Hari ini entah mengapa membuat Yudia malas beraktivitas mengingat Om Kulkas itu akan pergi keluar Kota satu minggu lamanya. Jujur, Yudia merasakan getaran yang sudah lama tak pernah ia rasakan lagi. Setiap kali tatapan mereka bertemu, degup jantungnya terasa berdegup sangat cepat. Yudia pernah jatuh cinta, tetapi ia tak pernah merasakan debaran yang terasa asing di dadanya.
"Tante!" seruan Keanu membuyarkan lamunannya. Yudia menoleh pada pintu kamar yang terbuka. Keanu berjalan cepat ke arahnya dengan napas terengah. "Tante," ulangnya setelah mendekat ke arahnya.
Yudia tersenyum beranjak dari duduknya. "Ada apa, Ke? Aku nggak tuli," sahutnya memutar bola mata malas.
"Ish, Tante! Ada Tante Nira sama Nenek," ujar Keanu mencebik sebal.
Sebelah alis Yudia terangkat menatap Keanu bingung. Mereka datang, lalu apa masalahnya?
"Mereka ingin bertemu sama kamu," suara berat itu membuat Yudia seketika menoleh pada pintu. Dengan penuh aura intimidasi, Faiz melangkah masuk ke dalam kamar kemudian melipat tangannya di d**a. "Keanu sering menceritakan kamu sama Mama dan Nira," ujarnya melirik Keanu sekilas. "Saya harap kamu bisa jaga mulut murahan kamu supaya nggak mengatakan hal yang rendah dan memalukan," desis Faiz tajam.
Yudia tercenung menarik sudut bibirnya tersenyum getir. Perkataan Faiz yang seperti itu bukan satu atau dua kali baru ia dengar, tetapi efeknya berbeda dari sebelumnya. Yudia merasa Faiz mengatakan itu memang dengan sepenuh hatinya. "Om tenang saja. Saya nggak akan melakukan semua itu," pungkas Yudia pelan. Yudia menatap Keanu yang menatapnya sedih. "Keanu tunggu di luar. Nanti aku menyusul," tukas Yudia lembut.
Keanu menganggukkan kepalanya. Lalu berbalik melengos tanpa melirik Faiz sedikitpun. "Pakai pakaian yang sopan. Jangan tunjukan pada mereka kalau kamu bekas p*****r," ucap Faiz sebelum keluar dari kamarnya.
Yudia memejamkan matanya merasa sesak dengan perkataan tajam Faiz. Yudia menyentuh dadanya sendiri karena denyutan sakit tiba-tiba terasa kentara di dalamnya. "p*****r," gumam Yudia lirih.
Yudia tersenyum pedih mengusap air matanya. Mengapa dia harus terluka dengan perkataan Faiz padanya? Bukankah Faiz sudah biasa mengatakan kalimat menyakitkan lainnya sebelum ini? Lalu mengapa rasanya kali ini sangat berbeda?
***
Bertemu dengan keluarga Faiz sungguh membuat Yudia merasakan kehangatan yang sebenarnya. Yudia begitu dihargai dan juga dirangkul layaknya keluarga. Diam-diam Yudia memerhatikan sikap Faiz yang berubah 180 derajat. Sikap Faiz begitu hangat pada anak-anak adiknya, Janira. Faiz juga bercanda bersama dengan suami Janira. Melemparkan ejekan satu sama lain. Lantas, mengapa Faiz selalu bersikap dingin dan ketus padanya? Apa karena dia hanya seorang wanita rendahan? Atau mungkin saat keluarga Faiz tahu siapa dirinya, mereka akan bersikap sama seperti Faiz?
Seketika d**a Yudia merintih pedih. Begini amat nasib mantan seorang p*****r.
"Tan, ayo. Katanya mau ke mall," rengek Keanu menyadarkan lamunannya.
Yudia tersenyum tipis menatap Keanu. "Ayo deh. Kita main terus sekalian belanja," sahut Yudia berubah menjadi riang.
Yudia bersyukur karena Keanu mau menerimanya. Meskipun ia harus melewati berbagai kenakalan Keanu. Keanu bergelayut manja di tangannya. Saat dirinya beranjak, tatapan matanya bertemu dengan menik hijau tua yang penuh misteri itu.
"Kalian mau ke mana?" tanyanya datar.
Keanu mengedik menatap pada Yudia yang tersenyum lebar sekan beban pikirannya sirna begitu saja. "Biasa, Om. Kita mau ke mall buat belanja sama main. Iya kan, Ke?" jawab Yudia yang langsung diangguki oleh Keanu.
"Kenapa? Papa mau larang kami?" sungut Keanu membusungkan dadanya.
Yudia terkikik geli melihat tingkah Keanu. Dengan gemas Yudia mengacak rambut hitam lebat Keanu. "Aduh.. Jagoannya siapa sih..."
"Jagoannya Tante dong," jawabnya bangga.
Terdengar dengkusan tak suka dari Faiz. Yudia seketika menatap Faiz yang membuang pandangannya ke lain arah. Yudia tersenyum tipis menatap sendu Faiz. "Om mau berangkat sekarang, kan? Hati-hati ya, Om. Semoga sampai tujuan dengan selamat, Om. Dan pulangnya bawa uang yang banyak. Iya kan, Ke?" lagi. Ucapan Yudia langsung diangguki oleh Keanu. Dan tanpa sepatah katapun, Faiz malah berlalu dari ruang keluarga dengan langkah cepat.
Yudia hanya bisa menghela napas pelan beralih pada Keanu. "Ayo, Ke."
"Ayo, Tan."
Mereka pun berjalan riang saling bergandengan persis seperti ibu dan anak.
***
Sampai di mall, mereka menghabiskan waktu dengan bermain dan berbelanja keinginan mereka. Yudia tak sedikitpun melepaskan genggaman tangannya pada Keanu, begitupun Keanu begitu erat menggenggam tangannya.
"Yudia?" Yudia menghentikan aktivitasnya yang sedang membersihkan wajah Keanu dari eskrim yang sengaja dibuat belepotan oleh Keanu. Yudia berbalik seketika tubuhnya membeku saat tatapan mata mereka bertemu. Keanu mengintip di balik ketiak Yudia dengan kening mengerut bingung.
"Angga?"
Darah Yudia seketika berdesir menghantarkan nyeri ke hatinya. Tatapan mata Yudia terkunci pada tatapan mata teduh milik Pria berperawakan blasteran itu. Pria yang bernama Angga itu mendekat ke arah Yudia, sementara Yudia malah memundurkan dirinya menatap was-was pada Pria bule itu.
"Di, ini benar kamu, kan?" tanyanya menatap sendu pada Yudia.
Yudia menggeleng tersenyum pedih. "Yudia sudah lama mati. Saya bukan Yudia," tukas Yudia bergetar takut.
Keanu merasa ada yang janggal segera maju berdiri di depan Yudia. "Om ini siapa? Kenapa Om buat Mama saya ketakutan?"
"Mama?" Angga menoleh padanya dengan tatapan mata yang menyiratkan penuh pertanyaan.
Yudia memegang kedua bahu Keanu meremasnya pelan. "Ke, ayo kita pulang."
"Tapi-"
"Ayo kita pulang, Ke," desis Yudia ketakutan.
"Nggak mungkin dia anak kamu, Di."
Yudia tertawa sumbang menatap sengit pada Pria itu. "Kenapa nggak mungkin? Dia anakku, kamu mau apa?"
Angga menggeleng masih tak percaya. "Di, anak ini aku yakin usianya 8 atau 9 tahun. Sedangkan kamu baru berusia 25 tahun. Nggak mungkin kalau dia anak kamu," kukuhnya menahan Yudia yang hendak pergi.
Yudia menyeringai. "Kamu tahu persis sejak kapan saya dijual," balas Yudia tenang. Saat itu juga Yudia membalikkan tubuhnya mengajak Keanu untuk meninggalkan tempat itu. Sambil berjalan Yudia sejenak memejamkan matanya, menghalau agar air mata tidak berderai.
Mengapa dirinya harus bertemu Pria itu? Pria yang sempat menerbangkannya dan membuatnya merasa aman, tetapi nyatanya Pria itu tidak berbeda jauh seperti ibunya. Ah, Yudia sadar. Cinta memang tak layak untuk wanita kotor sepertinya. Dicintai hanya sebatas angan. Dan Yudia sadar untuk segera menepis rasa yang mulai hadir pada Pria yang tak pernah bisa ia sentuh.