Bima mengajakku ke sebuah kedai mie yang biasa kita datangi bersama saat masih sekolah menengah dahulu
Ia juga tidak lupa menu mie kesukaanku dan Ia langsung memesankan nya untukku
"Wahh nikmat sekali, bagiku disini adalah kedai mie terbaik di dunia" kataku sambil menyeruput mie di mangkokku
"Hei berhentilah, kau sudah menghabiskan 2 mangkok jumbo! apakah perut kecilmu itu masih muat? awas nanti meledak!" tanya Bima heran karena biasanya aku makan hanya porsi kecil
Porsi kecil memang tidak membuatku kenyang tapi biasanya aku memakan makanan lain yang bisa mengenyangkan perutku, aku tak cukup hanya menyicipi satu jenis makanan dalam sehari tapi mie ini berbeda, aku sudah lama rindu akan kenikmatan rasa mie yang sering aku makan waktu sekolah menengah bersama Bima
"Tenang saja ini porsi terakhirku" kataku masih dengan mengunyah mie didalam mulutku yang belum aku telan
Tiba-tiba Bima mengambil sebuah tissue dan mengelap bibirku yang bletpotan
"Makannya pelan pelan dong!" kata Bima seperti seorang ibu ibu yang sedang mengomel tapi dia berbeda, tatapan matanya lembut penuh perhatian hingga membuat kedua pipiku panas merona
"Eh iya." jawabku sambil mengusap bibirku dengan canggung
Kemudian Bima mengajakku pergi jalan kaki di pusat pertokoan dan aku melihat toko aksesoris lalu mengajak Bima masuk untuk melihat lihat
Aku membeli beberapa aksesoris yang bisa menghiasi rambutku
Sudah cukup hari ini kita jalan jalan dan akhirnya pulang, rasanya sangat menyenangkan dan membuat hatiku yang awalnya hancur menjadi damai kembali
sesaat aku bisa melupakan Yogi yang mengkhianatiku
Bima memegang kedua pundakku dan menuntunku untuk duduk didepan cermin, dia mengambil sisir dan mulai menyisiri rambutku yang mulai berantakan dan merapikannya dengan penuh hati hati
Dia mengambil sedikit rambutku yang atas kemudian menggenggamnya lalu mengikat rambutku dengan aksesoris yang dia beli sendiri
"Whoa imutnya, kau membelikannya untukku?" tanyaku senang
"Tidak, aku membelikannya untuk mama tapi aku rasa ini terlalu imut dan cocok untukmu" jawab Bima mengelak
Dari ekspresinya yang gugup, aku tahu dia memang sengaja memilih dan membeli ikat rambut imut ini untukku
Dan aku melirik bungkus ikat rambut dan ternyata ada dua pasang jadi aku mempunyai ide
"Bim, sini gantian kamu yang duduk!" kataku sambil memaksa Bima untuk duduk di depan cerminku, menyisir rambut rambut Bima dengan hati hati. Lalu mengikatkan aksesoris di rambut nya yang pirang
"Coba lihat! kau sangat imut dan lebih cantik mengalahkan wanita" kataku tertawa senang.
Tapi Bima menanggapinya dengan menopang dagunya dan cemberut, membuat perutku semakin geli dan tidak bisa menahan tawa lagi ( ha ha ha )
****
Aku lihat Bima duduk di taman belakang rumahku sambil membaca buku, aku coba mendekatinya dan segera meminta maaf karena selama ini aku tidak percaya ucapannya mengenai Yogi.
Aku ragu dan gugup untuk meminta maaf, rasa malu menyelimutiku.
"Bel, apa ada yang ingin kau katakan?" tanya Bima memecah keheningan, Ia menyadari bahwa aku ingin berkata sesuatu tetapi gugup.
Hhmm itu, aku ingin minta maaf soal sikapku selama ini kepadamu, saat kamu mengatakan Yogi seorang playboy tapi aku malah tidak mempercayai ucapanmu dan marah kepadamu" kataku sambil menundukkan kepalaku di samping Bima yang sedang duduk
"Dan mengenai kejadian tadi malam, aku tiba tiba menci..." lanjutku tapi kemudian bibirku ditahan oleh jari Bima sehingga aku tidak bisa menyelesaikan ucapanku
"Jangan katakan kalau kau menyesal,Bela!" ucapnya dengan lembut
aku membelalak tidak mengerti apa arti dari perkataannya, apa dia memaafkan kelakuanku ataukah ada hal lain?
kemudian dia duduk pas di depanku tanpa melepaskan jari tangannya yang menutupi bibirku
aku menundukkan kepala dengan wajah sedih, lalu Bima mulai melepaskan jari tangannya dan beralih mengelus pipiku
seketika aku kaget karena Bima mengecup pipiku lembut
"aku tidak menyesal melakukan itu denganmu (berciuman), walaupun kamu hanya menganggap aku seorang sahabat tapi aku yakin lambat laun cintamu kepadaku akan tumbuh" ucap Bima kepadaku dengan suaranya yang lembut hingga membuat hatiku dag dig dug tidak menentu
aku merasakan perasaan yang berbeda tetapi ini tidak boleh terjadi, aku akan semakin merasa bersalah terhadap Yogi sebelum mendengar penjelasannya terlebih dahulu
"terimakasih atas apa yang sudah kau lakukan tetapi maaf, jangan memperlakukanku seperti ini! aku tidak ingin menyakiti Yogi"
"aku yang seharusnya meminta maaf kepadamu, tidak masalah jika kau tetap kukuh dengan pendirianmu tapi kau harus ingat bahwa masih ada aku tempatmu untuk berlari" kata Bima sambil tersenyum penuh arti, berdiri di hadapanku yang sedang duduk dan mengelus rambutku layaknya seorang pemanja.
****
tak terasa hari sudah malam, aku menguap dan mataku sudah tidak tahan lagi ingin terlelap, sedangkan Bima masih asyik duduk dilantai dan bersender di kursi sofa sambil membaca buku
"Bela, apa kau sudah tidur?" sekilas suara itu terdengar agak samar tapi masih aku dengar jelas, mataku sudah mulai tertutup karena aku tidak tahan dengan kantuk yang menderaku
"He'em. " jawabku dengan suara serak
aku masih bisa merasakan sentuhan bibir Bima yang mengecup keningku dan mengelus rambut serta pipiku dengan jarinya yang lembut hingga pendanganku benar benar hilang
"selamat malam semoga mimpi indah dan aku di dalamnya"