Begitu rapat selesai, Jesslyn melangkah cepat menuju pintu, berharap bisa berbaur dalam kerumunan dan lolos tanpa perhatian. Merapalian banyak doa dalam hatinya, dan berharap semua orang seolah tidak pernah melihat Jesslyn berada diantara mereka. Nafasnya sudah setengah panik, tapi sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, suara berat dari arah meja depan menghentikan langkahnya.
“Miss Jesslyn, tolong sebentar.” ucap Mike..
Sial!! Jesslyn menoleh pelan. Semua mata yang tersisa di ruangan kembali mengarah padanya. Ia tersenyum kaku, menelan rasa pahit di tenggorokan. Berjalan pelan ke arah Mike dengan ekspresi canggung.
“Ya, Pak?”
Mike mengangkat beberapa map tebal. “Besok kita ada audit internal. Dan karena Pak Christian memutuskan turun langsung, saya butuh Anda untuk mendampingi tim pusat. Divisi HR harus terlibat penuh.”
Jesslyn menegang. Kata-kata itu terdengar seperti hukuman. Dia sudah mati-matian pergi dari kota ke tempat ini untuk menjauhi satu orang. Dan sekarang dengan gampangnya Mike meminta Jesslyn untuk mendampingi Christian? Apa pria itu ingin Jesslyn mati muda mendekatkan dia dengan Christian? Rasa ingin menolak itu cukup besar, jika dipecat Jesslyn sudah tidak peduli lagi.
“Pak… bukannya biasanya bagian itu ditangani koordinator HR lokal?” kata Jesslyn mencari alasan.
Mike gelisah, dia menatap Jesslyn dengan penuh harap. “Benar. Tapi kali ini berbeda. Pak Christian sendiri yang minta nama Anda.”
Seisi ruang rapat yang masih tersisa mendadak berbisik-bisik lagi. Jesslyn merasa darahnya berdesir dingin. Ia menoleh, dan benar—Christian masih berdiri di depan, matanya menatap lurus ke arahnya, tanpa sedikit pun berusaha menyamarkan intensitasnya. Tidak ada senyum, aura yang cukup dingin dan menyebalkan Di Mata Jesslyn.
Keesokan harinya, Jesslyn sudah duduk di ruang kerja khusus yang disiapkan untuk audit. Dokumen-dokumen menumpuk di meja. Ia sibuk membolak-balik laporan, mencoba fokus pada angka, bukan pada sosok yang duduk hanya beberapa kursi darinya.
Christian tampak tenang, kemeja putihnya tergulung sampai siku. Tangannya mengetik cepat di laptop, sesekali membuka map, sesekali menandai dokumen.
Tapi setiap kali ia berbicara, suaranya seakan diarahkan hanya pada Jesslyn.
“Miss Jesslyn, data absensi karyawan tiga bulan terakhir, tolong pastikan tidak ada selisih.” ucap Christian, dengan pandangan yang fokus pada komputernya.
Jesslyn mengangkat wajah dengan ragu. “Sudah saya cek dua kali. Tidak ada yang aneh.”
Christian mencondongkan tubuh sedikit, senyum tipis muncul di bibirnya. “Kalau begitu cek tiga kali. Untuk saya.”
Jesslyn ingin membantah, tapi tatapan pria itu membuat lidahnya kelu. Ia akhirnya kembali menunduk, pura-pura sibuk.
***
Jam makan siang datang, namun Jesslyn masih menekuni laporan. Ia sengaja menunggu semua orang keluar dulu, termasuk orang yang ada di hadapannya. Tapi suara kursi bergeser di depannya membuatnya terlonjak kaget. Dia mendongak Christian masih di sana. Dan entah apa yang membuat pria itu menunggu untuk pergi. Padahal Jesslyn sudah berharap jika pria itu pergi dan tak akan kembali.
“Biasanya orang cari alasan keluar makan kalau nggak tahan. Kamu beda. Masih suka pura-pura kuat, ya?” cibir Christian.
“Ini kerjaan, saya profesional. Urusan pribadi jangan dicampur.” sindir Jesslyn.
Christian tertawa pendek, tapi bukan tawa menyenangkan—lebih seperti ejekan hangat yang justru bikin Jesslyn panas hati. Bisa-bisanya hal seperti itu terjadi disini. Mungkin kalau saja tidak ramai, sudah dipastikan tangan Jesslyn akan mendarat dengan sempurna di wajah Christian. Sayangnya, Jesslyn masih memikirkan banyak hal dan dia tidak mungkin melakukan hal itu untuk mendapatkan pencitraan yang bagus di depan banyak orang. Jangan sampai sikap judes, galaknya terbawa di kantor barunya. Minimal mereka tahu Jesslyn itu orang baik dan penuh perhatian.
“Profesional? Dari semua staf, kenapa kamu yang saya pilih, coba pikir. Saya bisa pakai siapa saja. Tapi saya mau lihat kamu di sini. Nggak ada tempat buat lari.”
Ya, itulah alasan Christian kenapa dia meminta Mike bahkan sampai mengancam Mike jika Jesslyn menolak maka karirnya berhenti sampai disini. Tapi untungnya Mike melakukan hal yang benar, dia memaksa Jesslyn untuk tetap bersanding dengan Christian apapun yang terjadi. Seolah lebih kayak apapun yang pria itu lakukan harus melibatkan Jesslyn demi perusahaan dan pribadi mereka. Dan lihatlah … sikap semua karyawan juga sedikit menunduk hormat pada Jesslyn, entah apa yang Christian umumkan untuk mereka Jesslyn rasa dia tidak perlu tahu banyak hal.
Jesslyn menutup map keras-keras, matanya menatap tajam. “Kalau tujuan Anda ke sini cuma buat main-main perasaan saya, saya bisa minta dipindahkan tugas.”
Christian mencondongkan tubuh, jarak mereka hanya dipisahkan meja. “Coba. Lihat apa saya akan izinkan.”
Hening sejenak. Jesslyn menahan napas, tangannya gemetar tapi ia tetap menegakkan dagu. Christian menatapnya lama, lalu tiba-tiba tersenyum tipis.
“Kerjain aja tugasnya. Malam ini kita review bareng. Saya tunggu di kantor sampai selesai.”
Tanpa memberi kesempatan untuk membalas, Christian berdiri dan berjalan keluar ruangan. Pintu tertutup pelan, meninggalkan Jesslyn dengan detak jantung yang tak terkendali.
Ia menutup wajah dengan kedua tangan. Kenapa harus dia yang datang? Kenapa harus dia yang justru bikin gue makin sulit?
Namun jauh di lubuk hatinya, ia tahu—tidak ada lagi ruang aman untuk bersembunyi. Sejauh apapun dirinya pergi, pria itu akan terus menemukannya dengan cepat. Termasuk kekuasaannya.
***
Jesslyn membuka ponselnya dan menelpon kedua temannya dengan marah. Siapa yang memberitahu Christian jika dia ada di kota ini. Sedangkan yang tahu Jesslyn pergi itu Sabian, tapi dia juga berpamitan kepada Rhea maupun Elina kalau dia harus pergi untuk beberapa waktu. Dan meminta mereka untuk tidak memberitahu Christian apapun tentang Jesslyn. Tapi sekarang pria itu malah dengan santainya berada ditempat dimana Jesslyn berada. Dan hal itu jelas membuat Jesslyn tidak suka.
“Tapi gue gak ngasih tau apapun Jess.” Kata Elina mengerutkan keningnya, dengan eyeliner tebal sebelah.
Jesslyn mendengus dia menatap Rhea yang sibuk di pantry dengan secangkir kopi di tangannya. Wanita itu cukup tenang, meskipun Rhea dan juga Christian masih saudara tapi Jesslyn yakin jika wanita itu tidak memberitahu apapun pada Christian. Karena tahu perjalanan cinta Jesslyn dan Christian yang tak berujung dan berjodoh.
“Mbak Rhea kali yang ngasih tau. Mereka kan masih satu keluarga.” Tambah Elina yang masih penasaran dengan hal itu.
“Enak aja Lo bilang El. Meskipun Arzachel saudara sama Tian. Gue juga ogah ikut urusan mereka. Suami gue aja gak gue kasih tau apalagi Tian. Apalagi dia tipe orang yang nekat, apapun akan dia dapatkan dengan mudah jika udah masuk daftar listnya.” Jawab Rhea yang tidak terima dengan tuduhan Elina.
“Kalau bukan Lo berdua terus siapa yang ngasih tau dia kalau gue ada disini?”
****