Arkanza merasa sesak di dadaanya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum samar. Dion benar-benar telah membuat Eleena jatuh ke dalam lubang cintanya, dan dia tidak akan membiarkan saudarinya jatuh lebih dalam lagi. Arkanza melipat kedua tangannya di depan d**a, tubuhnya sedikit dimiringkan berhadapan dengan saudarinya. "Terus, lo nerima?" tanyanya sambil mengangkat sebelah alisnya. Eleena mengangguk disertai senyum yang semakin melebar. Tetapi, senyum itu seketika memudar saat melihat raut wajah saudaranya yang tak sebahagia dirinya. Eleena menepuk pundak saudaranya. Menatap lekat netra hitamnya yang tajam. "Gue boleh 'kan, kencan sama Dion?" tanyanya yang amat berharap jika Arkanza memberinya izin. Karena ayah dan bunda telah menyuruh Arkanza untuk menjaga dirinya. "Sebenernya,

