajam. "Kenapa ketawa?" desisnya tak suka.
Yudia semakin terbahak-bahak menepuk-nepuk punggungnya. "Aku jadi kebayang punya Om karatan karena sudah lama nggak dipakai," celetuk Yudia disela tawanya. Wajah Faiz merah padam mendengar celetukan Yudia. Dipikir memang kepunyaannya itu besi?! Tidak tahu saja Yudia bagaimana kalau dirinya sudah bermain.
"Astaga... Om... Punya Om karatan," ledeknya masih terbahak-bahak.
Faiz menyeringai tanpa basa-basi menahan tengkuk Yudia mendekatkan bibirnya pada bibir Yudia kemudian mencumbu bibir lancang yang sudah berani meledeknya itu. Diam lebih baik, karena ucapan frontal Yudia selalu bisa membangkitkan pusakanya dan berakhir dia harus mandi air dingin karena tidak tersalurkan. Astaga... Bahkan sekarang lebih parah. Dirinya bisa frutrasi karena terus ereksi tanpa pelepasan.
Yudia kampret memang.