tapi seketika langkah kita berhenti karena Bima memegang tanganku yang kosong dan menarikku kuat hingga aku jatuh ke pelukannya
"Lepaskan Bela, sebaiknya kau lekas pergi!" ucap Bima kasar dengan tatapan tajam kepada Yogi
"kau jangan ikut campur, ini tidak urusannya denganmu!" jawab Yogi yang tidak kalah kasarnya
mereka saling mencengkram dan beradu tinju, aku panik melihat mereka berdua saling melukai satu sama lain, aku mencoba melerai tetapi mereka berdua tidak menghiraukanku, tubuhku yang kecil ini tidak mumpuni untuk menahan kemarahan mereka berdua
akhirnya aku memutuskan memeluk Bima untuk menghadang tinjuan yang akan dilayangkan Yogi ke wajah Bima, aku memejamkan mata takut tinjuan itu datang kearahku
tentu itu akan sangat sakit dan akan menjadi kebiruan tapi aku tidak merasakan apa apa
aku memberanikan diri untuk membuka mata, ternyata Yogi menahan tinjinya, dia mengusap wajahnya kasar dan aku lihat wajahnya penuh kemarahan kemudian menatapku dengan mata berkaca kaca
aku melihat di pojok bibir Yogi terluka mengeluarkan darah, ingin sekali aku datang kepadanya untuk menghapus darah yang mengalir di bibirnya tapi saat aku melangkah tiba tiba tangan Bima menahanku untuk pergi
aku melihat Bima juga sama terlukanya "Bim, bibirmu berdarah sebaiknya kita obati lukamu" kataku kepada Bima, lalu aku menoleh lagi ke arah Yogi tapi Yogi sudah pergi begitu saja
lagi lagi aku merasa bersalah
****
****
aku pun melangkah pergi bersama Bima untuk ke klinik kampus
"Bim, kamu kenapa? kenapa bibirmu berdarah?" kata Niken melihat Bima penuh perhatian
"ah ini aku terjatuh tadi" jawab Bima bohong
"Bel, biar aku saja yang mengantar Bima!" kata Niken sambil meraih lengan Bima
"tapi Ken, aku.." sahut Bima ingin menolak tawaran Niken tapi aku memotong pembicaraannya
"ga apa apa Bim, sebaiknya kamu dengan Niken karena aku masih ada urusan", kataku sambil pergi meninggalkan mereka berdua
Niken adalah anak konglomerat begitu pun dengan Bima, mereka sangat cocok. sedangkan aku bahkan tidak akan pernah pantas untuk Bima, kegadisanku sudah hilang.
pikiran dan perasaan ini tidak benar dan tidak boleh terjadi, dilihat bagaimanapun kita tidak akan pernah bersama. cukup menjadi sahabat dan dekat dengan dirinya saja aku sudah jauh beruntung
*****
"PLAKK" suara tamparan
"kenapa kau menamparku?" kataku sambil memegang pipiku yang merah bekas tamparannya
"kau jangan pura pura bodoh, dasar wanita jalang! karena kau Yogi memutusiku" kata wanita itu yang aku tidak tahu namanya
lalu aku balik menamparnya sekuat tenaga hingga dia terjatuh ke tanah, orang orang sedang menyaksikan kami bersama membuat perasaanku semakin muak dengan semua yang terjadi
"jaga ucapanmu! aku tidak pernah mengatakan apapun kepada Yogi bahkan aku sudah menganggap kami berdua sudah putus, jika kau mau ambil saja dia karena aku sudah peduli lagi dengan si b******k itu" kataku dengan kesal
"hah apa? berani sekali kau memaki dia didepanku" kata wanita itu lalu berdiri dan hampir melayangkan tamparan ke pipiku lagi
tapi tangannya di tahan oleh tangan Yogi sehingga tamparannya tidak sampai mendarat di pipiku, lalu Yogi melepasakan tangannya dengan kasar
"kenapa kau menahanku sayang?" tanya wanita itu kepada Yogi dengan nada manja, sangat berbeda saat berbicara kepadaku nadanya begitu nyaring seperti petir dan hampir merobek gendang telingaku
"Sudah cukup Yun! kau jangan sekali kali menyentuh Bela karena dia berharga untukku"
"tapi .. tapi bagaimana denganku?"
"maaf Yun, sejak awal kita memang tidak mempunyai hubungan apapun" jawaban Yogi membuat perasaanku lega juga sekaligus membuatku bingung
kemudian Yogi menarik lenganku dengan paksa agar masuk kedalam mobilnya, tubuhku yang kecil tidak bisa memberontak darinya
"kau akan membawaku kemana?" tanyaku kepada Yogi yang masih terdiam sambil mengendalikan laju mobilnya
"ke apartemenku" jawabnya membuatku kaget
aku memang bukan hanya sekali dua kali datang ke apartemen Yogi tapi kali ini begitu aneh rasanya jika aku harus pergi kesana
****
Yogi membuka pintu apartemennya dan jari tangannya masih menempel di jari tanganku, kita masuk tanpa melepaskannya
"sekarang jelaskan kepadaku semuanya!" kataku kepada Yogi sambil menyilangkan lenganku
"dengar sayang, bukankah kamu yang seharusnya menjelaskan kepadaku tentang kejadian malam itu dengan Bima?" tanya Yogi sambil mendekatkan wajahnya kearahku
seketika aku gugup dan tak tahu menjelaskannya tapi aku tidak kehilangan akal
"lalu kau sendiri bagaimana? kau berciuman dan berduaan dengan wanita lain di dalam kamar" jawabku dengan senyum sinis
Yogi membelalak kaget, dia tidak tahu bahwa aku mengetahui bahwa mereka malam itu sedang asik berduaan diatas ranjang
"kau tahu darimana?" tanya Yogi memastikan
"tidak penting aku tahu darimana tapi yang jelas kau sudah mengkhianatiku" kataku kesal sambil mendorong tubuh Yogi agar menjauh, "kita akhiri saja hubungan kita!"
Yogi langsung menarik tubuhku dan mendekapku di pelukannya yang terasa begitu hangat
"tidak sayang, sungguh itu tidak seperti apa yang kamu fikirkan, aku jatuh cinta kepadamu dan tidak pernah sekalipun berfikir mengkhianati cintamu"
semakin aku berusaha melepaskan, dekapannya malah semakin erat, "tidak Yogi, lepaskan aku! aku sudah tidak percaya lagi terhadapmu"
"ku mohon sayang jangan mengambil keputusan seperti ini terhadapku" ucap Yogi masih memohon, "apa ini karena Bima?" tanya Yogi tiba tiba
entah apa yang dia pikirkan tetapi ini bukan karena Bima
"kalau iya memangnya kenapa?" jawabku bohong
tiba tiba Yogi melepaskan pelukannya dan menundukkan kepalanya, ekspresi sedih terlihat di kedua matanya, entah apa yang sudah aku lakukan tapi ini keputusan terbaik
setelah aku terlepas, aku langsung berlari menuju pintu dan keluar dari apartemen Yogi.
setelah aku mengucapkan kata kata itu, Yogi tidak lagi menahanku untuk pergi