Dua

789 Words
"Abang dari mana?" Langkah Faiz terhenti ditengah remang-remang cahaya ruang tamu. Faiz berbalik untuk melihat siapa yang duduk di sofa. Sial! Bagaimana bisa adiknya ada di sini? Dia akan dicecar pertanyaan karena pulang larut malam. Ini gara-gara wanita itu. "Kamu sejak kapan datang ke rumah?" Faiz memilih mengabaikan pertanyaan adiknya berjalan mendekati adiknya. "Keanu telepon kamu?" Faiz menyalakan saklar lampu hingga menyala semua. Lalu mendudukkan dirinya di sebrang adiknya, Janira. Janira menarik sebelas alisnya menatap sebal padanya. "Abang nggak ingat Keanu? Ini sudah jam sebelas malam. Kok Abang tega banget ninggalin anak sendirian di rumah." Nah kan, belum apa-apa sudah kena semprot. Memang dirinya sangat misterius di luaran sana. Namun tetap saja dia akan keok saat berhadapan dengan Mamanya dan juga adik Perempuannya ini. "Abang ada urusan sebentar tadi," jawab Faiz sedikit enggan. Decakan kesal terdengar jelas. "Abang beneran tega. Gimana kalau ada penjahat? Gimana kalau nanti Keanu diculik? Ih Abang gitu banget sih sama anaknya." Telinga Faiz mulai berdenging mendengar omelan adiknya dengan nada yang lumayan bisa membangunkan seisi rumah. "Terus Keanu udah tidur sekarang?" "Heh! Mengalihkan pembicaraan, kan! Aku kan sudah bilang kalau Keanu biar tinggal sama aku saja atau sama Mama. Buktinya tinggal sama Abang malah bikin kita semua khawatir. Nikah lagi deh mending biar ada yang ngurusin." Faiz diam, adiknya sedang dalam mode kesal. Faiz memilih mengalah saja karena memang dia bersalah meninggalkan Keanu sendirian di rumah. Sudah beberapa kali Faiz menghadirkan baby sitter untuk mengasuh dan menemani Keanu selama dirinya bekerja. Namun nahasnya baby sitter selalu berakhir menyerah setelah menerima gaji pertamanya. Katanya mereka takluk dengan sifat 'ajaib' Keanu. Di rumah minimalis Faiz juga ada pelayan yang bisa menangani Keanu, tapi sayangnya sudah satu bulan cuti karena ada yang sakit dan meninggal dunia. Faiz jadi pusing sendiri, kelakuan Keanu memang sedikit menyulitkannya. Makanya Faiz mencari tahu siapa yang mendapatkan donor hati Ayu, siapa tahu mereka sehati dan Keanu bisa baik kembali. Tiga tahun yang lalu Faiz memutuskan untuk rujuk kembali dengan Ayu karena sifat 'ajaib' Keanu yang sedikit menyulitkannya. Dan saat dirinya akan mengatakan niatnya itu, Ayu malah mengalami kecelakaan dan fatalnya meninggal. Faiz jadi kalang kabut sendiri, apalagi saat Keanu meraung saat Ayu meninggal yang membuat Faiz jadi tidak tega. Astaga.. Rumit sekali hidupnya ini. "Aku bicara sama Abang," Janira menggeram kesal merasa diabaikan. "Iya, Abang juga dengar, Nira," sahut Faiz malas. "Mana Rumi sama si kembar? Mereka nggak ikut ke sini?" Faiz melirikkan matanya ke lain arah menghindari tatapan tajam Janira. "Mereka pulang, termasuk Keanu yang ikut sama mereka," jawab Janira lesu. "Abang beneran nggak mau nikah lagi?" Janira menatap lekat Faiz. "Aku tahu Abang kecewa dan terluka banget sama kejadian masalalu. Mbak Ayu juga sudah nggak ada, waktunya Abang buat move on, Bang." Faiz menatap Janira lekat kemudian mendesah lelah. "Abang belum bisa untuk saat ini, tapi Abang nggak tahu kedepannya. Lagian Abang juga sudah tua, Nir. Usia Abang sudah nggak layak buat memikirkan nikah lagi," tukas Faiz pelan. Janira menggeleng segera berdiri memeluknya. "Abang belum menemukan orang yang tepat saja. Please.. Pikirkan semua demi Keanu. Kasihan dia, Bang." Faiz menatap Janira yang memeluknya menyandarkan kepalanya di dadanya. Faiz hanya bisa tersenyum tipis membalas tatapan memelas Janira. Memang sudah ia pikirkan dan dia juga sekarang sedang menunggu keputusan wanita itu. *** "Kamu yakin, Di? Secara, kamu bakal off di dunia malam yang selama ini kita geluti. Coba kamu pikir lagi." Siena cukup terkejut dengan keputusan sahabatnya yang menerima perjanjian konyol menurutnya. Siena jadi bingung sendiri saat Yudia datang dan langsung saja menandatangani selembar kertas di atas materai 6000 itu. Yudia mengedik menghisap rokoknya berdiri santai di balkon kamarnya. "Mencoba hal yang baru nggak ada salahnya, kan, Sie? Lagipula, aku sudah mulai capek kerja telanjang mendesah-desah terus. Memang uang yang diterima nggak sedikit, tapi resikonya juga lebih nggak sedikit lagi," sahut Yudia sembari menatap langit sore yang mulai berubah warna mengantar Sang matahari yang mulai tenggelam. "Di, ini cuman satu tahun, loh," Siena kembali meyakinkan Yudia.          Yudia mengangguk cepat. "Iya. Dan aku berharap selama satu tahun itu bisa mengumpulkan uang yang banyak dan bisa membuka usaha yang halal buat masa depan aku nanti supaya nggak masuk dunia malam lagi." Yudia berbalik menumpukan tubuhnya pada pembatas balkon membiarkan rambut hitam legamnya tertiup angin bergoyang menutupi sebagian wajahnya. "Aku minta waktu satu minggu sama dia itu cuman mau balas sikap angkuhnya itu loh. Dia sok jual mahal bilang w************n," "Memang iya kita murahan, Di," sergah Siena yang sudah duduk di kursi santai yang ada di balkon. Yudia meringis pelan. "Memang iya sih, tapi ya nggak usah disebutkan juga kali," sanggah Yudia merengut. Siena tertawa. "Kamu pinter-pinter tapi belo'on," ujar Siena sembari geleng-geleng kepala. Yudia hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Siena. Memang benar, dia pintar tapi bodoh. Bodoh mau-maunya terjerumus dalam kubangan dosa ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD