triing triing triing alarm jam ku berbunyi
"ah aku ada kelas hari ini, males banget pengen lanjut tidur" kataku bergumam kesal
akupun beranjak dari tidurku kemudian siap siap untuk berangkat ke kampus
****
seperti biasa aku di kampus bersama dengan Sindi sahabatku, dia bertanya kepadaku mengenai kejadian di pesta ulang tahun Niken.
dan aku mulai menceritakannya sedetail mungkin kepada Sindi
"kau serius,Bel? dasar b******n tengik! awas saja jika dia berani muncul dihadapanku, langsung aku kibas tuh cowok" kata Sindi mengomel
"sudah Sin jangan rame! malu di lihat orang! lagian aku juga ngerasa bersalah karena mencium Bima didepannya tanpa memberi dia kesempatan untuk menjelaskan semuanya"
"kau gila ya,Bel? Yogi itu udah terkenal sebagai playboy, kamu aja yang Bucin, lagian nih ya Bima itu jauh lebih segalanya dari pada si playboy itu"
"tapi Sin, aku benar benar merasa bersalah, dia belum menghubugiku sejak kejadian malam itu" kataku masih mengeyel
"Aduhhh aku udah ga ngerti lagi deh sama jalan pikiranmu, sebaiknya kamu bertanya pada dirimu sendiri dan itu jauh lebih baik"
yaa perkataan Sindi benar, aku mungkin telah di butakan cinta sehingga tidak tahu bahwa cintanya bukan hanya untukku saja
****
hari ini langitnya mendung, aku berjalan kaki kearah caffe yang biasa aku datangi untuk minum seteguk kopi dan roti mentega kesukaanku, sepertinya akan turun hujan dan ini hari yang pas untuk menghangatkan tubuhku
"Sayang"
tiba tiba aku mendengar suara itu lagi datang dari arah belakangku, aku menoleh dan benar saja bahwa itu suara Yogi pria yang sudah beberapa hari menghilang tanpa memberi kabar sedikitpun kepadaku
"Sayang, kau mau kemana sendirian?" tanya Yogi tanpa merasa bersalah sedikitpun kepadaku
"aa..aku mau ke caffe seberang" kataku gugup, entah kenapa perasaan ini menjadi canggung hanya karena beberapa hari tidak bertemu dan juga perasaan bersalah
"aku ingin menjelaskan sesuatu mengenai kejadian malam itu" ucap Yogi tapi
tiba tiba datang seorang wanita yang pernah aku lihat sebelumnya, wanita di malam pesta ulang tahun Niken
"sayang, kita mampir ke caffe seberang yuk!" ucap wanita itu manja sambil memeluk lengan Yogi yang kokoh
seketika aku membelalak kaget, tidak percaya apa yang sedang aku lihat didepan mataku
"sayang?" ucapku mengulangi panggilan wanita itu dengan tidak percaya, "oh jadi ini yang ingin kamu jelaskan kepadaku? kamu ingin mengatakan kalau dia itu pacar baru mu?" kataku dengan nada tinggi karena aku sudah tidak bisa menahan emosiku lagi
"sayang, kenapa wanita ini marah marah kepadamu?" tanya wanita itu manja dengan tatapan jijik kepadaku
"kamu tidak usah ikut campur, lepaskan!" jawab Yogi kasar kemudian Yogi berusaha melepaskan pelukan wanita itu
emosiku semakin tak tertahankan, tanpa menunggu penjelasan dari Yogi aku berlari meninggalkannya menembus hujan yang sedang turun dengan derasnya, air mataku mentes tak tertahankan, perasaanku campur aduk, begitu sakit seperti teriris pisau yang sangat tajam dan membuat dadaku begitu sesak
"cih, lelaki b******n!"
aku menangis sekuat tenaga di tengah hujan yang sedang melanda, aku tidak peduli dengan tubuhku yang rentan ini
tiba tiba ada seseorang memelukku dari belakang dan menutup keningku dengan jemarinya agar hujan tidak menembus mataku yang sakit karena menangis
****
****
"sayang, maafkan aku! ijinkan aku menjelaskan semuanya kepadamu" ucap Yogi dengan suaranya yang lembut
aku melepaskan jemarinya yang menurupi wajahku dan menatapnya penuh emosi
"aku tidak ingin mendengar apapun itu dari mulutmu!" kataku memberontak, sepertinya saat ini aku tidak ingin mendengar apapun darinya karena itu hanya membuat hatiku semakin sakit
tanpa aba aba Yogi langsung memelukku "maaf sayang"
tapi segera aku mendorong tubuhnya kemudian berlari meninggalkannya, hatiku benar benar sakit
****
"huaachiii" bersin
sepertinya ini gara gara aku kehujanan tadi, tubuhku terlalu rapuh untuk bisa bermain di bawah hujan.
aku melihat ponselku dan aku melihat beberpa panggilan tak terjawab dari Bima, aku melihat ponselku dengan sedih karena orang yang aku harapkan tidak sekalipun menghubungiku
aku melamun sambil menundukkan kepalaku sejenak meratapi kesedihan, kemudian aku tersadar karena mendengar suara ketukan pintu "tok tok tok"
"hai Bel, kenapa kamu tidak menjawab panggilan telponku?" tanya Bima
"masuk dulu Bim!" aku mempersilahkan Bima untuk masuk kedalam rumahku yang sederhana "aku tadi pergi ke caffe dan lupa membawa ponselku"
"oh pantas aja kau tidak menjawab panggilanku"
"huaachiii" bersin, aku menggosok hidungku dengan jari telunjukku dan mendengus
"kau flu?" tanya Bima
aku hanya mengangguk meng iya kan "aku tadi kehujanan" jelasku sambil bersih lagi
lalu Bima langsung memegang keningku untuk mengetahui suhu tubuhku yang terasa panas
"suhu badanmu tinggi sekali, sebaiknya kau berbaring istirahat saja!" kata Bima kemudian merangkulku membawa tubuhku keatas ranjang, "bagaimana sih Bel, kamu tidak bisa menjaga tubuhmu dengan baik? sudah tahu tubuhmu rapuh tapi tetap saja kau berlari ditengah hujan" kata Bima mengomel tetapi penuh perhatian
aku hanya tersenyum melihatnya mengomeliku, dia benar benar pria yang baik
Bima keluar dari arah dapur membawa sebuah nampan, ada mangkok diatasnya berisi air hangat dan sapu tangan untuk mengompres kepalaku agar suhu tubuhku kembali stabil
Bima selalu merawatku seperti ini sejak kita masih kecil, saat aku tidak mendapatkan perhatian dari siapapun kecuali nenekku, Bima datang untuk merawat dan menjagaku, entah dari segerombolan teman teman yang membully ku atau saat aku sedang sakit, Bima selalu ada untukku bahkan sampai sekarangpun
tak terasa kelelahan menghampiriku dan kantuk mendera, aku terlelap di mimpi indahku.
Klonang klonang
aku terbangun kaget mendengar suara barang berjatuhan dari arah dapur, aku meraih sapu tangan yang sudah kering masih menempel di dahiku dan meletakannya kembali di nampan yang terletak di meja sebelah ranjangku
sepertinya hari sudah pagi dan aku tertidur semalam
aku pergi kearah suara itu datang dan benar saja aku melihat Bima sedang mengacak ngacak isi dapurku
"kamu sudah bangun Bel?" tanya Bima sambil mengaduk ngaduk sesuatu didalam panci, entah apa yang dimasaknya
"iya, kau sedang memasak apa?" tanyaku sambil mendekati Bima yang sedang berdiri disamping kompor gas
"oh aku lagi buat sup ayam yang bagus untuk tubuhmu agar tetap terhidrasi dan mengurangi flu mu" jawab Bima
"ahh kedengarannya bagus, tapi tunggu sebentar ya! aku akan mengambil celemek agar bajumu tidak kotor"
kemudian aku langsung mengambil sebuah celemek dan membanti Bima untuk memasangkannya
****
****
masakan sudah tersaji di depan meja makan, semangkuk sup hangat yang menggugah selera
aku menyeruput dan menelan sup dengan pelan karena aku merasa canggung kepada Bima yang sedang duduk dihadapanku dan tidak berhenti menatapku sambil tersenyum manis
"bagaimana sup nya?" tanya Bima dengan senyum anehnya itu yang membuatku jadi salah tingkah
"enak kok seperti biasanya, kamu memang jago masak" jawabku tanpa menatap wajah Bima karena aku begitu canggung
Bima kemudian menyentuh pipiku dengan lembut "sepetinya kau sudah baikan", seketika mataku membelalak dan aku malah langsung cegukan tidak berhenti
ahh aku benar benar kacau di buat nya
"apa kau tidak ada kelas hari ini?" tanyaku memecahkan suasana
"iya ada, sebaiknya kau segera siap siap! kita berangkat bersama ke kampus"
aku mengangguk sambil menghabiskan sup yang tersisa "ahh baiklah"
****
mobil pun melaju dan berhenti di depan kampus
saat aku turun dari dalam mobil tiba tiba Yogi datang dan memegang tanganku
"ikut aku sayang, aku ingin berbicara denganmu!" kata Yogi sambil menarikku agar mengikutinya
tapi aku rasa sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi karena semuanya sudah kelas dimataku
aku memberontak dan ingin Yogi melepaskan genggamannya tapi dia terlalu kuat "Lepaskan!"
tapi seketika langkah kita berhenti karena Bima memegang tanganku yang kosong dan menarikku kuat hingga aku jatuh ke pelukannya
"Lepaskan Bela, sebaiknya kau lekas pergi!" ucap Bima kasar dengan tatapan tajam kepada Yogi
****
KALAU KALIAN SUKA WAJIB LIKE DAN KOMEN YAA :*