aku melempar tubuhku ke atas kasurku yang empuk, aku menangis sejadi jadinya.
aku mencoba untuk meluapkan seluruh perasaan menyakitkan yang aku rasakan saat ini, jujur aku masih mencintainya dan masih menginginkannya
apa aku salah mengambil keputusan ini? hatiku terlalu sakit jika harus menjalani hari hari tanpa dirinya lagi, senyumnya, kehangatannya dan perhatiannya yang biasa aku terima akan hilang dalam sekejab mata
huaaaa T_T aku menangis sampai sesegukan
entah berapa helai tissue yang sudah aku gunakan dan berjejeran di lantai, tissue yang aku gunakan untuk mengusap air mata yang tak mau berhenti dan juga air yang kalur dari lubang hidung
****
ponselku berdering posisinya di meja sebelah ranjangku, karena hari ini aku begitu lelah karena menangis jadi aku meraihnya tanpa menggerakkan tubuhku yang mungil
"hallo" jawabku dengan suara serak nan malas
"hallo Bel, kamu bisa keluar sebentar?" tanya Bima diseberang
"kapan?"
"sekarang Bel, cepat keluar aku tunggu!" ucap Bima langsung mematikan panggilannya
apaan sih dia tiba tiba, mana mataku bengkak pula,
haduhhh aku harus bagaimana yaa?!!
Lalu aku mengambil jaket yang terdapat topi untuk menutupi mataku yang bengkak kemudian aku segera keluar untuk menemui Bima malam ini
aku berjalan keluar rumah dengan memakai topi jaketku sambil menundukkan kepala
"hai Bela" sapa Bima yang sedang berdiri dan bersandar di depan pintu mobilnya
"hai" jawabku sambil menundukkan kepala
aku langsung melangkahkan kakiku menuju pintu mobil agar aku bisa menghindari tatapan Bima segera tapi Bima mencegahku
aku terdiam dan masih menundukkan kepalaku, Bima yang curiga langsung melepaskan topi jaketku dan kedua tangannya memegangi pipiku agar wajahku menatapnya
seperti yang sudah ku duga, Bima kaget dan bertanya "kenapa matamu bengkak Bel? kamu habis menangis ya?" tanya Bima masih memegangi pipiku
aku hanya mengangguk karena kondisiku tidak bisa berbohong, Bima mengusap mataku yang bengkak dengan jarinya yang lembut serta membelai dan merapikan anak rambutku agar kembali dibelakang telinga
"apa Yogi menyakitimu?" tanya Bima dengan tatapan tajam
"tidak Bim, bukan seperti itu" aku menggelengkan kepalaku segera, "kita sudah putus" ucapku dengan mata berkaca kaca karena sakitnya masih terasa saat aku mengingatnya
Bima kemudian langsung memelukku yang hampir menangis lagi, menenangkan ku dalam pelukannya yang hangat
"aku tidak tahu kalau kau begitu sangat mencintainya, aku tidak ingin kamu merasa sedih hanya karena lelaki seperti dia" ucap Bima sambil mengelus punggungku dalam pelukannya, "mulai sekarang kamu hanya perlu bersedih untukku, bahagia untukku bahkan jika kamu menangis itu hanya karena aku"
entah kenapa kata kata Bima membuat jantungku ber degup kencang, entah ini rasa bahagia atau hanya ketenangan, rasanya begitu melegakan dan nyaman
****
Kita berhenti di sebuah tempat seperti sebuah bukit yang cukup sepi karena ini sudah malam,
aku menaiki anak tangga pelan, seperti tenagaku habis terkuras.
Bima jauh melangkah didepanku, aku berhenti sejenak karena sudah tidak sanggup.
Bima menoleh kearahku dan tersenyum melihatku yang kelelahan,
Bima mendekatiku dan menjongkokkan tubuhnya dihadapanku, aku tidak mengerti apa yang dia lakukan
"naiklah!" kata Bima sambil menepuk punggungnya
"tapi Bim, aku berat"
"tidak apa apa"
"tapi Bim.." kataku masih mengeyel
"sudah, naiklah! aku tidak tega melihatmu kelelahan seperti itu"
karena Bima memaksa jadi aku segera naik kepunggungnya yang kekar, digendong nya aku sampai keatas bukit, disana aku takjub karena bisa melihat pemandangan kota yang cantik dengan lampu menyala
tanpa aba aba Bima langsung memelukku dari belakang, aku ingin memberontak tetapi Bima mengatakan kepadaku untuk tetap diam sejenak,
lalu dia menutup wajahku dengan kedua tangannya
"apa yang kau lakukan?" tanyaku sambil memegang tangan Bima yang menutupi pandanganku
"aku akan memberimu kejutan", lalu Bima melanjutkan dengan menghitung "satu dua tiga" dalam hitungan ketiga Bima melepaskan tangannya dari pandanganku
"Doarr Doarr Doarr" bunyi kembang api yang menghiasi langit dan begitu cantik sampai aku takjub
Bima menyiapkan nya untukku, kembang api yang sangat indah
"Bela" kata Bima dengan lembut hingga membuatku menoleh kearahnya tanpa peduli lagi dengan kembang api yang menghiasi langit yang indah nan cantik
tangan Bima bergerak dan jemarinya menggapai jemariku, tatapan matanya begitu lembut kepadaku "* aku menyukaimu Bela, maukah kamu menjadi pacarku? *"
seketika aku membuka lebar mataku seolah tidak percaya, apakah dia sedang menyatakan cinta kepadaku? bibirku membeku tidak bisa menjawab apa apa
"jangan di jawab sekarang! aku tahu kamu tidak bisa menjawabku dan juga kamu baru putus dengan Yogi tapi kamu harus segera memikirkan jawaban untukku ya?" kata Bima dengan senyuman khasnya yang manis
aku hanya mengangguk lega karena Bima tidak menuntut jawabanku sekarang dan aku kembali menikmati kembang api yang masih menyala di udara
****
****
Kini kita sudah sampai didepan rumah ku, Bima mendahuluiku turun dari mobil untuk membukakan pintu untukku dari luar layaknya seorang tuan putri
"selamat malam" kata Bima sembari mengecup keningku lalu pergi
aku melambaikan tanganku dan tersenyum senang, hatiku dag dig dug dibuatnya, terasa begitu manis saat dia mengecup keningku.
aku memegang keningku tepat dimana bibirnya menempel di kening ku, aku tersipu malu sendiri
"sayang, kemana saja kau? aku daritadi menunggumu" tiba tiba aku mendengar suara Yogi dari arah belakang dan mendekatiku
"kau.. kenapa ada disini?" tanyaku gugup yang begitu jelas sehingga mengundang senyum sinis dibibir Yogi
"ah kau pasti kaget ya karena aku memergokimu dengan Bima" kata Yogi dengan suara lembut tapi tatapannya tajam seolah ingin menelanku hidup hidup
aku merasa takut dengan tatapannya yang tajam, langkahku mundur bersamaan dengan langkahnya saat mendekatiku tapi aku harus bisa melawannya
"itu bukan urusanmu, kau bukan siapa siapaku lagi" kataku tegas
tetapi dia malah membalasku dengan senyuman sinisnya dan mendekatkan wajahnya dekat dengan telingaku, "aku belum menyetujui kalau kita putus, bukankah harus disepakati oleh kedua pihak?"
tidak ku sangka Yogi menyimpulkan nya seperti ini, "tidak, tidak benar!" jawabku dengan nada tinggi
tanpa banyak bicara Yogi langsung membungkukkan badannya dan membawaku diatasnya menggunakan satu tangan, menggendong layaknya karung beras dan masuk kedalam mobilnya
Kita keluar dari sebuah lift dan langsung tertuju ke pintu apartemen Yogi, dia masih tidak melepaskan tanganku mencegah ku agar tidak lari
"sayang, aku tidak akan melepaskanmu" ucap Yogi sembari melepaskan kancing bajunya didepanku
aku melangkah mundur tapi dengan sigap dia menarik tubuhku hingga menempel begitu erat dengan tubuhnya
dia langsung melayangkan ciumannya ke bibirku, melumatku dengan kasar bersamaan dengan suasana hatinya yang panas akibat terbakar rasa cemburu