Tatapan mereka saling bertaut. Faiz tak sekejap pun mengerjapkan matanya. Faiz semakin tenggelam dalam manik cokelat terang yang mampu membuat dirinya gelisah. "Bisa kamu menyingkir?" Nada bicara Faiz sangat datar, tatapannya pun sangat dingin. Seketika Yudia bangkit dari atas tubuhnya. Faiz berdiri menjulang tinggi di hadapan keduanya. Faiz bersedekap menatap penuh selidik pada puteranya.
"Apa yang kamu lakukan?"
Keanu terdiam menunduk segera membuang ulat bulu itu ke sembarang arah kemudian menatap Yudia sengit.
"Kean nggak suka sama teman sitter, Pa." Keanu sudah berusia 8 tahun dan ternyata kadar kejahilan Keanu bertambah. Melihat Keanu yang petakilan dan jahil seperti ini, Faiz merasa melihat dirinya sendiri sebelum semua hancur melenyapkan kepribadiannya yang sebenarnya. Bisa dikatakan Faiz lebih petakilan dari Keanu dulu, tetapi sekarang Faiz merasa asing dengan dirinya sendiri. Faiz menjadi pribadi yang tertutup setelah kejadian yang menimpanya.
Kejadian apa? Kejadian dimana dirinya dilukai untuk kedua kalinya. Pertama, pengakuan mantan istrinya yang amat ia cintai. Dan yang kedua, rasa tidak dihargai karena mantan istrinya begitu saja membebaskan Pria masalalunya tanpa sepengetahuan dirinya.
Hatinya terasa kebas. Rasa cinta lenyap seketika setelah mendapatkan kenyataan yang kedua. Padahal dia begitu mencintai mantan istrinya.
"Papa perduli sama kamu, Ke! Makanya Papa memberikan teman sama kamu supaya kamu nggak kesepian." nada bicara Faiz sedikit meninggi.
Iris mata Keanu memerah, air mata Keanu menggenang di pelupuk matanya. "Keanu nggak butuh teman! Keanu cuman mau Papa perhatian sama Keanu. Ada sama Keanu!" balas Keanu marah.
"Keanu!"
"Om!"
Tatapan tajamnya beralih pada Yudia yang membentaknya. Manik hijau gelap Faiz berkilat marah. "Masuk kamar," titah Faiz pada Keanu.
"Nggak mau."
"Keanu!"
"Ayo Keanu, aku antar ke kamar." Yudia menengahi menghampiri Keanu kemudian memeluk bahu Keanu. Keanu berontak menghempaskan tangan Yudia. Faiz geram melihat kelakuan Keanu.
"Keanu marah sama Papa! Keanu nggak suka tinggal sama Papa! Keanu benci Papa!" Faiz tercenung di tempatnya menatap nanar Keanu yang sudah berlari menuju kamarnya disusul debuman pintu yang terdengar nyaring. Tatapan mata Faiz meredup sendu. Hatinya terasa pedih mendengar ucapan kekesalan putranya. Setitik air mata keluar dari sudut matanya tanpa izin.
"Om,"
Faiz mengibaskan tangannya kemudian berbalik melangkah menuju ruang kerjanya meninggalkan Yudia sendiri. Sampai di ruang kerjanya, Faiz menyandarkan punggungnya lelah di kursi kerjanya. Faiz masih merasakan denyut sakit dalam dadanya. Mata Faiz terpejam. Hati dan akalnya bertentangan hebat. Faiz akui dirinya terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Dia berusaha mengalihkan dirinya agar tidak meratapi hidupnya yang entah mengapa jadi begini.
"Arvino mantan kekasihku."
Mata Faiz terpejam semakin kuat saat bayangan itu kembali hadir dalam pikirannya. Tangan Faiz terkepal kuat sampai buku jarinya memutih.
"Sial! Bagaimana bisa mereka bebas begitu saja?!"
"Aku yang membebaskan mereka."
Mata Faiz seketika terbuka tangannya melayang menghantam meja yang dilapisi kaca tebal. "Berengsek!" umpatnya kembali memukul kaca mejanya keras. "b*****t!" Faiz menghantamkan lagi tangannya ke meja kerja sampai kacanya retak. d**a Faiz bergemuruh hebat. Iris matanya memerah. Sialan! Yang menggoreskan lukanya saja sudah pergi, tapi lukanya masih saja berasa dan sangat membekas dalam hatinya.
Pintu ruang kerjanya terbuka tanpa ada ketukan atau permisi terlebih dahulu. Faiz menatap orang yang membuka pintu ruangannya tanpa permisi.
***
Yudia menganga melihat darah yang mengucur dari kepalan tangan Faiz. Yudia berjalan cepat ke arah Faiz, dia terus melangkah masuk ke dalam mengabaikan tatapan tajam Faiz yang siap menghunusnya. "Ya ampun... Ini darah banyak banget," Yudia menatap Faiz cemas. Yudia menarik tangan Faiz agar mengikutinya ke kamar mandi yang ada di ruang kerja Faiz. Yudia benar-benar khawatir. Untung saja jiwa keponya berontak menuntunnya agar mengintip di balik pintu ruang kerja Faiz. Yudia tahu, bahwa Faiz sedang bergelut dengan batinnya. Yudia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Faiz. Namun yang Yudia yakini adalah Faiz menyimpan sebuah luka yang teramat besar dalam lubuk hatinya. Yudia bisa melihat satu ruang hampa dibalik tatapan dinginnya. Yudia meringis saat membersihkan luka tangan Faiz. Dia mencabuti beberapa pecahan kaca yang masih menempel di tangan Faiz. Yudia menoleh masih mendapati Faiz dengan raut wajah datarnya seolah tak merasakan kesakitan sedikitpun.
"Ini pasti sakit," ucap Yudia pelan.
Meski sudah dibasuh dengan air, darah di tangan Faiz masih mengucur. Yudia mendesah pelan melepaskan tangan Faiz, kemudian beralih pada kotak P3K yang ada di dekat washtafel. "Om, kalau Om mau cerita boleh," ujarnya sembari tetap fokus membersihkan luka Faiz dengan alkhol sebelum ditetesi betadine. Yudia mendongak menatap Faiz yang berdiri di hadapannya. Yudia tersenyum tipis kembali mengobati luka Faiz. "Ya... Itu juga kalau Om mau cerita sih, tapi kalau Om nggak mau ya jangan," ucapnya lagi. Yudia merutuk dalam hati merasa seperti bicara dengan patung. "Om,"
"Bisa berhenti bicara?"
Yudia mendongak menggigit bibir bawahnya salah tingkah. "Maaf," lirih Yudia bingung sendiri.
"Sudah selesai?"
Yudia menggeleng kembali fokus pada luka Faiz. Sentuhan terakhir Yudia melilitkan perban untuk menutup luka itu. Entah dorongan darimana Yudia merunduk mengecup perban Faiz lamat. Senyum lebar terbit, Yudia menatap kembali Faiz. "Nanti besok kita ganti lagi perbannya. Pasti malam ini Om bakalan de-" Ucapan Yudia terhenti terkesiap saat Faiz mencium bibirnya tiba-tiba.