Suasana hening. Suara gemerisik dedaunan menjadi alunan pengisi kesunyian. Yudia menundukkan kepalanya dalam berusaha menahan air matanya. "Saya sempat depresi berat waktu itu. Saya nyaris mengakhiri hidup saya." Bagaimana pun Yudia berusaha mengeraskan hatinya agar tidak menangis, tetap saja hatinya selalu berdenyut sakit ketika sekelebat bayangan masalalu kembali hadir.
"Waktu saya mempertanyakan mengapa dia begitu tega menjual saya," ucapan Yudia tersendat karena rasa sesak dalam dadanya. Air mata Yudia menggenang dipelupuk mata. Yudia sedang menunjukkan sisi rapuh dan juga kelamnya tanpa dia sadari. "Jawabannya adalah anggap itu sebagai pembalasan jasa mereka yang sudah menghadirkan saya ke dunia ini. Padahal saya sama sekali nggak minta untuk dihadirkan di dunia yang menurut saya amat kejam ini." Yudia tersenyum kecut sendiri.
Yudia mendongak menahan genangan air mata. Yudia tersenyum pedih kemudian menatap Faiz yang ternyata belum melepaskan tatapannya. "Cita-cita saya dulu ingin menjadi seorang dokter, bukan menjadi seorang p*****r. Saya sama sekali nggak pernah membayangkan masa depan saya akan sesuram ini," isak Yudia tertahan.
Yudia tidak pernah menceritakan sisi gelapnya pada siapapun termasuk Siena. Yudia memendamnya dan menguburnya dalam lubuk tergelap di sudut hati dan ingatannya. Yudia hanya akan menunjukkan topeng palsunya pada setiap teman atau patnernya. Dia akan berubah menjadi liar hanya untuk menutupi kekecewaan yang mendalam akan masalalunya. Namun entah mengapa hari ini Yudia begitu saja menceritakan semuanya pada orang yang masih terbilang asing dalam hidupnya.
***
Faiz berdiri menatap tajam Keanu yang sedang bermain bersama Yudia di taman belakang. Faiz berdiri bersandar pada pembatas pintu arah dapur bersilang kaki dengan tangan yang melipat tangan di d**a. Faiz mengembuskan napas berat mengingat cerita wanita konyol itu yang ternyata sangat berat. Wanita yang sering menggodanya ternyata banyak menyimpan luka masalalu. Memang rupa tidak akan sama dengan dalamnya. Sempat terlintas pemikiran buruk tentang wanita itu.
Dugh
Faiz terkesiap saat hantaman bola tiba-tiba ke kepalanya, meringis pelan menahan denyut sakit di kepalanya. Faiz menggeleng mengerjap pelan menepis rasa pening. Sudah berdiri di hadapannya dua orang manusia yang tersenyum bersalah tampak ketakutan.
"Maaf Om Kul-"
Faiz menatap tajam Yudia seakan siap menghunus Yudia.
"Siapa yang lempar bola ini?" tanyanya menggeram rendah. Faiz melihat Yudia gelagapan, seringaian tercetak jelas di bibirnya. "Kamu yang lempar saya?" Faiz mengalihkan pandangannya pada Yudia.
"Bukan, Om," sanggahnya gugup.
Faiz melempar bola itu ke sembarang arah menghampiri keduanya. "Kean yang lempar, Pa," bela Keanu berdiri di depan Yudia.
Sebelah alis Faiz terangkat ke atas melihat aksi anaknya. Faiz tersenyum miring berusaha menahan senyum gelinya. Sejak kapan anaknya itu membela teman sitternya? "Oke. Kamu yang lempar?" tanya Faiz yang langsung diangguki Keanu. "Kalau begitu Papa hukum kamu bersihkan kamar dan kamar mandinya sekalian." Faiz melihat ekspresi anaknya yang menegang. "Bagaimana?"
Keanu mundur. "Kalau begitu Tante Dia yang bersalah," tuding Keanu dengan wajah tanpa dosanya.
"Hah?"
Faiz berdeham menahan tawanya supaya tidak meledak. Astaga... Benar-benar lucu. "Jadi?"
"Tante Dia yang lempar," unjuk Keanu enteng. Lihat, kelakuan ajaib puternya muncul tiba-tiba.
"Dia?"
Yudia gelagapan menggaruk kepalanya. "Em.. Bukan saya, Om." bola mata Yudia mengarah ke atas seperti tampak berpikir. "Tapi angin. Iya angin. Iya kan, Ke?" Yudia menggigit bibir bawahnya dan itu tidak luput dari perhatiannya.
Faiz mengulum senyum geli terlihat jelas sorot matanya yang berbinar geli. "Oke. Kalian berdua dihukum."
"Apa?!"
Mengedik pelan, Faiz berlalu begitu saja dengan tangan yang ia selipkan di saku celana santainya. Faiz merasa menemukan sosok yang berbeda. Apa mungkin karena rasa iba yang muncul akibat cerita semalam? Faiz menggeleng mendesah pelan menepis jauh-jauh pemikirannya.
***
"Ini gara-gara Tante sih yang lempar bola sembarangan. Jadinya kan dihukum Papa," gerutu Keanu memainkan kemoceng pada tubuh samping Yudia.
Yudia medesah pelan menatap Keanu sendu. "Kok kamu malah menyalahkan aku sih, Ke," balas Yudia tak terima.
Keanu mengedik membuang sembarang kemoceng yang tadi ia pegang. "Iya dong! Orang Tante yang nendang bolanya juga," tuding Keanu kemudian menyingkir duduk di kursi makan yang ada di sana dengan santainya.
"Idih.. Perasaan kamu yang lempar bolanya kencang hampir kena wajah cantik aku. Kan aku cuman mau menjaga apa yang ada," kilah Yudia tak terima. Bola tadi yang dilempar Keanu memang sangat kencang hampir mengenai wajahnya, tapi dengan tangkasnya Yudia menepisnya dan nahasnya malah mengenai Om kulkas itu.
Yudia memicingkan matanya curiga kemudian jari telunjuknya ditudingkan pada Keanu. "Jangan-jangan... Kamu sengaja ya celakain aku?"
Keanu mengedikkan bahunya tak acuh. "Memang," jawabnya menyengir lebar.
Yudia terperengah berdecak sebal berkacak pinggang. "Oh... Sengaja..." Yudia semakin mendekat ke arah Keanu. "Kamu berani sama aku?"
Keanu mengangguk kemudian berdiri dari duduknya. Lidahnya menjulur mengejek Yudia. "Siapa juga yang mau punya teman sitter, we!" Keanu mebelalakkan matanya mengejek Yudia kemudian berlari menghindari Yudia.
Yudia berdecak melempar sapu yang tadi ia pegang. Ia menggulung kaos lengan panjangnya sampai sikut kemudian dengan gesit mengejar Keanu.
"Awas kamu, Ke!"
Yudia mengejar Keanu yang terus berlari menghindarinya. Rumah itu hanya satu tingkat, tetapi luasnya lumayan bisa dipakai bermain bola, bulutangkis, volly, kasti secara bersamaan saking luasnya.
Dari dalam memang tampak sederhana, tapi pas di dalam luasnya mengalahkan satu halaman kampung. Berlebihan sekali, ya? Batin Yudia seketika meringis.
Keanu menghilang, Yudia berhenti berlari diam sejenak mengatur napas. Keringat mengucur deras, jantung Yudia terasa dipacu 2x lipat.
"Tante!"
Yudia menoleh terbelalak saat melihat Keanu membawa ulat bulu besar. Seketika Yudia bergidik mundur perlahan segera berbalik kemudian berlari berlawanan arah.
"Tante..."
Sial! Keanu mengerjainya memberikan ulat bulu itu. Yudia geli melihat ulat, apalagi kalau sampai ulat itu hinggap di tubuhnya.
"Keanu, buang jauh-jauh ulatnya!" seru Yudia berbalik menatap Keanu memelas.
Keanu mengedik nenyeringai jahil terus mendekatinya. Yudia menggeleng terus mundur perlahan, napasnya tersendat. Rasanya dia ingin pipis di celana saat Keanu semakin dekat membawa ulat itu padanya. "Keanu, please.." Yudia menatap Keanu memelas hampir putus asa. Kalau ulat di ranjang dia bisa mengatasinya, tapi kalau ulat bulu? Dia yang malah pingsan tiba-tiba.
Keanu bukannya berhenti malah tertawa terbahak-bahak sambil terus mendekatinya. Yudia putus asa, keringat dingin mengucur deras dari keningnya saat jaraknya dengan Keanu semakin dekat. "Ke..."
Tinggal beberapa langkah lagi, Keanu berjalan cepat ke arahnya. Dengan cepat Yudia segera berbalik hendak kabur dan...
Bugh
Brak
Tawa Keanu seketika terhenti, Yudia memejamkan matanya karena benar-benar takut. Dia terjatuh? Tapi mengapa terasa empuk di bawahnya ini?
Yudia merasakan deru napas hangat yang menerpa wajahnya. Dengan segera Yudia membuka mata, seketika tubuhnya membeku saat tatapan matanya terkunci pada tatapan mata tajam yang selalu sukses membuatnya bergidik.