Sembilan

1005 Words
Yudia mendesah putus asa menatap nanar penggorengan yang berakhir mengenaskan. Hitam bersamaan dengan minyak yang mengering dan bau hangus berasal dari telur yang dia masak. Astaga.. Susah sekali ternyata. Padahal dia hanya ingin memasak nasi goreng telur ceplok, tetapi malah gagal. Kecap kebanyakan, belum nasinya yang terasa hambar. Yudia ingin menangis rasanya melihat hasil karyanya. Sia-sia dia bangun pagi kalau hasilnya begitu. "Saya cium bau gosong. Saya kira lupa matikan kompor." Yudia terlonjak nyaris melompat kaget mendengar suara dari arah belakang. Yudia segera berbalik memberengut menatap Faiz yang sudah rapi dengan setelan kerjanya, sedangkan dirinya masih mengenakan piyama celana pendek tipis dan rambut yang ia cepol asal. "Masakan saya gagal, Om," keluh Yudia melirik sedih penggorengan. Sebelah alis Faiz terangkat ikut melirik penggorengan. "Kamu buat dapur saya hancur berantakan, Dia," desis Faiz terdengar tidak suka. Yudia menyengir bersalah mengusap tengkuknya gugup. "Maaf, Om. Tadinya saya cuman mau-" Ucapan Yudia terhenti saat Faiz mulai mendekat ke arahnya dengan tatapan tajam. Yudia kelabakan menelan ludahnya kesusahan. Yudia mundur perlahan sampai tubuhnya mentok di tembok kompor. "Kamu nggak bisa masak?" Jarak antara mereka begitu dekat sampai-sampai Yudia bisa merasakan deru napas Faiz yang menggodanya. Yudia mendongak menautkan tatapannya pada manik hijau tua itu. "Enggak, Om," jawab Yudia pelan.        Faiz tersenyum miring. "Lantas, apa bisanya kamu?" Pertanyaan Faiz terdengar seperti sedang mengejek dirinya. Yudia menahan kekesalannya dengan sengaja melingkarkan lengannya pada leher Faiz tersenyum manis dibuat-buat. "Saya bisa memuaskan," jawab Yudia mengerlingkan matanya jahil. "Bahkan lebih dari bisa kalau masalah itu," pungkasnya tanpa rasa malu sedikitpun. Faiz menyeringai menatap Yudia rendah. "Benarkah?" Faiz mendekatkan jarak antara mereka. "Sayangnya saya tidak tertarik sama sekali," tukas Faiz kemudian melepaskan lengan Yudia yang melingkar manja dilehernya. Yudia tersenyum getir memilih segera berbalik. Mengapa dadanya terasa berdenyut? Padahal dia sendiri yang memulainya. Yudia menggeleng pelan mencoba mengulang membuat masakan yang baru mengabaikan Faiz yang masih berdiri di belakangnya. *** Faiz terdiam duduk dengan arogannya di kursi makan. Keanu datang dengan raut wajah cemberut seperti biasanya. Faiz menghela napasnya pelan berusaha berpikir postif dengan masakan yang tersedia di atas meja. "Nenek nggak antar sarapan, Pa?" tanya Keanu yang sudah duduk di tempatnya. Faiz melirik Keanu sekilas sebelum mengedik pelan. "Nenek sakit, Tante Nira sibuk ngurus si kembar. Kasihan," jawab Faiz seadanya. Keanu menatap Papanya penuh tanya. "Terus yang masak ini siapa?" tanya Keanu lagi kemudian menatap masakan yang tidak menggugah selera sama sekali. Faiz ikut menatap masakan di atas meja dengan raut wajah datar yang sebenarnya sedang menyembunyikan rasa was-wasnya akan masakan hasil Yudia. "Aku dong yang masak," unjuk Yudia bangga sembari menaruh gelas s**u untuk Keanu. "Ayo dimakan jangan dilihatin terus. Nggak bakalan kenyang soalnya," ucap Yudia mengedip-ngedipkan matanya sembari tersenyum manis bertopang dagu di atas meja. Faiz menelan ludahnya susah payah. Seumur hidup dia selalu memakan masakan yang sedap di lidah. Dan untuk pertama kalinya dirinya harus merasakan masakan yang bisa saja membuatnya masuk ke rumah sakit. "Kean nggak mau," cebik Keanu menghempaskan alat makannya. Faiz tersadar menatap Keanu penuh peringatan. Saat Keanu menunduk, Faiz mengambil kesempatan membubuhkan nasi goreng pada pirimgnya. Faiz juga mengambil telur ceplok yang sangat matang. Perlahan Faiz mengaduk nasi goreng itu menatap Yudia yang tersenyum lebar ke arahnya. Faiz menahan napas sebelum menyuapkan nasi goreng itu ke mulutnya. Pupil mata Faiz melebar saat nasi goreng itu sudah masuk ke mulutnya. Faiz kesusahan menelan nasi goreng itu dan malah tersedak, spontan Faiz menyemburkan nasi goreng itu terbatuk-batuk memegangi lehernya sendiri. Rasa apa ini? Asin? Manis? Hancur sekali. "Papa!" "Om!" Yudia dan Keanu bersamaan berdiri menghampiri Faiz yang masih terbatuk-batuk dengan wajah yang memerah. "Minum, Om." Yudia menyodorkan segelas air putih yang langsung diterima Faiz. Faiz menegaknya sampai tandas kemudian mengusap sudut bibirnya yang tersisa air di sana. "Rasanya ancur banget ya, Om?" Faiz menoleh pada Yudia yang ternyata tengah menatapnya sedih. Faiz terenyuh melihat tatapan sedih Yudia. Entah dorongan dari mana Faiz tersenyum tipis kemudian menggeleng pelan. "Kamu cuman perlu belajar lagi," cetus Faiz pelan. Faiz tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Yang jelas, Faiz merasa dirinya perlahan mulai kembali lagi setelah kehadiran Yudia. Wanita p*****r yang selalu ia tentang kepolosannya. *** Hari silih berganti, Yudia mampu bertahan melewati fase terberatnya menghadapi Keanu. Keanu sangat nakal dan juga jahil. Sudah dua bulan berlalu dan sudah beberapa kali dirinya jadi korban kejahilan Keanu. Dan dengan seiring waktu, Keanu juga mulai menerimanya dan mulai akrab dengannya. Seperti sekarang contohnya. "Tan, tadi Keanu nembak cewek," ujar Keanu menindurkan kepalanya di pangkuan Yudia. Keanu memang berubah sangat manja padanya. Kadang, Faiz juga sering menegur Keanu yang selalu bersikap manja padanya. "Terus?" sahut Yudia antusias mengusap rambut hitam lebat Keanu. Memang setiap sore Yudia selalu memaksa Keanu untuk menemaninya menonton film kesukaannya. Awalnya Keanu menolak, tetapi lama kelamaan Keanu menurut juga. "Keanu ditolak, Tan," terdengar nada sedih dalam suaranya. "Masa?" tanggap Yudia cepat. "Kamu kan ganteng, Ke. Tajir, pinter juga. Masa ditolak, sih," decak Yudia merasa tak terima jagoannya ditolak. Keanu bangkit menatapnya sembari membrengut. "Dia bilang Keanu nakal, Tan. Keanu sering lihatin celana dalamnya. Jadinya deh dia nolak Keanu." "Hah?" Yudia menyerap ucapan Keanu. Celana dalam? Melihat? Seketika Yudia membulatkan matanya menatap Keanu horor. "Kamu suka ngintip, Ke? Astaga..." Keanu menggeleng cepat. "Enggak, Tan. Kean nggak ngintip," sanggah Keanu tenang. Kening Yudia mengerut dalam. "Terus bisa lihat celana dalam itu dari mana kalau bukan ngintip?" Keanu menyengir lebar. "Keanu angkatin saja rok sekolahnya," jawab Keanu tanpa bersalah sedikitpun. Yudia menepuk keningnya kemudian tergelak lepas. Astaga... Yudia yakin, gen kejahilan Keanu turun dari Bapaknya. *** Faiz berhenti di ambang pintu saat mendengar tawa riang dari arah ruang keluarga. Faiz melangkah cepat menuju ruang keluarga. "Kamu ini anaknya siapa, sih..." Faiz mengintip dari samping tembok ruang keluarga. Dia bisa melihat jelas Yudia dan Keanu sedang tertawa saling menjahili. Tanpa bisa ditahan, Faiz tersenyum lega untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Melihat Keanu yang tertawa lepas dan tidak kesepian lagi membuat Faiz bahagia. Pelacur Sekelebat bayangan itu membuat Faiz tersadar dari keterpanaannya. Ya. Yudia hanya seorang p*****r dan sangat tidak pantas untuk ia cintai. Rahang Faiz mengetat segera berbalik dengan cepat meninggalkan tempat itu.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD