Delapan

1234 Words
Side Story Faiz berjalan mondar-mandir gelisah setelah menerima laporan dari Pengacaranya. Ia melirik Istri dan Putranya yang sudah terlelap sekilas. "Sialan!" "Kamu kenapa? Ada masalah?" Ayu terbangun dari tidurnya mendudukan diri dengan punggung yang bersandar di sandaran ranjang. "Arvino dan Amira bebas. Bagaimana bisa mereka bebas begitu saja?!" geramnya dengan amarah yang tertahan. Arvino dan Amira sudah melakukan tindak kriminal yang mengancam nyawa adiknya. Faiz tidak akan membiarkan mereka bebas begitu saja setelah membuat adiknya trauma berat. "Memangnya mengapa kalau mereka bebas?" Faiz menatap tajam Istrinya. "Aku nggak akan segan-segan menjebloskan mereka lagi ke penjara," desisnya penuh janji. Ayu bangun dari duduknya menatapnya ragu-ragu. "Faiz..." Melihat Ayu yang sepertinya tengah menyembunyikan sesuatu membuatnya menarik sebelah alisnya menatap Ayu lekat nan tajam. "Ada apa?" Faiz tahu kalau apa yang akan Ayu sampaikan itu pasti hal yang tidak mengenakan. Karena ia pernah mengalaminya sekali, saat Ayu mengakui bahwa dirinya mantan kekasih Arvino. Faiz berharap bahwa Ayu tidak akan mengatakan hal yang benar-benar akan membuatnya meninggalkan Ayu. "Aku yang membebaskan mereka." Seketika tubuhnya membeku menatap Ayu dengan tatapan yang sulit diartikan. Hatinya terasa kebas mendengar pengakuan yang menyakiti hatinya. "Bagaimana bisa?" Ayu melangkah mendekat ke arahnya, refleks Faiz mundur beberapa langkah ke belakang. "Maaf. Aku merasa hutang budi dengan kebaikan mereka." Jemari Faiz mengepal hingga buku jarinya memutih, sementara rahangnya mengetat membuat gemelut giginya terdengar. "Faiz..." "Jangan mendekat!"                   Ayu menatapnya sedih, matanya mulai mengeluarkan air mata. "Faiz, aku hanya-" Faiz menendang vas yang ada di sana hingga menimbulkan bunyi nyaring barang jatuh. Iris mata Faiz memerah. "Sekali pengkhianat, tetap pengkhianat." "Iz-"                                            "Jangan mendekat, Sialan!" Keanu kecil terbangun terkejut mendengar bentakannya. Suasana semakin riuh. "Sekali kamu mendapatkan maafku, tapi kali ini," Faiz menarik napasnya dalam-dalam. "Aku nggak bisa memaafkan kamu apalagi harus tetap bertahan dalam rumah tangga kita ini. Malam ini, detik ini juga. Aku ceraikan kamu, Ayu." setelah mengatakan itu, Faiz berlalu dengan hati yang amat terluka. Saking sakitnya yang bertengger manis di dadanya, Faiz sampai harus menitikan air mata di sudut matanya. Mengapa nasibnya begitu malang? Ia terlalu buta dalam mencintai. Ayu bagaikan mawar yang ia cintai keindahannya, tanpa ia sadari ada duri yang siap menyakitinya kapan saja. Ia menyerah dalam mencintai, ia tak percaya lagi dengan yang namanya cinta. Cinta hanya memberikan keindahan sesaat dan memberikan jejak sakit yang berkepanjangan. Ia menyesal mencintai. Sangat menyesal.  .... Yudia tidak bisa berhenti tersenyum sendiri mengingat kejadian tadi di kamar mandi. Astaga... Dia dicium? Rasanya ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan dalam perutnya, padahal Yudia sangat sadar bahwa dia sering mendapat ciuman seperti itu, tetapi mengapa kali ini rasanya berbeda? Memikirkan itu pipi Yudia bersemu. Yudia berkali-kali mengentakkan kakinya mengurangi rasa yang membuncah tak jelas itu. Yudia berhenti tersenyum. Berkali-kali Yudia mengembuskan napasnya untuk mengusir rasa tidak karuan itu. Yudia menghela napas pelan mengambil satu batang rokok lalu menyalakan api dan mulai menghisapnya. Malam yang dingin. Suasana taman begitu hening. Pas sekali menghantarkan ketenangan untuk akalnya. "Bukannya saya sudah bilang kalau saya nggak suka melihat seorang wanita merokok. Apalagi di dalam rumah saya." Yudia terlonjak kaget seketika membuang rokok yang masih menyala. Asap keluar dari hidung dan mulutnya. Untung saja dirinya tidak tersedak seperti tempo lalu. Yudia menoleh pada sumber suara. Terlihat jelas Faiz tengah berdiri bersedekap menatapnya tak suka. Yudia tersenyum lebar tanpa rasa bersalah. "Merokok nggak haram kok, Om," jawab Yudia setelah menatap kembali ke depannya. "Memang, tapi bisa merusak alam terutama merusak yang menghisapnya." Yudia menyengir lebar kembali menatap Faiz dengan tatapan jahilnya. "Kalau menghisap punya Om merusak tidak? Kayaknya nggak deh, malah nikmat. Iya kan, Om?" goda Yudia menaik-turunkan alisnya yang terbentuk rapi. "Jangan goda saya. Nggak akan terpancing," tukas Faiz tenang. Yudia melengos mencebikkan bibirnya ke bawah. "Nggak akan terpancing, tapi nyosor duluan," dumel Yudia sedikit keras. "Saya dengar." "Ya, ya. Telinga Om ada di mana-mana." Yudia kembali menoleh pada Faiz dengan mata memicing penuh curiga. "Saya juga jadi curiga kalau Om juga sering dengar kentut saya? Padahal kentut nggak didengar loh, Om. Tapi dirasai baunya." Yudia tahu bercandanya garing. Habis, dia kesal sendiri karena setiap mendumel pasti kedengaran. Kan tidak asyik. Dengan santainya, Yudia kembali menyalakan rokoknya mulai menghisapnya lagi. "Telinga saya cuman dua-" "Yang kiri dan kana," sela Yudia dengan menyanyikan lagu anak-anak itu. Yudia mendapatkan hiburan baru di sana. "Saya serius, Dia," geram Faiz tak membuat Yudia bergidik. "Saya juga serius, Om," balas Yudia memasang raut wajah serius. Namun sedetik kemudian Yudia terkekeh geli melihat ekspresi Faiz yang mendadak kaku. "Hidup jangan terlalu dibawa serius, Om. Kalau terlalu serius, kapan Om bisa menikmati hidup? Hidup cuman sekali, kan? Kalau hidup berkali-kali, saya mau deh sekali serius, sekali enggak. Biar adil," celoteh Yudia diakhir dengan senyum manisnya. "Kamu memang pecandu berat merokok, ya?" Yudia mengedik pelan. "Sekali-kali buat menghilangkan penat. Nggak masalah kan, Om?" Hening, Yudia mendesah pelan. Dia kembali berbicara dengan patung berjalan. Baiklah. Waktunya tidur... Yudia mematikan rokoknya yang baru habis setengah itu, kemudian berdiri hendak berlalu dari taman, tetapi tangan besar Faiz menahan pergelangan tangannya. Yudia melirik pergelangan tangannya beralih menatap Faiz. "Saya minta maaf atas perlakuan Keanu," ucap Faiz masih dengan nada bicara yang terdengar datar. Yudia menarik sebelah alisnya tersenyum tipis kemudian menuntun Faiz duduk di kursi santai yang tadi ia duduki, sedangkan dirinya duduk di kursi sebelahnya lagi. "Saya sama sekali nggak masalah, Om. Keanu juga melakukan itu semata-mata hanya ingin menarik perhatian, Om," tukas Yudia lembut. Yudia tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Baru satu minggu sudah berakibat buruk bagi dirinya. "Keanu memang sudah keterlaluan," ujarnya lagi tidak menggubris ucapan Yudia. Yudia mengedik menghela napasnya pelan. "Keanu masih anak-anak, Om. Dia belum bisa membedakan yang benar dan yang salah." Yudia menatap Faiz dari samping. "Menurut saya, Om. Uang bisa dicari, tapi kebahagiaan anak atau keluarga itu sulit itu diputar kembali." Ya. Yudia pernah mencoba menciptakan sebuah keluarga yang utuh dulu. Namun, itu hanya keinginan karena pada nyatanya semua kehendak ada di tangan orang yang lebih dewasa. Dulu, Yudia hanya seorang bocah kecil seperti Keanu yang mengharapkan perhatian kedua orangtuanya dan malah berakhir tragis karena tidak pernah didengar. Yudia tidak mau kalau sampai Keanu mengalami hal yang sama seperti dirinya. Kesepian. Netra cokelat terang Yudia mengikuti gerak-gerik Faiz yang berdiri seketika dan tanpa diduga menyampirkan jaket yang sedang dipakai olehnya. Yudia tercenung menatap Faiz bingung. Mengapa tiba-tiba memakaikan jaket? "Kamu cuman pakai kemeja tipis yang kelihatan jelas bra hitam kamu. Saya yakin kamu bakalan masuk angin kalau terus seperti itu," ungkap Faiz dengan tak acuh. Yudia tersadar dari lamunanya tersenyum tipis. "Saya terhura, Om. Eh salah. Saya terharu, Om. Secara, dari sekian banyak Pria yang saya temuin, cuman Om yang minta nutupin tubuh saya. Kalau Pria lain pasti minta saya telanjang, Om," celetuk Yudia dengan polosnya. Memang benar. Kemeja yang dia pakai bisa dibilang terlalu tebal bagi para p****************g di luaran sana. Dan perlakuan Faiz membuatnya merasa dihargai sebagai seorang wanita. Faiz tersenyum tipis dan senyuman itu membuat Yudia terpana. Baru pertama kali Yudia melihat Faiz tersenyum biasa, ya meskipun hanya sebuah senyum tipis. Karena biasanya Faiz hanya akan tersenyum miring atau seringai saja saat berhadapan dengannya. "Well, meski pun pengalaman kamu begitu banyak dengan p****************g di luar sana, tapi di sini saya tetap lebih berpengalaman dari kamu." "Om," panggil Yudia mengabaikan ucapan Faiz. "Ya?" "Jangan sering-sering senyum kayak gitu atau nanti saya sakit sendiri." Iya. Sakit sendiri karena bisa saja besok atau lusa dirinya jatuh cinta karena senyuman itu. Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Yang lalu juga cukup membuatnya merana.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD