Bab-47

1238 Words
Matahari pagi menembus tirai tipis di ruang tamu kecil itu. Bau tanah basah dari halaman masih terbawa angin, sisa hujan semalam. Jesslyn membuka mata dengan kepala agak berat. Ia butuh beberapa detik untuk sadar—Christian masih ada di rumahnya. Dengan cepat ia bangkit dari sofa, merapikan rambutnya yang acak-acakan. “Gila… beneran ada dia semalam,” gumamnya pelan, wajahnya masih terasa panas kalau mengingat momen ketika listrik mati dan ia tanpa sadar menempel di d**a Christian sampai hujan reda. Dari arah dapur terdengar suara berisik. Jesslyn berjalan pelan, dan mendapati pemandangan yang bikin langkahnya berhenti. Christian, dengan kemeja putih yang lengan panjangnya digulung sampai siku, berdiri di depan kompor portable. Wajahnya serius, tangannya cekatan memotong sayur dan membalikkan telur goreng. Aroma harum tumisan memenuhi ruangan. Jesslyn diam di ambang pintu, matanya tak lepas dari punggung Christian. Bahunya lebar, tegap, dan entah kenapa… terlihat nyaman sekali untuk disandari. Bayangan konyol melintas begitu saja: dirinya memeluk pria itu dari belakang, kepala bersandar di bahu, dan dunia di luar seakan tidak penting lagi. Sial. Dia sampai harus menggelengkan kepala keras-keras buat mengusir imajinasi itu. “Lo mau diem aja di situ, atau bantuin gue bikin kopi?” suara Christian memecah lamunannya. Jesslyn tersentak. “Siapa juga yang mau bantuin lo,” sahutnya cepat, berjalan masuk ke dapur. “Gue cuma mau pastiin lo gak bakar rumah gue aja.” Christian menoleh sekilas, senyum miringnya muncul. “Santai, Chef Miller lagi beraksi. Gue gak akan bikin rumah lo gosong kok.” Jesslyn mendengus, tapi memilih duduk di kursi meja makan. Matanya diam-diam masih memperhatikan setiap gerak Christian. Tak lama kemudian, Christian meletakkan dua piring sarapan di meja. Telur mata sapi dengan tumisan sayur sederhana, tapi aromanya menggoda. Dia lalu duduk di seberang Jesslyn, bersedekap santai. “Lo bisa masak?” Jesslyn tak bisa menahan diri untuk bertanya. Christian mengangkat alis. “Tentu. Lo kira gue selama ini hidup dari apa? Cinta lo yang gak pernah lo kasih?” Jesslyn langsung tersedak ludahnya sendiri. “Ap—apa sih lo! Ngaco!” wajahnya memerah, buru-buru menunduk. Christian tertawa pelan, suaranya renyah. Ia lalu bersandar santai sambil menatap Jesslyn tanpa berkedip. “Eh, ngomong-ngomong, jangan pura-pura lupa ya.” Jesslyn mendelik. “Lupa apaan lagi?” Christian mencondongkan tubuh ke depan, nadanya penuh godaan. “Semalem lo nempel terus ke d**a gue. Kenceng banget, kayak koala takut jatuh. Mau gue sediain lagi sekarang?” Jesslyn spontan meraih sendok dan mengarahkannya ke Christian. “b*****t! Jangan ngomong sembarangan!” teriaknya, wajahnya panas sampai ke telinga. Christian malah tertawa makin keras, nyaris menunduk menahan perutnya. “Astaga, muka lo merah banget, Jes. Lucu parah.” “Gak lucu!” Jesslyn menggerutu, cepat-cepat menyendok nasi ke piring biar terlihat sibuk. Tapi tangannya sedikit bergetar, membuat suaranya terdengar makin jelas kalau ia memang malu. Christian memandangnya cukup lama, lalu senyumnya lembut. “Tapi serius… gue suka bagian itu.” Jesslyn berhenti mengunyah, menatapnya heran. “Suka apanya?” “Bagian ketika lo berhenti jaga jarak sama gue,” jawab Christian pelan. Tatapannya dalam, suaranya rendah tapi tegas. “Itu bikin gue yakin… kita emang gak bisa kabur dari satu sama lain.” Jesslyn tercekat. Jantungnya berdetak kencang, seolah suaranya sendiri bisa terdengar oleh Christian. Ia ingin menyangkal, ingin membalas dengan kata-kata pedas. Tapi entah kenapa, bibirnya terkunci rapat. Hanya hujan semalam yang tersisa dalam ingatan, dan d**a Christian yang hangat saat ia tak bisa melepaskan diri. *** Pagi itu udara masih segar, embun belum sepenuhnya hilang dari dedaunan. Jesslyn menarik napas panjang begitu keluar rumah, keranjang belanja rotan sudah siap di tangannya. Ia sebenarnya tidak menyangka Christian benar-benar mau ikut menemaninya ke pasar tradisional di kota kecil itu. “Lo yakin mau ikut? Pasar di sini rame banget, Tian. Nggak kayak supermarket,” ujar Jesslyn ragu, menoleh ke arah pria yang berdiri di sampingnya. Christian hanya menyelipkan tangan ke saku celana, wajahnya tenang seperti biasa. “Jess, gue udah bilang kan? Gue ke sini cuma buat lo. Jadi mau pasar, mau sawah, mau ke hutan sekalipun, gue tetep ikut.” Jesslyn terdiam, pipinya panas entah karena matahari pagi atau ucapan itu. Ia memilih tidak menanggapi, hanya melangkah lebih dulu ke arah pasar yang jaraknya tidak terlalu jauh. Begitu masuk ke area pasar, suasana riuh langsung menyambut. Pedagang berteriak menawarkan dagangan, ibu-ibu menawar harga, aroma bumbu dan sayur segar bercampur jadi satu. Jesslyn terbiasa dengan semua itu, tapi Christian jelas terlihat kaku. “Wah, kalau begini mah kerennya lo bawa bodyguard sekalian, bukan gue,” gumam Christian sambil mengangkat sebelah alis. Jesslyn terkekeh. “Kalau lo udah ikut, bodyguard nggak perlu lagi. Udah cukup bikin orang minggir kok.” Benar saja, beberapa orang sempat melirik pria dengan aura dingin itu, sebagian memilih memberi jalan. Jesslyn malah geli sendiri melihat Christian yang biasanya di kantor terlihat berwibawa, sekarang ikut berdesakan di lorong pasar. “Kasih sini, gue yang bawain keranjang,” kata Christian tiba-tiba, merebut keranjang dari tangan Jesslyn. “Loh, nggak usah—” “Udah. Gue bawa. Tangan lo kecil, takut jatuh ntar,” jawabnya singkat. Jesslyn mendengus, tapi dalam hati terasa hangat. Ia melanjutkan memilih sayur di lapak langganannya. “Bu, tomatnya sekilo berapa?” tanyanya ramah. “Sepuluh ribu, Mbak,” jawab si pedagang. Jesslyn langsung menawar. “Lima ribu bisa, Bu?” Christian terbelalak. “Lima ribu? Jess, itu sadis banget.” Si pedagang justru tertawa. “Aduh, Mbak ini pinter nawar. Ya udah deh, tujuh ribu aja.” Jesslyn tersenyum puas sambil mengambil tomat. Christian menggeleng tak percaya. “Baru tahu gue, ternyata lo punya bakat jadi mafia pasar.” “Daripada lo yang nggak bisa nawar,” balas Jesslyn cuek. Beberapa menit kemudian, mereka berpindah ke lapak ikan. Lorongnya sempit, orang-orang lalu lalang. Christian otomatis meraih lengan Jesslyn, menariknya mendekat agar tidak tersenggol. Gerakan itu begitu alami, tapi cukup membuat Jesslyn gugup. “Jalan nempel gue aja. Kalau nggak, bisa kesenggol ibu-ibu bawa belanjaan,” ucap Christian santai, seolah tak sadar bahwa genggamannya membuat jantung Jesslyn berdetak cepat. Jesslyn hanya mengangguk, pura-pura sibuk memilih ikan segar. Namun, saat tangannya tak sengaja bersentuhan dengan tangan Christian yang juga menunjuk ikan, ia buru-buru menarik diri. “Eh, iya… itu aja deh, Pak.” Christian melirik sekilas, senyumnya tipis. “Tenang aja, gue nggak gigit.” Mereka lanjut berbelanja, kali ini di lapak buah. Jesslyn menggoda Christian yang salah pilih pepaya hampir busuk. “Astaga, bos besar nggak bisa bedain buah bagus sama yang jelek. Pantesan hidup lo cuma isi kertas sama komputer.” Christian menyipitkan mata. “Hati-hati ngomong, atau gue bikin lo makan pepaya ini sampai habis.” Jesslyn tertawa lepas. “Kalo busuk mah bukan gue aja yang sakit perut, lo juga.” Suasana di antara mereka terasa ringan. Christian yang biasanya serius, sekarang malah sering dilempar komentar iseng, sementara Jesslyn merasa untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada kebersamaan yang tak membuatnya tertekan. Saat mereka keluar dari pasar, keranjang penuh di tangan Christian, Jesslyn sempat melirik diam-diam. Ada sesuatu di dadanya yang terasa berbeda. Seolah—ke mana pun ia pergi, pria itu akan selalu ada di sisinya. Christian menoleh cepat, menangkap tatapan itu. “Kenapa? Ada yang mau lo bilangin?” Jesslyn tersipu, buru-buru menunduk. “Nggak, cuma… makasih udah mau repot nemenin.” Christian berhenti sejenak, suaranya pelan tapi tegas, “Jess, gue nggak pernah anggap ini repot. Selama sama lo, semuanya jadi… berarti.” Hati Jesslyn bergetar. Untuk sesaat, riuh pasar serasa menghilang, menyisakan hanya mereka berdua. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD