Sebelas

1212 Words
Side Story Yudia memejamkan matanya meratapi nasibnya yang benar-benar tragis. Yudia menangis sejadi-jadinya memeluk dirinya sendiri di bawah guyuran air terjun yang langsung menghunjami tubuhnya. Yudia terduduk lemas di atas batu besar. Ia sudab hancur, sangat hancur. Kepala Yudia menengadah ke atas merasa pilu di hatinya. Bagaimana Tuhan menggariskan takdir sekejam ini padanya? Pakaiannya sudah koyak tak terbentuk, wajah cantiknya pun dipenuhi luka lebam. Belum lagi selangkangannya yang terasa kebas dan linu. Yudia kembali menangis. "Tuhan... Mengapa Engkau begitu kejam membiarkan aku lahir dari rahim seorang wanita yang tidak memiliki hati sedikit pun?" jeritnya pilu. Apa yang bisa ia harapkan lagi dari dirinya? Apa yang ia bisa banggakan saat ini dari dirinya? Dia sudah tidak berharga lagi. Ia sudah menjadi sampah yang bahkan untuk sekedar dilirik saja tidak layak. "Aku melihat kamu daritadi membiarkan diri kamu dihujami air terjun. Kamu bisa mati kedinginan." Yudia menoleh kemudian mendongak melihat Pria yang berdiri menjulang tinggi di sampingnya. "Bukan masalah kamu."         Pria itu tersenyum hangat. "Tentu saja jadi urusanku, semua lekuk tubuh kamu terlihat jelas dari kejauhan sekalipun." Manik cokelat terang Yudia membulat sempurna. Seketika Yudia berdiri. "Kamu juga lihat!" Pria itu mengedik kemudian melepaskan jaketnya yang sudah basah. "Walau pun basah, tapi seenggaknya bisa menutupi tubuh kamu," ujarnya tersenyum lembut. Yudia terbuai dengan tatapan sendu dari manik cokelat tua itu. "Makasih," ucapnya menunduk dalam. "Sama-sama," balasnya, "Angga." "Yudia." Dan ternyata nahasnya semua itu hanya sebuah tipu daya Angga hanya untuk memikat dirinya untuk melancarkan aksi kejinya yang tidak berbeda jauh dengan Ibunya. .... Satu minggu sudah dirinya berada di luar kota, tetapi ia merasa tidak lengkap. Faiz duduk bersandar di kursi tunggu bandara. Selama tiga bulan Yudia tinggal di rumahnya, diam-diam dirinya selalu memerhatikan Yudia. Berbagai macam ekspresi sudah pernah ia lihat dan beberapa ekspresinya sukses mengundang senyumannya. Ini bukan dirinya. Rasanya ia berubah terlalu jauh hanya karena wanita masalalunya yang bahkan telah tiada. Tanpa sadar ia berdecak kesal pada dirinya sendiri mengingat ucapan yang sering ia lontarkan pada Yudia yang pastinya banyak menyakiti perasaan wanita itu. Apa dia harus meminta maaf agar terlihat lebih jantan? *** Faiz berjalan lesu baru sampai tengah malam di rumah karena tadi ketika sampai di Jakarta ia langsung melesat ke kantor ada pertemuan penting yang sempat ia lupakan. Sial! Badannya terasa remuk saking lelahnya melakukan perjalan, ditambah harus fokus pada rapat tadi, padahal pikirannya memaksa berpencar memikirkan Yudia. Sial (2). Suasana rumah sangat sepi sehingga derap langkah Faiz pun terdengar. Faiz berjalan lurus sampai ke ujung ruangan di mana letak kamar tidur Yudia. Sampai di depan pintu kamar Yudia, Faiz malah tercenung tidak tahu harus apa. Secara, akal dan hatinya berdebat keras tentang keinginannya. Bagaimana kalau pintunya dikunci? Jemari Faiz sudah siap menekan kenop pintu, tetapi terhenti mengingat untuk apa setiap malam dirinya harus memerhatikan wajah polos Yudia yang tengah tertdur pulas sangat cantik. Iya. Faiz memang punya kebiasaan aneh semenjak ada Yudia. Dia senang memandangi wajah terlelap Yudia sekitar satu jam lamanya. Aih... Persetan dengan perdebatan! Faiz buru-buru membuka pintu kamar Yudia kemudian masuk ke dalam kamar lalu menutup kembali pintu kamar itu. Penerangan kamar remang-remang karena hanya lampu tidur di atas nakas yang dinyalakan. Setelah memastikan aman, Faiz melangkah menuju meja rias yang memang dekat dengan ranjang Yudia. Saat hendak mendaratkan bokongnya, suara isakan pilu tiba-tiba terdengar. Faiz seketika berdiri, menengokkan kepalanya ke segala arah kamar untuk memastikan bahwa isakan itu bukan berasal dari makhluk yang ia takutkan sampai detik ini. "Kenapa Mama jual aku?" lirihan pilu itu terdengar menyayat hati sarat akan kekecewaan yang mendalam. "Aku anak Mama." "Tidak! Jangan lakukan itu! Aku mohon, Om... Jangan lakukan itu!" seruan penuh kepanikan membuat Faiz seketika menoleh ke arah tempat tidur. Di sana mata indah Yudia terpejam rapat, tetapi air mata terus berderai. Tangan dan kaki Yudia juga bergerak layaknya orang yang sedang melakukan perlawanan. "Mama jangan jual aku, Ma... Mama!" Faiz mempercepat langkahnya menuju ranjang Yudia kemudian duduk di sisi Yudia yang masih setia memejamkan matanya. Sebelumnya, Yudia tidak pernah begini waktu dirinya menatapi Yudia setiap malam. "Sakit... Ma... Sakit..." Isakan Yudia semakin terdengar menyakitkan ditambah jemarinya mencengkram seprai begitu kuat seolah-olah sedang menahan sakit. Kerutan di keningnya pun terlihat jelas jika Yudia sangat tegang. Faiz merasa dadanya berdenyut sakit saat melihat ekspresi kesakitan Yudia dan juga isakan kepiluan Yudia. Apa mungkin Yudia tengah memimpikan masalalunya? Dengan segera Faiz menepuk pipi Yudia berkali-kali sembari menyebutkan namanya. "Dia..." Faiz kembali menepuk pipi Yudia sedikit lebih keras dari sebelumnya. "Yudia. Hei bangun." Faiz jadi kalang kabut sendiri saat melihat air mata Yudia semakin mengalir deras. Jadi benar kalau Yudia itu dijual? Betapa berengseknya kedua orangtuanya itu. Faiz pikir itu hanya bualan supaya dirinya iba pada Yudia, tetapi melihat Yudia yang merintih kesakitan memohon pertolongan. Apa mungkin bualan semata? "Yudia!" "Mama jangan tinggalin aku, Ma. Mama aku takut sendirian di sini. MAMA!" Yudia membuka matanya dengan wajah pucat pasi ketakutan. Yudia kembali menangis belum nenyadari kehadiran dirinya. Faiz menatap iba pada Yudia. "Kamu aman. Itu cuman mimpi," bisik Faiz di dekat telinga Yudia. Yudia menoleh ke sampingnya menatap Faiz tak percaya. Spontan Yudia bangkit dari tidurnya dan memeluknya erat kembali menumpahkan tangisannya. Tidak ada yang bisa Faiz lakukan selain menenangkan Yudia yang gemetar ketakutan dengan mengusap lembut punggung Yudia. Pelukan Yudia begitu erat dan itu membuat Faiz sesak. Bukan sesak karena pelukannya, tapi sesak karena melihat luka wanita yang ada dalam dekapannya ini. "Semua baik-baik saja. Jangan takut...," bisik Faiz menenangkan. Yudia menggeleng menangis semakin menjadi teredam menyembunyikan wajahnya di d**a bidang Faiz. "Menangis hanya untuk malam ini dan besok kamu harus kembali ceria seperti saat saya pertama kali bertemu kamu." Faiz akan meminta maaf karena terlalu picik menilai Yudia yang ternyata memang benar hanya sebuah korban yang sengaja dilempar ke jurang yang tergelap. *** Yudia tidak tahu harus mengatakan apa. Dia bingung sekaligus canggung karena dengan lancangnya memeluk Om Kulkas dan dengan seenaknya membanjiri kemeja Om Kulkas dengan air matanya. Sialan! Kenapa harus bermimpi itu segala sih?! Lalu, bagaimana bisa Om Kulkas masuk ke kamarnya? Apa mungkin dia lupa mengunci pintu? Untung saja dia sedang berpakaian lengkap, tidak hanya menggunakan bra dan celana dalam seperti kebiasaannya saat kegerahan. Astaga... Kalau sampai itu terjadi bisa triple malu lah dirinya. Keheningan hanya bisa mengisi keduanya, bukan keduanya, tetapi hanya dirinya. Karena Faiz sedang sibuk memasak di dapur kotor dan dirinya hanya menatapi di meja bar yang tersedia di sana. "Cuman ada nasi sisa tadi dan juga telur. Lumayan buat ganjal lapar," Yudia membuka suara. "Padahal mending Om duduk saja di sini, biar aku yang masak," ucapnya lagi yang masih diabaikan. Yudia berdecak menendang dalam meja kesal. "Bibir itu diciptakan agar kita bisa bicara, percuma seksi juga kalau terus-terusan dipakai cemberut," gerutu Yudia mencebik sebal. Faiz menoleh dengan raut wajah datar andalannya menatap Yudia datar. "Kamu biacara sama saya?" tanyanya polos. Yudia berdecak memainkan pisau roti yang dia pegang, sedangkan bibirnya berkomat-kamit kesal. "Bukan! Sama pantatnya Om!" sewot Yudia kesal. Faiz hanya mengedik kembali berbalik melanjutkan pekerjaannya. Yudia merutuk dalam hati. "Dasar Kulkas empat pintu," dumelnya seketika membuat Faiz menoleh menatap tajam ke arahnya. "Kamu bicara apa? Siapa yang kulkas?" Yudia cengengesan salah tingkah. "Itu Om, kalau ada kulkas empat pintu jadi nggak usah punya kulkas dua gitu. Secara kan sudah empat pintu," elak Yudia. "Ohh..." "Lo yang kulkas onyon," dumel Yudia pelan. "Saya dengar, Dia..." Yudia menepuk keningnya jengah. Astaga...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD